Oleh: Herman Kajang
Pukul 02.10 dini hari kami meninggalkan mukim yang hanya berjarak beberapa langkah dari Haram Imam Husain. Langit Karbala masih diselimuti gelap, tetapi jalan menuju haram telah hidup oleh langkah-langkah peziarah.
Tidak seramai dua hari sebelumnya. Arus manusia di jalan-jalan luar mulai berkurang. Mungkin sebagian telah menyelesaikan ziarahnya, sebagian lain memilih beristirahat setelah menempuh perjalanan panjang dengan berjalan kaki. Namun, kesan lengang itu sirna begitu memasuki pelataran haram.
Di dalamnya, manusia masih bertumpuk tanpa jeda. Seperti ombak yang tak pernah berhenti menghantam pantai, gelombang peziarah terus berdatangan dari segala penjuru dunia.
Pukul 03.00 saya berhasil memasuki haram. Masih ada waktu sebelum azan Subuh berkumandang pukul 03.49. Saya perlahan menyelinap mencari saf di bagian tengah. Saling bersenggolan tak terelakkan. Tak ada yang marah, tak ada yang saling menyalahkan.
Ribuan manusia yang berhimpitan itu justru saling memberi ruang dengan kesabaran. Barangkali beginilah cinta bekerja; ia membuat manusia rela mengalah demi orang lain yang bahkan tak dikenalnya.
Ketika azan Subuh menggema, seluruh hiruk pikuk itu seketika berubah menjadi keheningan yang agung. Ribuan manusia dari berbagai bangsa, bahasa, warna kulit, dan mazhab berdiri dalam satu saf, menghadap kiblat yang sama.
Di hadapan Imam Husain, segala perbedaan kehilangan maknanya. Yang tersisa hanyalah kesadaran bahwa setiap manusia sedang mencari jalan pulang kepada Tuhannya.
Usai salat berjemaah dan doa ziarah Imam Husain dan Fadel Abbas, kami melangkah meninggalkan haram menuju Sungai Furat. Matahari perlahan menyingsing di ufuk timur. Cahaya keemasannya jatuh di permukaan air yang tenang, menghadirkan pemandangan yang begitu damai. Di tengah perjalanan kami singgah menunaikan salat dua rakaat di Masjid Al-Qaim Imam Mahdi, lalu kembali menyusuri tepian air yang selama berabad-abad hidup dalam ingatan umat Islam.
Sungai Furat yang kami kunjungi hanyalah cabang-cabang kanal dari aliran utama Sungai Furat, sekitar 20-30 km dari luar Kota Karbala. Kanal-kanal itu dibangun untuk memenuhi kebutuhan air warga sekaligus memperindah wajah kota.
Kini ia menjadi ruang publik, tempat orang berjalan santai, anak-anak bermain, burung dan bebek berenang di permukaannya. Kehidupan mengalir tenang di atas air yang pernah menjadi simbol dahaga paling menyayat dalam sejarah.
Di Karbala, air tak pernah sekadar air. Ia adalah ingatan yang terus mengalir. Setiap riaknya membawa kisah yang tak pernah selesai diceritakan. Di tepian Furat itulah Sayyidina Abbas bin Ali, saudara Imam Husain sekaligus pembawa panji, menerobos kepungan pasukan demi setetes harapan bagi anak-anak dan keluarga Rasulullah yang berhari-hari menahan haus.
Ia berhasil mencapai air dan memenuhi kantongnya. Namun ketika kedua telapak tangannya menyentuh kesejukan Furat, ia memilih menahan dahaga. Bagaimana mungkin ia meminum air, sementara Husain dan anak-anak di kemah masih kehausan?
Dalam perjalanan kembali, kedua lengannya ditebas, kantong airnya dihujani anak panah, lalu ia gugur syahid sebelum setetes air pun sempat sampai kepada mereka yang menanti.
Sejak hari itu, Furat tidak lagi dikenang sebagai sungai yang menghidupi peradaban. Ia menjelma menjadi saksi bisu tentang kesetiaan yang melampaui naluri manusia, tentang cinta yang mengalahkan haus, bahkan mengalahkan ketakutan akan kematian.
Air terus mengalir seperti dahulu, tetapi sejarah mengajarkan bahwa yang membuat seseorang dikenang bukanlah air yang diminumnya, melainkan pengorbanan yang ia berikan untuk orang lain.
Di kota ini saya belajar, keabadian tidak lahir dari kemenangan di medan perang, tetapi dari kesetiaan menjaga amanah hingga napas terakhir. Sebab pengorbanan yang didasari cinta tidak pernah benar-benar mati; ia akan terus mengalir, sebagaimana Furat yang tak pernah berhenti mengalir melintasi zaman. (*)
Karbala, 6/7/2026
Penulis adalah pembaca FAJAR




