JAKARTA, KOMPAS.com - Ruang bawah tanah atau bunker di sekolah swasta, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan ternyata sudah diperiksa polisi, Rabu (5/8/2026) lalu.
Kuasa Hukum Yayasan, Hermawanto mengungkapkan bahwa bunker tersebut beirisi narkoba dan senjata api laras panjang.
"Nah, yang kemarin ditemukan di bunker itu adalah narkoba sama senjata laras," ungkap Hermawanto kepada wartawan di lokasi, Jumat (7/8/2026).
Baca juga: Kasus 995 Senpi di Sekolah Swasta Jaksel, Yayasan Bantah Ada Ekskul Menembak
Hermawanto pun menyebut guru-guru lain sama sekali tak mengetahui apapun keberadaan bunker karena akses ruangan hanya dimiliki oleh mantan kepala yayasan sekolah swasta berinisial IWD.
"Kami baru tahu sekarang ini ketika kami berhasil masuk ke dalam ruangan. (Kapan dibangun) kami tidak tahu," ucapnya.
Hermawanto pun mengakui sempat terjadi miskomunikasi terkait apakah aparat sudah selesai mengecek ruangan itu secara menyeluruh atau belum.
Baca juga: Ada Bunker di Sekolah Swasta Jaksel Tempat 995 Senpi Ditemukan, Diduga Dibikin Eks Ketua Yayasan
Ia pun meralat pernyataan sebelumnya perihal bunker tersebut belum bisa dimasuki oleh polisi.
"Bunker itu rupanya kemarin sudah sempat dimasuki oleh aparat kepolisian. Jadi bungker itu sudah dimasuki dan sudah dipastikan bahwa itu tidak ada barang apa-apa lagi sekarang," jelas Hermawanto.
Minta Sterilisasi RuanganSaat ini, pihak yayasan telah menyerahkan seluruh penanganan kepada kepolisian.
Namun, mereka meminta jajaran Polres Metro Jakarta Selatan untuk segera mensterilkan dua ruangan yang hingga kini masih dipasangi garis polisi.
Baca juga: Pengacara Bantah Eks Kepala Yayasan Sekolah Swasta Jaksel Bikin Bunker: Itu Gudang Dokumen
Dua ruangan itu adalah ruangan milik IWD dan sebuah gudang tempat ditemukannya ratusan senjata.
"Kami meminta kepada aparat untuk segera melakukan sterilisasi untuk memastikan bahwa seluruh barang-barang di sekolah sudah tidak ada lagi barang-barang yang berbahaya. Jawaban sementara dari penyidik tadi adalah mereka sedang mengkoordinasikan dengan Polda dan Mabes Polri," sambungnya.
Bantah Keterlibatan GuruHermawanto juga membantah keras klaim pihak IWD yang menyebut ribuan senjata itu disimpan sejak 2021 untuk rencana ekstrakurikuler menembak.
Pihak yayasan menegaskan, pengurus lama mungkin mengetahui hal tersebut, tetapi pihak sekolah dan guru-guru tidak pernah tahu.
"Kami sudah tanya kepada guru-guru yang sudah lama di sini. Yang sudah bekerja sejak tahun 2011, 2010 kan rata-rata ini guru-guru sudah lama. Semua menyatakan tidak pernah ada ekstrakurikuler menembak. Sama sekali tidak pernah ada," tegasnya.





