jpnn.com, JAKARTA - Pemerintah Indonesia menegaskan akan mempertahankan larangan ekspor bijih bauksit dan konsentrat tembaga ke luar negeri.
Langkah ini diambil demi memperkuat basis industri hilirisasi di dalam negeri secara berkelanjutan.
BACA JUGA: Hilirisasi hingga MBG, FEB UNJ & AFEBI Sodorkan Rekomendasi Ekonomi kepada Pemerintah
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa kebijakan ini sudah final untuk komoditas strategis tersebut.
"Untuk ke depan, saya pikir beberapa komoditas yang harus kami tetap pertahankan pelarangan ekspornya di antaranya bauksit, kemudian tembaga," ujar Bahlil seusai menghadiri peluncuran bukunya di Jakarta, Jumat.
BACA JUGA: Dari CPO ke Bioavtur, Industri Sawit Nasional Didorong Perluas Hilirisasi
Bahlil menyampaikan pelarangan ekspor tersebut bertujuan untuk menumbuhkan industri hilirisasi bauksit dan tembaga di dalam negeri.
Industri hilirisasi di dalam negeri itu, lanjut dia, menciptakan nilai tambah bagi Indonesia, termasuk menciptakan lapangan pekerjaan dan menyumbang pertumbuhan ekonomi.
BACA JUGA: Genjot Hilirisasi B50, PalmCo Ajak Industri Perkuat Ekosistem Petani Rakyat
“Memang tidak ada cara lain, harus ada industri di dalam negeri,” ujar Bahlil.
Bahlil mendorong program hilirisasi untuk menjadi tuan di negeri sendiri, sehingga terbentuk kedaulatan dalam pengelolaan sumber daya alam.
Melalui bukunya yang berjudul Tuan di Negeri Sendiri, Bahlil menyoroti bagaimana hilirisasi berlangsung di daerah, tetapi manfaatnya hanya dirasakan oleh pemerintah pusat dan investor.
Oleh karena itu, dalam buku Tuan di Negeri Sendiri, Bahlil menceritakan bagaimana kelembagaan itu penting bagi hilirisasi sebagaimana yang dilakukan oleh Korea Selatan, Jepang, dan China.
Lebih lanjut, ia juga menyampaikan keuntungan hilirisasi lebih banyak dirasakan oleh pihak luar karena investor dalam program hilirisasi banyak berasal dari luar negeri.
“Ini karena bank di Indonesia enggak mau membiayai itu (hilirisasi). Alhamdulillah karena Bapak Presiden mengerti tujuan hilirisasi, sekarang yang mengelola dan membiayai hilirisasi adalah Danantara,” kata Bahlil.
Menteri Investasi dan Hilirisasi dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani mengatakan realisasi investasi hilirisasi bauksit meningkat 193 persen menjadi Rp 40,1 triliun pada kuartal II 2026 dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar Rp 13,7 triliun.
Menurut Rosan, peningkatan investasi didorong oleh pembangunan sejumlah fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) bauksit oleh investor dalam negeri maupun luar negeri.
Nilai tersebut melampaui investasi hilirisasi nikel yang tercatat Rp 29,4 triliun, diikuti tembaga Rp 16,7 triliun, besi baja Rp 13,2 triliun, pasir silika Rp 4 triliun, serta komoditas lainnya seperti timah, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, aspal Buton, dan logam tanah jarang sebesar Rp 4,7 triliun.
Secara keseluruhan, realisasi investasi hilirisasi pada kuartal II 2026 mencapai Rp 152,7 triliun atau meningkat 5,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menyumbang 29,8 persen terhadap total realisasi investasi nasional, yang mencapai Rp 511,8 triliun.(antara/jpnn)
Redaktur & Reporter : Budianto Hutahaean




