Penyanyi sekaligus penulis lagu Idgitaf menciptakan total lima lagu baru khusus untuk pertunjukan musikal Home Sweet Loan. Kelima lagu tersebut diberi judul Beli Sekarang, Jakarta Riuh, Satu Nafas Lagi, Amarah Seperti Apa, dan Zona Aman.
Idgitaf mengaku proses kreatifnya dalam menciptakan kelima lagu itu banyak dilakukan melalui diskusi dengan tim produksi. Alih-alih bekerja sendiri, Idgitaf justru terbuka menerima berbagai referensi agar lagu-lagu yang diciptakan bisa sesuai dengan kebutuhan cerita dalam pertunjukan.
“Aku sangat mendengarkan mereka sama referensi. Aku tuh selalu bilang, aku kan nggak bisa main musik. Jadi apa pun referensinya, kasih aja. Nadanya pasti keluar,” ujar Idgitaf di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat.
Meski terbuka terhadap masukan, pelantun Takut itu mengaku tetap memiliki idealisme, terutama dalam penulisan lirik. Baginya, lirik dan musik harus sama-sama kuat agar pesan yang ingin disampaikan bisa sampai kepada penonton.
“Kalau mereka nggak suka liriknya tapi suka lagunya sebenarnya nggak apa-apa juga. Tapi kan saya punya ego, liriknya harus begini. Jadi akhirnya kolaborasi lirik bagus dan musik bagus itu terjadi,” jelasnya.
Idgitaf juga mengungkapkan kebiasaannya saat menulis lagu. Berbeda dengan sebagian musisi yang memulai dari melodi, ia justru lebih dulu menentukan judul lagu.
“Aku tipe penulis lagu yang sering kali judul dulu, baru lagunya. Karena judul memberikan premis yang jelas ini tentang apa, jadi lebih catchy,” tuturnya.
Dari lima lagu yang ia ciptakan, Amarah Seperti Apa menjadi karya yang paling ia sukai. Menurutnya, kekuatan lagu tersebut terletak pada lirik yang dekat dengan pengalaman banyak orang.
“‘Amarah Seperti Apa’ itu jagoan aku. Aku yakin kalau sudah dengar, kalian pasti suka liriknya,” ungkap Idgitaf.
Selain itu, Idgitaf juga menaruh perhatian besar pada lagu Satu Nafas Lagi yang menjadi lagu penutup atau finale pertunjukan musikal Home Sweet Loan.
Lagu tersebut dibuat untuk menggambarkan perjalanan tokoh Kaluna yang hidup dalam berbagai tekanan. Awalnya, Idgitaf ingin membuat lagu penutup yang megah. Namun, setelah memahami karakter Kaluna, ia memilih pendekatan yang lebih emosional.
“Aku awalnya mau bikin yang grande banget. Tapi aku balik lagi, kita nyari apa di Kaluna? Apakah kemewahan? Tidak. Yang dicari adalah relief, pengakuan, validasi. Jadi ‘Satu Nafas Lagi’ itu seperti pesan bahwa kita masih bisa bertahan, mungkin satu napas lagi,” kata Idgitaf.





