Pusat Persemaian Sriwijaya Kemampo Berkapasitas 10 Juta Bibit Diresmikan untuk Indonesia ASRI

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

BANYUASIN, KOMPAS — Pemerintah memacu rehabilitasi hutan dan lahan kritis melalui kolaborasi lintas sektor. Langkah itu ditunjukkan dalam peresmian Pusat Persemaian Sriwijaya Kemampo di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Jumat (7/8/2026). Target produksi hingga 10 juta bibit per tahun dan menjadikannya motor penggerak Proyek Strategis Nasional.

"Pusat persemaian ini bukan sekadar tempat menyemai benih. Harapannya, jutaan bibit dari sini akan menyebar ke seluruh pelosok negeri untuk memulihkan hutan dan lahan kritis yang menghasilkan sumber air serta udara bersih. Hasil penghijauan juga diharapkan dapat menumbuhkan ekonomi kerakyatan," ucap Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni saat acara peresmian tersebut.

Raja Juli mengatakan, pendirian pusat persemaian itu bertujuan untuk menghijaukan kembali wilayah desa hingga perkotaan di seluruh Indonesia, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Dengan adanya pusat persemaian tersebut, Indonesia telah memiliki 9 pusat persemaian dengan kapasitas 5-10 juta bibit setiap lokasi per tahun dan 50 unit persemaian dengan kapasitas sekitar 500.000-1 juta bibit setiap unit per tahun.

Baca JugaPersemaian Berkapasitas 10 Juta Bibit Pohon Dibangun di Kalsel

Secara total, tingkat produksi semua fasilitas persemaian itu bisa mencapai 70 juta bibit setiap tahun. "Semua fasilitas itu untuk memastikan ketersediaan bibit unggul secara gratis. Masyarakat cukup membawa 1 KTP untuk mendapatkan 25 bibit. Ke depan, mekanisme pendistribusiannya akan dibuat lebih sederhana melalui aplikasi sehingga mudah diakses dan peruntukannya benar-benar tepat sasaran untuk penghijauan rumah, desa, dan perkotaan," ujar Raja Juli.

Pusat Persemaian Sriwijaya Kemampo berdiri di lahan seluas 6 hektar milik Kementerian Kehutanan di Kelurahan Kayu Ara Kuning, Kecamatan Banyuasin III, Banyuasin. Pembangunan fasilitas itu merupakan buah kolaborasi antara Kementerian Kehutanan, Kementerian Pekerjaan Umum, dan APP Group.

Direktur APP Group Soewarso menuturkan, pusat persemaian berkapasitas 5-10 juta bibit per tahun itu memproduksi beragam jenis bibit tanaman, mulai dari tanaman kayu atau kehutanan (sengon, mahoni, meranti, tembesu), buah-buahan (durian, alpukat, matoa, sirsak, jengkol, petai), hingga tanaman estetika (ketapang kencana, tabebuya). Ada pula bibit tanaman lokal Sumsel, seperti bambang lanang.

Dalam operasionalnya, pusat persemaian itu dilengkapi dengan teknologi modern yang ramah lingkungan. Fasilitas itu pun menggunakan teknologi fiber cell untuk mereduksi penggunaan plastik polibag. Selain itu, proses persemaian dilengkapi sistem penyiraman otomatis dan meja produksi beroda agar lebih efisien.

"Nantinya, bibit yang dihasilkan untuk menghijaukan hutan dan lahan kritis ke seluruh pelosok daerah di Sumsel maupun provinsi lainnya. Kami harap semua pihak terkait mengawal setiap bibit yang keluar agar betul-betul tertanam, tumbuh rindang, dan memberi manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat dan lingkungan," kata Soewarso.

Baca JugaPersemaian Mentawir di IKN Diresmikan, Setahun Bisa Produksi 15 Juta Bibit
Jangan sekadar seremoni

Kehadiran pusat penyemaian itu turut diharapkan mengubah paradigma penanaman pohon di Indonesia. Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menyebutkan, pemangku pimpinan daerah harus menjadikan penanaman pohon sebagai gerakan nyata, bukan lagi sekadar kegiatan seremonial semata. Apalagi, saat ini, generasi muda atau Gen Z yang mendominasi jumlah penduduk Indonesia memiliki kepedulian tinggi terhadap isu lingkungan ataupun perubahan iklim.

"Penanaman pohon merupakan langkah strategis untuk membangun ketahanan ekologis sekaligus sosial-ekonomi jangka panjang. Mewujudkannya memang tidak mudah. Oleh karena itu, butuh kolaborasi lintas sektor di pemerintahan pusat maupun daerah dan antara pemerintah, swasta, serta komunitas," tuturnya.

Di sisi lain, Bima Arya mengingatkan, penghijauan harus memperhatikan kebutuhan setiap daerah secara tepat. "Tujuannya, untuk memperkuat karakter daerah dan memberi manfaat estetika, seperti Surabaya dengan tanaman tabebuya, Bandung dengan trembesi, Batam dengan bougainville, dan Palembang dengan angsana," terangnya.

Gubernur Sumsel Herman Deru menyampaikan, pusat persemaian itu merupakan kado strategis. Pihaknya menyambut antusias fasilitas tersebut untuk merawat kelestarian alam yang selama ini menjadi tameng Sumsel dari bencana alam berskala besar.

Ketersediaan bibit-bibit itu pun akan memperkuat kearifan lokal masyarakat dalam menjaga alam. Selama ini, Sumsel punya sejarah panjang menjaga ekosistem lingkungan, salah satunya lewat kearifan lokal yang menetapkan zona "hutan larangan" di sejumlah daerah.

Semakin banyak bibit yang terdistribusi dan ditanam, itu akan membuat ekosistem lingkungan Sumsel semakin tangguh. "Nantinya, kami berkoordinasi dengan perangkat pemerintahan dari tingkat provinsi hingga desa untuk menyebarkan bibit-bibit tersebut. Mudah-mudahan, upaya ini akan menjadi semangat baru untuk wujudkan Sumsel maupun Indonesia yang jauh lebih asri," ujar Herman.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
ADCP Hadapi Permohonan PKPU, Digugat Kontraktor di Proyek Adhi City Sentul
• 18 jam laluidxchannel.com
thumb
Arab Saudi, Turki, dan Pakistan Akan Tandatangani Perjanjian Pertahanan Trilateral
• 7 jam laluokezone.com
thumb
WOM Finance (WOMF) Raup Laba Rp96,7 Miliar, Tumbuh 14,1 Persen hingga Juni 2026
• 7 jam laluidxchannel.com
thumb
Pakai Rompi Tahanan dan Diborgol, Febrie Tiba di Kejagung untuk Diperiksa Tim 9
• 11 jam laludetik.com
thumb
Antarktika Alami Suhu Ekstrem Minus 81 Derajat Celsius, Terdingin Sejak 2012
• 9 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.