JAKARTA, KOMPAS.com - Meja kayu berlapis kaca itu tampak seperti lapak kelontong biasa.
Beragam kebutuhan sehari-hari tergantung di bagian atasnya.
Di baliknya tersusun puluhan bungkus rokok dengan berbagai merek.
Harganya jauh lebih murah dibandingkan rokok yang umum dijual di minimarket. Rokok tersebut ditawarkan sekitar Rp 10.000 hingga Rp 15.000 per bungkus.
Pemandangan itu ditemui Kompas.com di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Cara pedagang menyimpan rokok tersebut tidak sepenuhnya terbuka. Rokok baru terlihat ketika pedagang melayani pembeli.
Temuan serupa dijumpai di kawasan Grogol, Jakarta Barat. Pedagang menyimpan rokok di balik meja yang ditutup plastik transparan.
Baca juga: BPS: Beras dan Rokok Masih Jadi Penyumbang Terbesar Kemiskinan
Ketika pembeli datang, penutup tersebut dibuka dan rokok diambil dari susunan yang berada di baliknya.
Di sana, harga rokok murah juga berada di kisaran Rp 10.000-Rp 15.000 per bungkus.
Selisihnya mencolok dengan sejumlah rokok legal yang dijual di toko modern.
Trisno (47), salah seorang pedagang di kawasan Tanah Abang, mengatakan pembeli rokok murah berasal dari berbagai kalangan.
Tidak hanya pekerja dan pedagang di sekitar lokasi, anak muda juga menjadi konsumennya.
Bahkan, kata dia, anak sekolah pernah datang membeli rokok.
"Macam-macam. Kebanyakan orang kerja, pedagang, sama anak muda juga ada," kata Trisno saat ditemui Kompas.com, Kamis (6/8/2026).
Ketika ditanya mengenai pembeli yang masih berstatus pelajar, Trisno mengatakan mereka memang sesekali datang.
Baca juga: Blak-blakan Bentoel soal Nasib Industri Rokok di Tengah Aturan Baru Pemerintah
Menurut dia, pembeli muda tersebut biasanya mencari rokok dengan harga paling rendah.
"Pernah ada anak muda beli. Kalau anak sekolah yang pakai seragam, kadang ada juga, tapi enggak setiap hari," ujar dia.
Harga menjadi salah satu daya tarik utama. Trisno menyebut rokok dijual sekitar Rp 15.000 per bungkus.
Harga tersebut terpaut jauh dari rokok legal yang menurutnya bisa mencapai sekitar Rp 50.000.
"Iya, kurang lebih begitu. Makanya orang banyak yang cari. Rasanya katanya mirip," kata dia.
Sementara rokok lain ditawarkan sekitar Rp 13.000-Rp 15.000.
Menurut Trisno, sebagian pembeli menyebut rasanya menyerupai rokok merek lain yang lebih mahal.
Dalam sehari, jumlah rokok yang terjual tidak selalu sama.
Saat kawasan ramai, penjualan bisa mencapai puluhan bungkus. Namun, ketika sepi, jumlahnya turun.
"Enggak tentu. Kalau ramai bisa puluhan bungkus. Kalau sepi ya lebih sedikit," ujar dia.
Baca juga: Bunker di Sekolah Swasta Jaksel Sudah Diperiksa Polisi, Berisi Senpi Laras Panjang dan Narkoba
Trisno mengaku mengetahui rokok yang dijualnya berbeda dengan produk legal di toko resmi.
Ia juga pernah menghadapi pemeriksaan petugas.
"Pernah ada pemeriksaan/razia. Kalau ada petugas ya kita tutup dulu," kata dia.
Meski demikian, setelah pemeriksaan, aktivitas penjualan kembali berlangsung.
Alasannya sederhana, masih ada pembeli yang mencari rokok dengan harga murah.
Rokok Disimpan di Balik PlastikHal serupa terjadi di Grogol. Rahman (bukan nama sebenarnya) (43), pedagang rokok murah, mengatakan konsumen paling banyak berasal dari kalangan dewasa dan pekerja di sekitar lokasi. Namun, anak muda juga datang membeli.
"Orang dewasa paling banyak. Yang kerja di sekitar sini juga ada. Anak muda juga ada," kata Rahman saat ditemui.
Ia bahkan mengaku pernah melayani pembeli yang masih mengenakan seragam sekolah.
"Pernah. Tapi saya enggak tahu sekolah mana. Kadang datang sendiri, kadang sama temannya," ujar dia.
Baca juga: Terungkap Identitas Pemilik 1 Senpi di Gudang Sekolah Swasta Jaksel, Ternyata Sudah Meninggal
Menurut Rahman, pembeli pelajar biasanya membeli satu bungkus.
Ada pula yang membeli dua bungkus. Harga kembali menjadi alasan utama.
Rokok yang di pasaran dapat dibeli dengan harga Rp 30.000-Rp 40.000 atau lebih, bisa didapatkan di lapaknya dengan harga Rp 10.000-Rp 15.000.
Rahman mengaku lapaknya masih menghasilkan omzet sekitar Rp 200.000 ketika sepi dan dapat mencapai Rp 300.000 atau lebih saat ramai.
Ia juga mengakui pernah diperiksa petugas. Ketika ada pemeriksaan, lapak biasanya ditutup dan pedagang mengikuti proses pemeriksaan.
"Biasanya ya ditutup. Kalau barang diperiksa ya kita ikuti," ujar dia.





