Anda Harus Tahu, Peci Khas Bone Ini Dulunya Dipakai Prajurit

celebesmedia.id
5 jam lalu
Cover Berita

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Bentuknya sederhana, tetapi songkok recca menyimpan sejarah panjang masyarakat Bone, Sulawesi Selatan. Penutup kepala khas Bugis Bone ini ternyata tidak sejak awal digunakan sebagai pelengkap busana.

Pada masa lalu, songkok recca justru berfungsi sebagai penanda prajurit di medan perang.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan mencatat, kemunculan songkok recca berkaitan dengan peperangan antara Kerajaan Bone dan Tana Toraja pada 1683.

Saat itu, pasukan Bone menggunakan songkok tersebut sebagai tanda pembeda dari pasukan Tana Toraja.

Catatan sejarah juga menyebut songkok recca pada awalnya digunakan pasukan Kerajaan Bone pada masa pemerintahan Raja Bone ke-15, Arung Palakka.

Fungsinya sebagai identitas pasukan kemudian membuat penutup kepala tersebut memiliki tempat khusus dalam sejarah Bone.

Nama recca sendiri berkaitan dengan proses pembuatannya. Serat pelepah daun lontar dipukul-pukul atau direcca-recca hingga menghasilkan serat yang kemudian dianyam menjadi songkok.

Teknik tradisional tersebut diwariskan secara turun-temurun dan hingga kini masih menjadi bagian dari keterampilan masyarakat Bone.

Seiring waktu, fungsi songkok recca berubah. Dari identitas prajurit, penutup kepala ini berkembang menjadi simbol kebesaran dalam lingkungan kerajaan.

Pada masa pemerintahan Raja Bone ke-31, Andi Mappanyukki, songkok recca dikenal dengan hiasan pinggiran emas yang disebut pamiring pulaweng. Hiasan tersebut menjadi penanda strata sosial pemakainya.

Penggunaan songkok recca kemudian semakin luas. Jika dahulu erat dengan kalangan kerajaan dan bangsawan, kini siapa pun dapat mengenakannya.

Tradisi tersebut juga tetap bertahan melalui para perajin yang memproduksi songkok recca secara turun-temurun.

Salah satu sentra pembuatannya berada di Desa Paccing, Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone. Menurut Disbudpar Sulsel, masyarakat di kawasan tersebut telah lama menggantungkan penghidupan dari proses menganyam pelepah lontar menjadi songkok recca.

Warisan itu tidak berhenti sebagai produk kerajinan. Songkok recca telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2018.

Status tersebut memperkuat posisi songkok khas Bone sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang perlu terus dijaga.

Kini, songkok recca mudah ditemui dalam berbagai kesempatan, mulai dari acara adat hingga kegiatan resmi.

Bentuknya mungkin terlihat seperti peci pada umumnya, tetapi di balik anyaman serat lontar itu tersimpan perjalanan panjang—dari penanda pasukan Kerajaan Bone di medan perang hingga menjadi salah satu identitas budaya masyarakat Bone.

Songkok recca bukan sekadar penutup kepala. Ia adalah warisan yang membawa cerita tentang sejarah, keterampilan, dan identitas Bone dari satu generasi ke generasi berikutnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ini Live Streaming Piala AFF 2026: Singapura Vs Timnas Indonesia
• 5 jam lalubola.com
thumb
Dispendik Apresiasi Prestasi Paduan Suara SMPN 1 Surabaya Raih 4 Penghargaan di Tailan
• 5 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
BPK Ingatkan WTP Bukan Garis Akhir, Tapi Fondasi Perkuat Tata Kelola Pemerintahan
• 8 jam laluidxchannel.com
thumb
Menaker Yassierli Ajak Kampus Perkuat Kolaborasi dengan Industri untuk Atasi Skill Mismatch Lulusan
• 16 jam lalupantau.com
thumb
Polda Metro Soal Kondisi Agustus: Situasi Jakarta Aman dan Kondusif
• 2 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.