Di dalam ruangan seluas 500 meter persegi di D Gallerie, Jakarta Selatan, batik Pamekasan Madura hadir dengan wajah yang berbeda. Wastra tersebut disulap menjadi busana modern yang memenuhi ruang fashion exhibition bertajuk Nusanova 2.0: Sekar Jagat. Bagi Ivan Gunawan, inilah cara baru memperkenalkan karya-karyanya kepada publik.
Selama ini, koleksi Ivan Gunawan hampir selalu lahir di atas runway. Namun, ia menyadari bahwa fashion show memiliki cakupan yang terbatas. Penikmat mode harus mendapat undangan untuk bisa menyaksikan koleksi secara langsung, sementara masyarakat luas hanya melihatnya lewat layar.
Seminggu sebelum pintu pameran dibuka, desainer yang akrab disapa Igun itu mengaku diliputi rasa antusias sekaligus gugup. Maklum, ini merupakan fashion exhibition pertamanya setelah bertahun-tahun berkarya di industri mode Indonesia.
Ivan Gunawan mengatakan nama Nusanova merupakan gabungan dari dua kata. "Nusa" merujuk pada Nusantara, sementara "Nova," berasal dari bahasa Latin yang berarti baru atau modern. Nama itu menjadi pacuan untuk membawa wastra Indonesia naik ke tingkat yang lebih tinggi melalui sentuhan desain yang modern.
Pemilihan batik Pamekasan Madura bukanlah tanpa alasan. Selain melihat potensinya yang belum banyak dieksplorasi para desainer, Ivan Gunawan juga merasa memiliki kedekatan secara personal dengan karakter batik tersebut.
“Aku melihat batik Madura ini karakternya itu sama banget sama karakter aku: Berwarna, energi, bold,” ujar Ivan Gunawan.
Dari beragam motif batik Pamekasan, Sekar Jagat menjadi main character fashion exhibition ini. Menurut Ivan Gunawan, motif tersebut kuat dan namanya terdengar mewah.
Tak hanya berbekal warisan budaya, Ivan Gunawan juga menatap prediksi tren masa depan. Ia pengin koleksi batik yang dirancangnya tetap terlihat modern dan relevan dengan perkembangan tren.
“Jadi walaupun aku membuat dengan batik, tapi warnanya itu aku harus masukin ke dalam palette trend di 2027 (tahun mendatang),” jelas Ivan Gunawan
Menelusuri tiga ruangan fashion exhibitionSaat memasuki ruangan fashion exhibition, langkah pertama akan disambut dengan sudut kreatif di balik busana Ivan Gunawan. Bertajuk “Ruang Kerja Pak Slamet”, instalasi ini menjadi bentuk apresiasi untuk Pak Slamet, pattern maker yang telah mendampingi perjalanan kreatif Ivan Gunawan selama 15 tahun. Pengunjung dapat melihat berbagai pola busana, rancangan desain, hingga alat untuk menggambar sebuah koleksi.
Tak jauh dari sudut itu, ada instalasi pohon Nangger Kalpawreksa yang dibuat dari sisa material proses produksi busana Ivan Gunawan oleh seniman Intan Anggita Pratiwie. Pohon itu dipilih karena identik dengan wilayah Madura dan dianggap sakral oleh warga setempat.
Langkah pun berlanjut menuju potret lukisan Ivan Gunawan hasil karya Joshua Li Gondo. Menariknya, lukisan tersebut dibuat secara real time—bukan dari hasil jepretan foto.
Setelah melihat Lukisan tersebut, pengunjung akan memasuki ruangan baru yang lebih terang. Di situ berjejer koleksi Nusanova 2.0 Sekar Jagat hasil rancangan Ivan Gunawan. Pengujung tak hanya dapat melihat, tapi juga menyentuhnya.
Di antara sembilan busana dalam ruangan tersebut, salah satunya menggunakan bulu ostrich atau burung unta dari koleksi Ivan Gunawan. Angin sejuk dari pendingin udara membuat bulu-bulu tersebut menari secara lembut.
Kainnya merupakan motif sekar jagat yang dibuat dalam bentuk coat. Tak lupa, aksen payet menghiasi busana tersebut secara mewah.
Di ruang terakhir, ada kejutan dari jenama tas mewah Bagteria. Sebetulnya, merek ini telah lama berhenti produksi. Namun, Ivan Gunawan membangunkan merek tersebut dari tidurnya.
Nancy Go, selaku pendiri Bagteria mengaku bersyukur dibangunkan dan diajak kerja sama di koleksi Nusanova 2.0 Sekar Jagat. Dari kolaborasi itu lahir sebuah tas eksperimental dari tali rafia, rotan, hingga manik-manik berkilau.
“Saya terkesima dengan visi dan misi Nusanova 2.0, sehingga saya sangat bersyukur dihargai untuk ikut berkolaborasi,” ujar Nancy Go.
Selain ada koleksi tas Bagteria, ruangan itu juga diisi dengan koleksi busana Nusanova 2.0 Sekar Jagat yang tak kalah memukau dari sebelumnya. Perjalanan pun berakhir di ruangan bercahaya temaram ini.
Koleksi Nusanova 2.0 Sekar Jagat ini tak berakhir menjadi pajangan di fashion exhibition, tapi juga dijual dengan harga diatas Rp 30 juta ke atas. Ivan Gunawan pengin koleksi ini jatuh di tangan orang yang tepat.
"Aku punya prinsip untuk karya ini: If you love it you buy it. Jadi, bukan hanya untuk you like it," ujar Ivan Gunawan.





