Harga Emas Berbalik Melemah usai Reli Tajam, Kenaikan Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi

idxchannel.com
10 jam lalu
Cover Berita

Harga emas dunia ditutup melemah tipis pada perdagangan Kamis (6/8/2026), setelah memangkas kenaikan yang sempat terjadi di awal sesi.

Harga Emas Berbalik Melemah usai Reli Tajam, Kenaikan Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Harga emas dunia ditutup melemah tipis pada perdagangan Kamis (6/8/2026), setelah memangkas kenaikan yang sempat terjadi di awal sesi.

Penguatan harga minyak akibat kekhawatiran terhadap potensi gangguan di Selat Hormuz memicu kembali kekhawatiran inflasi dan meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga.

Baca Juga:
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Semester II-2026 dari CGSI

Berdasarkan data pasar, harga emas spot turun 0,15 persen menjadi USD4.240,75 per troy ounce. Meski demikian, logam mulia tersebut sempat menyentuh level tertinggi sejak 18 Juni pada awal perdagangan.

Sebelumnya, emas melonjak lebih dari 4 persen pada Rabu (6/8/2026), mencatat kenaikan harian terbesar sejak Februari.

Baca Juga:
Wall Street Ditutup Melemah, Pasar Mulai Bersikap Hati-Hati usai Cetak Rekor

Sentimen pasar berubah setelah sebuah komite parlemen Iran meninjau rancangan undang-undang (RUU) awal yang melarang kapal-kapal Amerika Serikat, Israel, dan negara lain yang dianggap "bermusuhan" melintasi Selat Hormuz.

Laporan tersebut disampaikan kantor berita semi-resmi Fars, mengutip seorang anggota parlemen.

Baca Juga:
BI Gelar Festival Jateng Syariah: Wadah Kolaborasi Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah

Kabar itu langsung mendorong harga minyak melonjak lebih dari USD3 per barel.

Analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff, mengatakan, dikutip Reuters, rancangan undang-undang Iran tersebut berdampak pada pasar karena memicu kekhawatiran inflasi apabila harga minyak kembali menguat.

Menurutnya, kenaikan harga energi akan meningkatkan tekanan inflasi karena produsen cenderung meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen.

Kondisi tersebut dapat mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk mengendalikan inflasi.

Sementara itu, Senior Market Strategist StoneX, Bob Haberkorn, mengatakan arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) masih menjadi faktor utama yang menggerakkan harga emas.

Dia menilai data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan dirilis pada Jumat akan memengaruhi sikap bank sentral terhadap suku bunga.

Pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September sekitar 57 persen, sementara peluang kenaikan pada Desember mencapai 84 persen, berdasarkan CME FedWatch Tool.

Suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil, sehingga mengurangi daya tarik logam mulia tersebut bagi investor.

Haberkorn menambahkan, aliran dana yang sebelumnya berada di luar pasar mulai kembali masuk ke emas setelah sejumlah level teknikal berhasil ditembus pada perdagangan sebelumnya.

Meski sempat menguat tajam, harga emas masih berada sekitar 24 persen di bawah rekor tertinggi sepanjang masa di USD5.594,82 per troy ons yang tercapai pada akhir Januari. (Aldo Fernando)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rencanakan Liburan yang Menguntungkan dengan Layanan Paylater
• 21 jam laluidxchannel.com
thumb
Menteri Perhubungan Sebut Perpres Ojol Terbit Sebelum 17 Agustus
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Daftar Harga Tablet Agustus 2026 dari Berbagai Merek, Mana yang Paling Layak Dibeli Berdasarkan Fitur dan Performa?
• 12 jam laluviva.co.id
thumb
Baleg DPR Garap RUU Sistem Perbukuan, Soroti Fenomena Penerbit Gulung Tikar
• 6 jam laludetik.com
thumb
Nasabah Mekaar Studi Banding Gratis, PNM Buka Jalan Inovasi Usaha Ultra Mikro
• 22 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.