Hampir lima dekade, SD Negeri Miangas menjadi rumah kedua bagi anak-anak di Pulau Miangas, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, meski bangunannya telah rusak dimakan usia. Kini, sekolah di pulau yang berbatasan dengan Filipina ini akhirnya mendapat kesempatan untuk direvitalisasi.
Sekolah di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) ini sama sekali tidak pernah mendapatkan bantuan revitalisasi yang besar baik dari pemerintah pusat maupun daerah. Tahun ini, sekolah yang berdiri sejak 5 Agustus 1976 ini mendapatkan bantuan revitalisasi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Sekolah Dasar Negeri Miangas menjadi salah satu penerima program revitalisasi satuan pendidikan tahun anggaran 2026 dengan nilai bantuan lebih sekitar Rp 1,9 miliar. Proses pembangunannya tengah berlangsung serta ditargetkan selesai pada akhir Agustus 2026.
Kepala SD Negeri Miangas, Melati Sulastri Mangole, bersyukur bantuan ini datang tepat di saat sekolah ini berusia 50 tahun. Dana revitalisasi sebesar itu akan dikerjakan secara swakelola oleh pihak sekolah dengan melibatkan masyarakat sekitar agar turut berdampak ekonomi.
"Dana tersebut seluruhnya digunakan untuk rehabilitasi ruang kelas, ruang guru, ruang kepala sekolah, ruang perpustakaan, rumah dinas guru, toilet, pembangunan ruang UKS (Unit Kesehatan Sekolah), dan penataan lingkungan sekolah,” kata Melati melalui siaran pers, Sabtu (8/8/2026).
Baginya, revitalisasi rumah dinas guru amat penting karena bangunan ini bukan sekadar memperbaiki tempat tinggal. Di pulau terluar seperti Miangas, fasilitas itu menjadi penopang penting bagi para guru yang bertugas sekaligus membantu mereka menekan beban biaya hidup.
"Dengan fasilitas yang lebih baik nantinya kegiatan belajar mengajar dapat lebih maksimal serta meningkatkan mutu pendidikan di pulau kami,” ucapnya.
Revitalisasi ini tidak hanya mengubah fisik sekolah kami, tetapi juga mengubah stigma para orangtua menjadi lebih percaya menyekolahkan anaknya di sini.
Tak hanya itu, SMP Negeri 2 Nanusa yang berjarak 500 meter di dekatnya juga menerima bantuan revitalisasi. Sejak berdiri pada 1987, sekolah tersebut belum pernah menjalani perbaikan gedung dalam skala besar dan kini mendapatkan dana revitalisasi lebih dari Rp 2,4 miliar untuk memperbaiki ruang administrasi, ruang keterampilan, laboratorium IPAS, dan rumah dinas guru.
"Seluruh guru dan 37 murid kami sangat bersyukur SMPN 2 Nanusa mendapatkan bantuan revitalisasi. Semoga pembangunan ini dapat selesai tepat waktu bulan ini dan menjadi hadiah untuk semua warga sekolah kami di hari kemerdekaan nanti," kata Yan Parenta, Kepala SMP Negeri 2 Nanusa.
Tak jauh dari situ, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Talaud, yang menjadi satu-satunya tempat bagi anak-anak di Pulau Miangas untuk menempuh pendidikan kejuruan, juga mendapatkan bantuan revitalisasi.
Sebelum direvitalisasi, sekolah yang berdiri sejak tahun 2004 ini mengalami kerusakan sedang, mulai dari toilet yang harus digunakan secara bergantian, atap ruang kelas yang bocor, jendela rusak, dinding retak, hingga instalasi listrik yang tidak layak.
Dana sebesar Rp 997 juta yang diterima untuk memperbaiki tiga ruang kelas Agribisnis Pengolahan Hasil Perikanan (APHPi), satu ruang laboratorium komputer, satu ruang usaha kesehatan sekolah (UKS), satu unit toilet, dan satu ruang bimbingan konseling.
" Revitalisasi ini tidak hanya mengubah fisik sekolah kami, tetapi juga mengubah stigma para orangtua menjadi lebih percaya menyekolahkan anaknya di sini. Dalam dua tahun terakhir kami mendapat jumlah murid yang masuk lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya," ucap Patriarti G. Urendeng, Kepala SMK Negeri 2 Talaud.
Selain merevitalisasi bangunan sekolah, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) membagikan 10 laptop atau komputer jinjing dan 1 papan interaktif digital untuk SMKN 2 Talaud, 10 laptop untuk SMPN 2 Nanusa, dan 10 laptop bagi SDN Miangas lengkap dengan perangkat starlink-nya, serta alat permainan edukatif pada TK Wui Batu.
Jesca Nyimo, murid kelas XI SMK Negeri 2 Talaud, menyatakan mereka sangat membutuhkan bantuan ini demi memotivasinya untuk belajar dan mewujudkan cita-citanya menjadi polisi wanita. “Ke depan, saya ingin membanggakan orangtua saya, belajar dengan tekun, berlatih, dan menjadi abdi negara di kepolisian,” tuturnya.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, mengatakan, hal ini merupakan bagian upaya menghadirkan layanan pendidikan bermutu bagi semua. "Dengan seluruh bantuan dan perangkat digitalisasi ini, kami berharap proses pembelajaran di Pulau Miangas akan meningkatkan mutu dan menghasilkan generasi Indonesia yang unggul," ungkapnya.
Mu’ti menegaskan, pemerintah sangat memprioritaskan program revitalisasi satuan pendidikan, terutama di daerah 3T dan daerah terdampak bencana alam. Pada 2025, sebanyak 16.167 satuan pendidikan sudah direvitalisasi dengan menggunakan anggaran sebesar Rp 16,9 triliun.
Pada tahun 2026, pemerintah menyiapkan alokasi anggaran dalam APBN sebesar Rp 14 triliun guna melanjutkan revitalisasi di 11.655 satuan pendidikan. Kemudian Presiden Prabowo Subianto meminta penambahan hingga tercapai sekitar 60.000 satuan pendidikan. Targetnya kini dinaikkan menyasar perbaikan 71.744 sekolah se-Indonesia.





