Moskow (ANTARA) - Ratusan migran masih terdampar di Pantai Playa del Trampolín, di wilayah Ceuta, wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara dengan banyak yang tidak mengetahui prosedur untuk mengajukan suaka, lapor koresponden RIA Novosti pada Jumat (7/8).
Pada akhir Juli, Ceuta, yang berbatasan dengan Maroko, menghadapi masuknya migran dalam jumlah besar. Wali Kota sekaligus Presiden Ceuta, Juan Jesús Vivas, mengatakan pada Kamis bahwa sekitar 3.000 hingga 5.000 migran masih berada di kota tersebut.
Sebagian orang yang berada di pantai telah menyatakan keinginan untuk mengajukan suaka di Spanyol, tetapi mereka tidak tahu harus pergi ke mana dan langkah apa yang harus dilakukan untuk memulai proses tersebut.
Beberapa migran hanya mengetahui sedikit kata dalam bahasa Spanyol, termasuk “asilo” yang berarti “suaka”. Banyak di antara mereka tidak bisa membaca atau menulis, yang menyebabkan situasi semakin sulit karena sebagian pendatang tidak memiliki dokumen identitas.
“Kami percaya pemerintah Spanyol tidak akan meninggalkan kami. Kami tidak ingin kembali; kami tidak punya masa depan di sana,” kata seorang warga Maroko berusia 23 tahun kepada RIA Novosti.
Ia berbicara bahasa Spanyol dengan cukup baik. Sekelompok besar temannya berkumpul di sekitarnya selama percakapan berlangsung.
Namun ia mengatakan bahwa dirinya adalah satu-satunya di antara mereka yang dapat berbicara bahasa Spanyol, sehingga ia membantu teman-temannya berkomunikasi dengan warga setempat dan memahami informasi yang disampaikan.
Ratusan orang telah terdampar di pantai selama beberapa hari karena tidak mendapatkan tempat di pusat penampungan sementara. Banyak yang tidur di atas pasir atau kardus. Pada siang hari, mereka mencari tempat berteduh dari terik matahari di bawah pepohonan dan di lereng-lereng.
Warga setempat, relawan, dan organisasi masyarakat memberikan makanan, pakaian, serta kebutuhan pokok kepada mereka.
Para migran mengisi botol-botol plastik dengan air dari pancuran di pantai untuk diminum dan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Pada malam hari, banyak orang mengantre untuk mandi menggunakan pancuran tersebut.
Menurut Kementerian Dalam Negeri Spanyol, sekitar 72.000 orang telah memasuki kota tersebut sejak akhir Juli, sementara Ceuta sendiri memiliki populasi sekitar 85.000 jiwa. Sebagian besar dari mereka telah dipulangkan.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: PM Spanyol perketat keamanan saat liburan di tengah krisis migrasi
Baca juga: Spanyol siapkan strategi hadapi gelombang imigran lagi ke Ceuta
Pada akhir Juli, Ceuta, yang berbatasan dengan Maroko, menghadapi masuknya migran dalam jumlah besar. Wali Kota sekaligus Presiden Ceuta, Juan Jesús Vivas, mengatakan pada Kamis bahwa sekitar 3.000 hingga 5.000 migran masih berada di kota tersebut.
Sebagian orang yang berada di pantai telah menyatakan keinginan untuk mengajukan suaka di Spanyol, tetapi mereka tidak tahu harus pergi ke mana dan langkah apa yang harus dilakukan untuk memulai proses tersebut.
Beberapa migran hanya mengetahui sedikit kata dalam bahasa Spanyol, termasuk “asilo” yang berarti “suaka”. Banyak di antara mereka tidak bisa membaca atau menulis, yang menyebabkan situasi semakin sulit karena sebagian pendatang tidak memiliki dokumen identitas.
“Kami percaya pemerintah Spanyol tidak akan meninggalkan kami. Kami tidak ingin kembali; kami tidak punya masa depan di sana,” kata seorang warga Maroko berusia 23 tahun kepada RIA Novosti.
Ia berbicara bahasa Spanyol dengan cukup baik. Sekelompok besar temannya berkumpul di sekitarnya selama percakapan berlangsung.
Namun ia mengatakan bahwa dirinya adalah satu-satunya di antara mereka yang dapat berbicara bahasa Spanyol, sehingga ia membantu teman-temannya berkomunikasi dengan warga setempat dan memahami informasi yang disampaikan.
Ratusan orang telah terdampar di pantai selama beberapa hari karena tidak mendapatkan tempat di pusat penampungan sementara. Banyak yang tidur di atas pasir atau kardus. Pada siang hari, mereka mencari tempat berteduh dari terik matahari di bawah pepohonan dan di lereng-lereng.
Warga setempat, relawan, dan organisasi masyarakat memberikan makanan, pakaian, serta kebutuhan pokok kepada mereka.
Para migran mengisi botol-botol plastik dengan air dari pancuran di pantai untuk diminum dan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Pada malam hari, banyak orang mengantre untuk mandi menggunakan pancuran tersebut.
Menurut Kementerian Dalam Negeri Spanyol, sekitar 72.000 orang telah memasuki kota tersebut sejak akhir Juli, sementara Ceuta sendiri memiliki populasi sekitar 85.000 jiwa. Sebagian besar dari mereka telah dipulangkan.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: PM Spanyol perketat keamanan saat liburan di tengah krisis migrasi
Baca juga: Spanyol siapkan strategi hadapi gelombang imigran lagi ke Ceuta





