AIDS, Tuberkulosis (TBC), dan malaria merupakan tiga penyakit infeksi menular yang masih menjadi perhatian dalam pengendalian penyakit di tingkat global maupun nasional. Di Kota Yogyakarta, ketiga penyakit yang dikenal dengan singkatan ATM tersebut juga menjadi fokus Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta melalui berbagai upaya pencegahan dan pengendalian.
Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Endang Sri Rahayu, mengatakan Indonesia menempati peringkat kedua dunia untuk kasus TBC setelah India. Di Kota Yogyakarta sendiri, sekitar 1.000 kasus baru TBC ditemukan setiap tahunnya.
"Kenapa ini seolah-olah memang dianggap, kita khusus mengangkat ATM, itu karena memang secara global itu menjadi permasalahan nasional dan internasional, tiga penyakit ini," kata Endang, Rabu (5/8).
Pemerintah Kota Yogyakarta menargetkan eliminasi AIDS, TBC, dan Malaria pada 2030 melalui sejumlah indikator pengendalian. Untuk HIV/AIDS, target eliminasi mencakup tidak adanya infeksi baru, tidak adanya kematian akibat HIV, serta tidak adanya stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV.
Sementara pada TBC dan Malaria, upaya diarahkan pada penurunan kasus, pencegahan penularan, serta pengendalian faktor risiko. Untuk mencapai target tersebut, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta menjalankan berbagai program pencegahan yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing penyakit.
Pada HIV/AIDS, pencegahan dilakukan melalui edukasi kepada masyarakat menggunakan pendekatan ABCDE serta perluasan akses pemeriksaan HIV di berbagai fasilitas kesehatan. Endang mengatakan edukasi tersebut disesuaikan dengan kelompok sasaran, mulai dari generasi muda, pasangan suami istri, hingga populasi yang memiliki risiko lebih tinggi.
"Kita ada slogan ABCDE untuk pencegahan HIV AIDS. Yang pertama abstain, jadi tidak melakukan hubungan dengan orang yang HIV, ya tidak seks bebas intinya. Kemudian yang B itu be faithful, setia pada pasangan. Kemudian C itu kondom, yang keempat no drug, tidak mengkonsumsi obat-obatan atau narkotika. Yang kelima itu pakai alat steril dan edukasi," jelas Endang.
Sementara pada pengendalian TBC, Endang menyebut Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta melakukan penemuan kasus, skrining terhadap keluarga pasien, serta mendorong perbaikan kondisi lingkungan tempat tinggal pasien. Dinas Kesehatan juga menggandeng lembaga swadaya masyarakat dan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk pemberian makanan tambahan serta bedah rumah bagi pasien TBC.
Adapun pengendalian Malaria dilakukan melalui kewaspadaan terhadap kasus impor dan pemantauan vektor penyakit. Epidemiolog kesehatan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta yang menangani program HIV dan Malaria, Anandi Iedha Retnani, mengatakan pemantauan tetap dilakukan meskipun belum ditemukan kasus Malaria lokal di Kota Yogyakarta.
"Pernah ditemukan jentik nyamuk Anopheles di wilayah Kota Yogyakarta. Itu kan yang perlu diwaspadai. Jadi memang selama ini alhamdulillah tidak ada kasus yang setempat, tapi itu tetap harus kita pantau," ujar Anandi.
Selain pencegahan spesifik pada masing-masing penyakit, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta juga menjalankan penjaringan aktif, seperti skrining keluarga pasien TBC, perluasan layanan tes HIV ke klinik, serta survei terhadap kelompok berisiko, termasuk anggota Brimob dan mahasiswa yang baru kembali dari daerah endemis Malaria.
Endang menyebut kebutuhan logistik pendukung program, seperti obat-obatan dan bahan reagen, hingga kini masih tercukupi melalui dukungan Kementerian Kesehatan melalui Dinas Kesehatan DIY.
Menjelang target eliminasi ATM pada 2030, Endang berharap fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, dan masyarakat dapat bersama-sama mendukung upaya pencegahan serta memanfaatkan layanan yang telah disediakan.





