Riyadh: Arab Saudi memperingatkan meningkatnya ancaman keamanan di kawasan setelah serangan kelompok Houthi melukai 11 warga sipil di Provinsi Najran, wilayah selatan kerajaan tersebut.
Pemerintah Saudi mengklaim informasi intelijen menunjukkan adanya kemungkinan serangan terkoordinasi oleh kelompok Houthi di Yaman dan milisi Irak yang didukung Iran.
Menurut koalisi militer pimpinan Arab Saudi, korban luka terdiri atas tujuh warga Saudi, satu warga Yaman, dua warga Mesir, dan satu warga Pakistan. Seorang anak berusia empat tahun juga mengalami luka bakar tingkat dua.
Juru bicara koalisi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, mengecam serangan tersebut dan menuduh Houthi yang didukung Iran menyerang kawasan sipil secara membabi buta sehingga melanggar hukum humaniter internasional.
“Koalisi akan terus mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi warga sipil dan infrastruktur penting,” katanya, dikutip dari India Today, Jumat, 7 Agustus 2026.
Saudi Waspadai Serangan terhadap Infrastruktur Vital Insiden itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah seiring konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang memasuki bulan kelima.
Pejabat Saudi mengatakan informasi intelijen yang dibagikan mitra regional dan negara-negara Barat mengindikasikan Houthi dan milisi Irak yang didukung Iran, yang disebut beroperasi di bawah pengawasan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), kemungkinan tengah menyiapkan serangan terkoordinasi.
Target yang disebut berpotensi diserang meliputi fasilitas energi, bandara, pelabuhan, dan infrastruktur penting lainnya.
Seorang pejabat senior Saudi yang tidak disebutkan namanya mengatakan Riyadh, Washington, dan sejumlah pemerintah di kawasan telah mendeteksi tanda-tanda ancaman yang berpotensi mengganggu upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan dengan Iran.
Menurutnya, serangan tersebut diduga bertujuan menggagalkan proses mediasi yang disebut sedang bergerak "ke arah yang benar".
Hingga kini, Houthi maupun Iran belum memberikan tanggapan atas tuduhan tersebut. Ketegangan Regional Terus Meningkat Arab Saudi berada di posisi penting dalam dinamika keamanan kawasan. Di satu sisi, Riyadh menjadi tuan rumah bagi fasilitas militer Amerika Serikat dan merupakan sekutu utama Washington. Di sisi lain, pemerintah Saudi juga berupaya mempertahankan jalur dialog dengan Teheran.
Namun, serangan berulang Houthi dan gangguan terhadap jalur pelayaran di Laut Merah dinilai memperumit upaya tersebut.
Peringatan terbaru ini muncul ketika Arab Saudi berupaya memperkuat kerja sama pertahanan regional. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif tiba di Arab Saudi pada Kamis, sementara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dijadwalkan berkunjung pada Jumat.
Sumber regional kepada Reuters menyebut Arab Saudi, Turki, dan Pakistan akan menandatangani perjanjian kerja sama pertahanan, meski rincian kesepakatan tersebut belum diumumkan.
Pejabat Saudi juga menegaskan koordinasi militer dengan Amerika Serikat tetap berlangsung pada tingkat tinggi, termasuk kerja sama operasional dengan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM).
Kelompok Houthi sebelumnya mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap Bandara Najran pekan ini.
Peringatan Riyadh juga muncul setelah Arab Saudi, dengan dukungan Amerika Serikat, melancarkan serangan terhadap kelompok pro-Iran di Irak pada 29 Juli menyusul serangan drone yang menyasar fasilitas minyak Saudi. Milisi Irak kemudian bersumpah akan melakukan pembalasan, sehingga meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas.




