Jenama asal China itu menjelaskan filosofi electric-first yang menjadi dasar pengembangan Dual Mode (DM) Technology, sekaligus memperkenalkan tiga platform teknologinya, yakni DM-i (Dual Mode Intelligent), DM-p (Dual Mode Powerful), dan DMO (Dual Mode Off-road).
Teknologi Dual Mode menggabungkan motor listrik dan mesin pembakaran internal melalui sistem manajemen energi yang bekerja secara otomatis. Dalam konsep ini, motor listrik menjadi sumber penggerak utama pada sebagian besar kondisi berkendara, sedangkan mesin hybrid berfungsi menghasilkan energi listrik ke baterai atau memberikan tambahan tenaga ketika dibutuhkan.
Sistem tersebut diklaim mampu menghadirkan pengalaman berkendara yang lebih halus, responsif, senyap, serta efisien dibandingkan kendaraan bermesin konvensional.
Karakter teknologi tersebut dirangkum melalui konsep Gesit, Andal, Senyap, dan Super Irit (GASS). Perusahaan menyebut teknologi Dual Mode telah berkembang dari generasi pertama pada 2008 hingga kini memasuki generasi kelima atau DM 5.0, dengan peningkatan pada efisiensi sistem hybrid, performa, pengelolaan energi, dan pengalaman berkendara. Baca Juga:
Suzuki Fronx SGX Hybrid Kuro, Ada Penambahan Fitur Baru
Penerapan filosofi electric-first telah diwujudkan melalui BYD M6 DM, model pertama yang menggunakan Dual Mode Technology di Indonesia. Kehadiran kendaraan tersebut disebut menjadi salah satu langkah pabrikan dalam memperkenalkan solusi mobilitas yang menggabungkan efisiensi, performa, dan fleksibilitas.
“Di Indonesia, kami sangat mengapresiasi antusiasme masyarakat terhadap teknologi ini, yang tercermin dari lebih dari 4.000 pemesanan BYD M6 DM sejak diperkenalkan. Respons tersebut menunjukkan masyarakat tidak hanya semakin terbuka terhadap solusi mobilitas yang lebih efisien, tetapi juga memiliki ketertarikan untuk memahami teknologi yang mendasarinya. Karena itu, kami ingin memperluas pemahaman mengenai filosofi electric-first, cara kerja Dual Mode Technology, serta karakter masing-masing platform, sehingga masyarakat dapat mengenal berbagai pendekatan elektrifikasi dan menentukan solusi mobilitas yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka," jelas Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, pada Rabu (6-8-2026) di GIIAS 2026.
BYD menjelaskan DM-i dikembangkan untuk pengguna yang mengutamakan efisiensi energi dan kenyamanan berkendara sehari-hari. Platform ini memadukan mesin hybrid 1.500 cc naturally aspirated, Electric Hybrid System (EHS), dan Blade Battery dalam satu sistem terintegrasi. Mesin tersebut memiliki efisiensi termal hingga 46,06 persen dan dapat menggunakan bahan bakar minimal RON 92.
Menurut rival GAC dan Changan ini, integrasi EHS mampu mengurangi bobot sistem sekitar 30 persen sehingga meningkatkan efisiensi penyaluran tenaga. Berdasarkan simulasi internal perusahaan, BYD M6 DM memiliki potensi konsumsi bahan bakar hingga 65 km/liter dalam simulasi perjalanan sekitar 150 kilometer dengan kondisi baterai dan tangki bahan bakar terisi penuh. Baca Juga:
Mazda CX-5 Menyapa dari GIIAS 2026, Harga Mulai Rp599 Juta
Sementara itu, DM-p dirancang bagi konsumen yang menginginkan performa lebih tinggi. Platform ini menggunakan konfigurasi All-Wheel Drive (AWD) melalui tambahan motor listrik di bagian belakang serta mesin hybrid 1.500 cc turbo yang menghasilkan tenaga maksimum 115 kW (156 PS) dan torsi 225 Nm. Efisiensi termalnya diklaim mencapai 45,3 persen.
Untuk kebutuhan berkendara di berbagai medan, BYD menghadirkan DMO (Dual Mode Off-road). Platform ini tetap mengandalkan motor listrik sebagai penggerak utama, dipadukan dengan mesin hybrid longitudinal 1.500 cc turbo, struktur Cell-to-Chassis (CTC), Hybrid Ladder Frame Body, serta berbagai mode berkendara seperti Snow, Sand, Mud, Mountain, Rock, hingga Wading Mode. Teknologi tersebut diterapkan pada model premium DENZA B5 dan DENZA B8.
Selain performa, BYD juga menyoroti efisiensi biaya kepemilikan. Berdasarkan simulasi internal, teknologi DM-i berpotensi menghemat biaya operasional hingga sekitar 60 persen dibanding kendaraan bermesin pembakaran internal pada segmen setara. Sementara hasil pengujian konsumsi bahan bakar oleh media nasional disebut menunjukkan efisiensi biaya operasional mencapai sekitar 66 persen. Perusahaan juga memperkirakan biaya perawatan selama tiga tahun pertama dapat berkurang sekitar 30 persen dibanding kendaraan konvensional.
“Seiring berkembangnya kendaraan energi baru, masyarakat kini dihadapkan pada berbagai pilihan teknologi yang masing-masing memiliki karakteristik dan keunggulannya sendiri. Karena itu, kami percaya inovasi harus berjalan beriringan dengan edukasi,” ujar Luther.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(UDA)





