JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Kepala BGN Trenggono mengunjungi SPPG Yayasan Kasih Iman Samuel Papua, penyuplai paket Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sebabkan ratusan orang keracunan di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura.
"Saya langsung melakukan kunjungan ke SPPG yang menangani ini. Memang banyak sekali kekurangan. Saya sudah tegur juga koordinator wilayah, kenapa pengawasan seperti ini masih terjadi," tutur Trenggono, dalam keterangan pers resmi, Jumat (7/8/2026).
Trenggono mengevaluasi secara langsung, dimulai dari penyediaan makanan, pelaksanaan standar operasional.
Namun, evaluasi menunjukkan banyak kekurangan sehingga BGN memutuskan untuk memberhentikan operasional sementara (suspend) SPPG tersebut.
Baca juga: Kepala BGN: Tidak Ada Pihak yang Janjikan Pembukaan SPPG di Luar Mekanisme Resmi
"Sementara kita suspend dulu, kita cek dan investigasi di mana letak kesalahannya, apakah pada SOP atau bahan bakunya. Ini menjadi evaluasi kita semua," ujar Trenggono.
Berdasarkan data hingga pukul 15.45 WIT, tercatat sebanyak 219 penerima manfaat telah memperoleh penanganan medis di berbagai fasilitas kesehatan.
Sebanyak 83 pasien dirawat di RSUD Yowari, 61 pasien di Puskesmas Depapre, 14 pasien di Puskesmas Sentani, dua pasien di Puskesmas Komba, satu pasien di Puskesmas Kampung Harapan, empat pasien di RS Dok II Jayapura, 24 pasien di RS Abepura, 21 pasien di RS Kementerian Kesehatan, dan 20 pasien di RS Dian Harapan.
Baca juga: BGN Temukan 6 Juta Data Ganda Penerima Makan Bergizi Gratis
Dari jumlah tersebut, delapan pasien telah diperbolehkan pulang karena kondisi kesehatannya membaik.
Sementara itu, tiga pasien dirujuk dari RSUD Yowari ke RS Kementerian Kesehatan untuk mendapatkan penanganan lanjutan sesuai dengan kebutuhan medis.
"Kami memastikan seluruh pasien mendapatkan penanganan medis yang diperlukan," tutur dia.
Trenggono menyampaikan, hasil penelusuran awal mengarah pada dugaan adanya penurunan kualitas pada salah satu menu MBG.
"Tempe bacem yang dimasak terlalu dini," tutur Trenggono.
Baca juga: 315 SPPG Mangkrak dan Belum Dibayar, Mitra Kontraktor Tagih Utang Rp 800 Miliar ke BGN
Namun, kata Trenggono, penyebab pasti kejadian masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium sehingga seluruh pihak diminta menunggu hasil investigasi resmi.
Hasil investigasi akan menjadi dasar penyempurnaan sistem pengawasan mutu, keamanan pangan, serta penerapan standar operasional pada seluruh tahapan program MBG.
"Di sisi lain, evaluasi menyeluruh terus dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang dan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis semakin baik serta memberikan manfaat yang aman bagi seluruh penerima," tegas dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




