Awal Mula Terbongkarnya Temuan 995 Senjata di Sekolah Versi Yayasan

liputan6.com
3 jam lalu
Cover Berita

Liputan6.com, Jakarta - Keluhan guru dan karyawan yang mengaku bertahun-tahun tak pernah menerima kenaikan gaji menjadi awal terbongkarnya dugaan penyimpangan di sebuah yayasan sekolah swasta di kawasan Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Penelusuran yang dilakukan pengurus baru tak hanya mengungkap dugaan penyalahgunaan dana yayasan, tetapi juga berujung pada penemuan 995 pucuk senjata, amunisi, hingga barang yang diduga narkotika di lingkungan sekolah.

Advertisement

BACA JUGA: Penjelasan eks Ketua Yayasan Soal 995 Senjata di Sekolah Jaksel

Kuasa hukum yayasan, Hermawanto, mengatakan keresahan para guru dan karyawan akhirnya sampai kepada Ketua Pembina Yayasan. Laporan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pemeriksaan terhadap dokumen pengelolaan yayasan.

"Selama ini sebenarnya ada banyak keluhan dari para guru, para karyawan karena gaji mereka tidak pernah naik. Bertahun-tahun gaji mereka tidak pernah naik. Relasi mereka juga selalu ketakutan. Kalau mereka dianggap tidak menghormati ketua, mereka langsung dapat peringatan satu, peringatan dua," kata Hermawanto kepada wartawan, Kamis (6/8/2026).

Menurut Hermawanto, hasil pemeriksaan menemukan adanya dugaan pelanggaran dalam pengelolaan yayasan yang kemudian diproses secara hukum.

"Keluhan itu menumpuk rupanya dari para guru juga para karyawan, sampailah itu pada Ketua Pembina. Ketua Pembina akhirnya mengambil langkah mempelajari, kemudian datang ke Kantor Bang Maqdir Ismail. Kami pelajari dokumen-dokumennya semua dan kami temukan ada pelanggaran di situ. Atas dasar itulah kami memproses hukum sekarang ini," ujarnya.

Ia menjelaskan, Ketua Yayasan berinisial IWD diberhentikan pada 18 April 2026 setelah ditemukan indikasi penyalahgunaan keuangan yayasan untuk kepentingan pribadi. Perkara tersebut kini masih bergulir dalam gugatan perdata di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

"Alasan dipecat itu adalah karena ditemukan adanya indikasi penyalahgunaan keuangan yayasan untuk kepentingan pribadi. Uang yayasan diambil kemudian dibeli untuk membeli tanah, ternyata tanah itu bergeser atas nama istrinya," katanya.

Setelah pergantian pengurus, yayasan mengaku tidak dapat mengakses sejumlah ruangan karena seluruh kunci dibawa oleh pengurus lama. Dengan pendampingan Polres Metro Jakarta Selatan, ruangan tersebut akhirnya dibuka pada 10-11 Juli 2026.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gubernur Sumut Bobby Nasution Ajak DPRD Awasi Langsung Pembangunan di Kepulauan Nias
• 23 jam lalurepublika.co.id
thumb
NasDem soal Usulan Pilkada Tanpa Wakil: Calon Sepaket karena Butuh Kolaborasi
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Polda Metro Jaya Siap Hadapi Praperadilan Jilid 4 Roy Suryo Soal Pencekalan
• 9 jam laluokezone.com
thumb
Harga Emas Sentuh Level Tertinggi 7 Pekan, Saham HRTA-ARCI Cs Lanjut Menguat
• 14 jam laluidxchannel.com
thumb
2 Pendaki Ditemukan Tewas di Gunung Piramid Bondowoso | SAPA MALAM
• 59 menit lalukompas.tv
Berhasil disimpan.