Nilai tukar rupiah menguat tipis 0,03% ke level 17.928 per dolar AS pada perdagangan pagi ini. Kurs rupiah loyo di tengah memanasnya kembali konflik di Timur Tengah hingga meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Melansir dari Bloomberg, rupiah membuka perdagangan di level Rp 17.930 per dolar AS melemah tipis 0,06% atau 10 poin. Pantauan Katadata hingga pukul 09.15 WIB rupiah kian menguat berada di level Rp 17.928 per dolar AS turun 0,03%.
Adapun pada perdagangan sebelumnya rupiah ditutup di level Rp 17.923 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah menguat 0,06% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.933 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, rupiah berpotensi melemah seiring kenaikan harga minyak dunia setelah muncul laporan bahwa Iran berencana melarang kapal-kapal Amerika Serikat dan Israel melintasi Selat Hormuz.
"Rupiah diperkirakan berpotensi melemah terhadap dolar AS seiring harga minyak yang rebound oleh memanasnya geopolitik di Timur Tengah menyusul laporan apabila Iran akan melarang kapal AS dan Israel melalui Selat Hormuz. Namun pelemahan diperkirakan terbatas, dengan investor menantikan data cadangan devisa Indonesia siang ini," ujar Lukman kepada Katadata.
Ia memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 17.850 hingga Rp 17.950 per dolar AS.
Senada, Senior Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana memperkirakan depresiasi rupiah masih berlanjut hingga menyentuh level Rp 17.950 per dolar AS.
Menurut Fikri, terdapat sejumlah faktor yang masih menopang penguatan dolar AS. Salah satunya adalah meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed setelah Ketua The Fed Kevin Warsh kembali menegaskan sikap hati-hati terhadap inflasi.
Selain itu, ketidakpastian mengenai prospek perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran juga masih membayangi pasar. Meski sempat muncul sinyal positif, Presiden AS Donald Trump disebut masih akan mencermati perkembangan situasi sebelum mengambil langkah lebih lanjut.
Di sisi lain, Fikri menilai adanya kesepakatan antara Iran dan Oman membuka peluang normalisasi aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Namun, pasar masih menunggu implementasi nyata dari kesepakatan tersebut sehingga dampak positifnya terhadap sentimen global masih terbatas.
Sentimen lain yang turut menjadi perhatian investor adalah potensi kuatnya data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan dirilis malam nanti. Jika data tersebut lebih baik dari perkiraan, peluang pengetatan kebijakan moneter The Fed diperkirakan semakin besar dan berpotensi memperkuat dolar AS.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga masih datang dari arus keluar modal asing. Fikri mencatat aksi jual bersih (net sell) investor asing di pasar saham Indonesia dalam dua hari terakhir masih membebani sentimen terhadap aset domestik.




