HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Majelis Guru Besar Kedokteran Gigi Indonesia (MGBKGI) menggelar National Congress perdana pada Jumat, 7 Agustus 2020, di Unhas Hotel and Convention, Universitas Hasanuddin, Makassar. Acara ini bertujuan memperkuat jejaring akademik dan memperluas kolaborasi lintas perguruan tinggi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan pendidikan kedokteran gigi di Indonesia.
Kongres dengan tema “Academic Leadership in the Digital Era: Inovasi dan Kolaborasi Guru Besar Kedokteran Gigi Indonesia untuk Mewujudkan Riset Berdampak dan Transformasi Pendidikan Tinggi” ini menghimpun 60 guru besar dari 18 institusi pendidikan kedokteran gigi di seluruh Indonesia. Ketua Panitia, Prof. Rahmi Amtha, drg., MDS., Ph.D., Sp.P.M., Subsp.Noninf., menegaskan bahwa tema ini mencerminkan komitmen bersama untuk memperkuat kepemimpinan akademik di tengah percepatan transformasi digital.
“Komitmen ini tidak hanya memperkuat jejaring akademik, tetapi juga mendorong lahirnya riset yang memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan tinggi, dan kesehatan masyarakat,” jelas Prof. Rahmi, yang juga guru besar kedokteran gigi Universitas Trisakti, Jakarta.
Ketua MGBKGI, Prof. drg. Muhammad Ruslin, M.Kes., Ph.D., Sp.BMMf., Subsp.Ortognat.D., menjelaskan bahwa kongres dirancang dengan pendekatan scientific vacation agar para guru besar dapat berdiskusi dalam suasana yang lebih cair dan menyenangkan di luar rutinitas akademik yang padat. Menurutnya, target-target akademik seperti publikasi dan penelitian sering kali membatasi kesempatan untuk membangun komunikasi lintas institusi.
“Melalui forum ini, para peserta dapat berjejaring dan merumuskan gagasan riset yang lebih relevan terhadap kebutuhan masyarakat dan target pengembangan perguruan tinggi,” katanya saat ditemui di lokasi kongres.
Mendorong Kolaborasi, Menyingkirkan Kompetisi EksklusifPerspektif serupa disampaikan Ketua Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI), Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D., yang juga Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada. Ia mengajak seluruh fakultas kedokteran gigi di Indonesia untuk meninggalkan pola kompetisi eksklusif dan menggantinya dengan kerja sama yang lebih erat.
“Persaingan harus diubah menjadi kolaborasi. Tidak boleh ada fakultas kedokteran gigi berjalan sendiri. Standar mutu dan standar pendidikan harus tumbuh bersama dari Sabang sampai Merauke,” beber Prof. Suryono.
Peran Strategis Guru Besar dalam Pendidikan Tinggi dan InovasiSementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang diwakili oleh Prof. Dr. med. Tri Hanggono Achmad selaku Tenaga Ahli menegaskan bahwa guru besar memiliki peran penting sebagai penggerak ilmu pengetahuan sekaligus penjaga mutu pendidikan tinggi. Ia menyoroti berbagai tantangan yang masih dihadapi bidang kedokteran gigi dan menekankan tanggung jawab perguruan tinggi dalam menghasilkan inovasi serta memperkuat kolaborasi agar hasil penelitian dapat diterapkan secara lebih luas.
Peluncuran Ensiklopedia Guru Besar Kedokteran Gigi IndonesiaRangkaian kongres juga dimeriahkan dengan peluncuran Ensiklopedia Majelis Guru Besar Kedokteran Gigi Indonesia Edisi Pertama. Publikasi ini menghimpun rekam jejak pemikiran, karya akademik, dan kontribusi para guru besar kedokteran gigi Indonesia. Kehadiran ensiklopedia tersebut diharapkan dapat memperkaya dokumentasi perkembangan ilmu kedokteran gigi nasional sekaligus menyediakan rujukan penting bagi generasi akademisi berikutnya.





