Ketika Pertumbuhan Ekonomi Tak Sepenuhnya Mengubah Nasib Pekerja

wartaekonomi.co.id
5 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,29% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal II-2026 menjadi sebuah ironi. Di satu sisi, laju ekonomi pada kuartal II berhasil tumbuh 5,12% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun di sisi lain, pertumbuhan tersebut tak sepenuhnya menghadirkan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Ekonom dari Universitas Andalas, Syafrudin Karimi, melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29% pada kuartal II-2026 belum sepenuhnya mencerminkan pertumbuhan berkualitas. Di atas kertas ekonomi memang berhasil mempertahankan pertumbuhan di atas 5% selama lima kuartal berturut-turut, tetapi manfaatnya belum tersebar secara kuat melalui pasar kerja. 

"Pertumbuhan perlu dinilai dari kemampuannya meningkatkan produktivitas, menciptakan pekerjaan formal, menaikkan upah riil, dan memperbaiki mobilitas ekonomi masyarakat," kata dia Jumat (7/6/2026).

Menurutnya penambahan pekerjaan belum sebanding dengan laju pertumbuhan ekonomi. Jumlah penduduk bekerja bertambah sekitar 522 ribu orang pada Februari–Mei 2026, sedangkan jumlah penganggur hanya berkurang sekitar 24 ribu orang menjadi 7,22 juta orang. 

Tingkat pengangguran terbuka pun hanya turun tipis menjadi 4,65%. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum mempunyai daya serap tenaga kerja yang cukup kuat.

Sementara dominasi pekerjaan informal justru menjadi tanda lemahnya kualitas pertumbuhan. Sebanyak 87,88 juta orang atau 59,30% pekerja Indonesia bekerja di sektor informal, sedangkan pekerjaan formal hanya mencakup sekitar 40,58%. Dengan elastisitas kesempatan kerja sekitar 0,2–0,3, setiap pertumbuhan ekonomi sebesar 1% hanya menghasilkan peningkatan kesempatan kerja yang terbatas. 

"Pemerintah perlu mengarahkan investasi dan insentif fiskal kepada manufaktur padat karya, UMKM, agroindustri, tekstil, furnitur, makanan-minuman, dan sektor lain yang mampu menciptakan pekerjaan formal secara luas," kata dia.

Di sisi lain, lenurunan kemiskinan belum disertai pemerataan hasil pertumbuhan yang memadai. Jumlah penduduk miskin pada Maret 2026 turun sekitar 430 ribu orang menjadi 22,93 juta orang atau 8,07% dari total penduduk. Pada saat yang sama, rasio gini meningkat menjadi 0,368. Data ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan berhasil mengurangi kemiskinan, tetapi distribusi manfaatnya belum menguat. 

"Banyak rumah tangga juga masih berada sedikit di atas garis kemiskinan sehingga mudah kembali miskin ketika menghadapi kenaikan harga pangan, kehilangan pekerjaan, atau biaya kesehatan," katanya.

Baca Juga: Tanpa Ada Event Besar, Airlangga Klaim Pertumbuhan Ekonomi 5,29% di Kuartal II Sudah Cukup Baik

Baca Juga: BPS Ungkap Jumlah Penduduk Miskin Berkurang 920 Ribu Orang dalam Setahun

Oleh karena itu, ia mendorong agar pemerintah menggeser akuntabilitas kebijakan dari penyerapan anggaran menuju pencapaian hasil. Industri pengolahan yang menyumbang sekitar 18,5% terhadap PDB hanya tumbuh 4,52%, lebih rendah daripada pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29%. Pada sisi lain, konsumsi pemerintah tumbuh 15,97%, yang menunjukkan besarnya ketergantungan pertumbuhan pada belanja negara. 

"Karena itu, keberhasilan APBN harus diukur berdasarkan tambahan pekerjaan formal, kenaikan produktivitas dan upah riil, penguatan pemasok domestik, serta penurunan kemiskinan dan ketimpangan—bukan hanya besarnya anggaran yang terserap," kata dia.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, justru mengklaim bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 cukup baik di tengah kondisi dinamika global yang terjadi.

Ia mengatakan, meski sejumlah lembaga memperkirakan pertumbuhan ekonomi global hanya tumbuh rata-rata 3%, Indonesia justru masih mampu tumbuh di kuartal III sebesar 5,29%.

"Dan seperti kita ketahui triwulan kedua tidak ada event besar seperti Lebaran karena ini sudah masuk di triwulan pertama. Jadi angka 5,29% ini angka yang cukup baik," kata Airlangga dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu (5/7/2026).

Airlangga menambahkan, sepanjang semester I-2026 ini ekonomi Indonesia pun mampu tumbuh sebesar 5,45%. Pertumbuhan ini menjadi menjadi capaian selama tujuh tahun berturut yang mampu berada di atas 5%.

"Sehingga dengan pertumbuhan 5,45% sepanjang satu semester ini juga di antara negara lain termasuk di ASEAN itu salah satu adalah top, salah satu yang top. Kita kemarin lihat Vietnam yang sedikit di atas kita di 8%," terang Airlangga.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dorong Ekonomi dan Olahraga, Bupati Luwu Garap Lapangan Opu Daeng Risaju Jadi Ruang Publik Modern
• 4 jam laluharianfajar
thumb
Timnas Rowing Indonesia Siapkan 17 Atlet untuk Asian Games 2026
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Harsiwi Achmad Ungkap Kunci Kesuksesan Piala Presiden 2026: Pecah Rekor dan Rating Tertinggi Sepanjang Sejarah
• 5 jam lalubola.com
thumb
Pebalap Thailand Jadi Tandem Baru Veda Ega Pratama di Moto3 Inggris 2026, Debut Dimulai Hari Ini
• 6 jam laluharianfajar
thumb
Kepala BGN Ungkap Temuan Data Ganda Penerima MBG, Bakal Lakukan Penyisiran
• 22 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.