Danuri Temukan Lokasi Tumbukan Bekas Roket SpaceX di Bulan

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Setelah menunggu lebih dari 24 jam, lokasi pasti jatuhnya bekas roket tingkat kedua Falcon 9 milik SpaceX di Bulan akhirnya ditemukan. Wahana pengorbit Bulan asal Korea Selatan bernama Danuri berhasil menemukan kawah baru di sekitar lokasi prakiraan jatuhnya sampah antariksa tersebut. Kini, sejumlah wahana pengorbit lain bersiap melanjutkan pengamatan, sedangkan astronom di Bumi tengah sibuk mengolah citra tumbukan yang mereka peroleh.

Kabar ditemukannya lokasi tumbukan bekas roket Falcon 9 di permukaan Bulan itu disampaikan Institut Penelitian Kedirgantaraan Korea Selatan (KARI) melalui akun X-nya pada Kamis (6/8/2026). Wahana pengorbit Bulan milik Korea Selatan, Danuri, berhasil mendapatkan citra kawah baru di sekitar Kawah Einstein, tempat yang sejak semula diperkirakan akan menjadi lokasi jatuhnya bekas roket tersebut di Bulan.

Berdasarkan data KARI, bekas roket tingkat dua Falcon 9 itu menubruk permukaan Bulan pada Rabu (5/8/2026) pukul 15.34 waktu Korea Selatan atau 13.34 WIB. Waktu jatuh bekas roket itu hanya lebih cepat satu menit dibandingkan prakiraan yang dilakukan Benjamin Fernando dan rekan, astronom Laboratorium Nasional Los Alamos, New Mexico, Amerika Serikat, yakni pada pukul 13.35 WIB.

Baca JugaBekas Roket SpaceX Menghantam Bulan

Lokasi tumbukan bekas roket itu juga sama seperti perkiraan Fernando dan tim, yaitu di dekat Kawah Einstein. Kawah ini ada di belahan utara Bulan, di tepi sisi barat Bulan yang menghadap ke Bumi atau di perbatasan antara wilayah Bulan yang mengalami siang dan malam. Potret yang diperoleh instrumen KARI menunjukkan kawah yang samar. Namun, citra itu cukup mengonfirmasi perubahan permukaan Bulan di sekitar titik tabrakan maupun jejak penyebaran material hasil tumbukan yang terlempar ke lingkungan sekitar.

Citra itu diperoleh Danuri setelah mengamati lokasi perkiraan jatuhnya bekas roket Falcon 9, sejak 30 menit sebelum terjadinya tumbukan hingga sesudah berlangsungnya tubrukan. Danuri terbang melewati bagian atas lokasi tumbukan itu sebanyak beberapa kali dengan melakukan pengendalian orbit dan berhasil memotret lokasi tumbukan sebanyak delapan kali.

”Danuri telah mengamankan semua gambar sebelum dan sesudah tabrakan berlangsung sehingga dapat menganalisis perubahan (lokasi) akibat tubrukan dan mempersiapkan data untuk penelitian penting,” tulis KARI di media sosialnya.

Wahana pengorbit Bulan milik Korea Selatan, Danuri, berhasil mendapatkan citra kawah baru di sekitar Kawah Einstein, tempat yang sejak semula diperkirakan akan menjadi lokasi jatuhnya bekas roket tersebut di Bulan.

Selanjutnya, seperti ditulis Space.com, data hasil pengamatan Danuri itu akan digabungkan dengan data pengamatan lanjutan yang dilakukan wahana pengorbit Bulan milik Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional AS (NASA), yaitu Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO). Menurut rencana, data itu akan dimanfaatkan untuk penelitian bersama oleh sejumlah peneliti dan lembaga antariksa internasional.

Bagian atas roket Falcon 9 yang menabrak Bulan itu adalah roket yang digunakan untuk meluncurkan dua wahana pendarat di Bulan pada Januari 2025. Kedua wahana itu adalah Blue Ghost milik perusahaan AS Firefly Aerospace dan Resilience yang dikelola perusahaan swasta Jepang ispace. Blue Ghost berhasil mendarat di tanah Bulan, tetapi Resilience jatuh ketika proses pendaratan di Bulan dilakukan.

Roket Falcon 9 terdiri dari dua tingkat, tingkat pertama adalah roket yang dapat digunakan kembali dan tingkat kedua adalah roket sekali pakai. Umumnya, setelah mengirimkan muatannya ke titik tertentu, roket tingkat kedua akan diturunkan ketinggiannya sehingga masuk kembali ke atmosfer Bumi dan habis terbakar di atmosfer.

Baca JugaBlue Ghost Sukses Mendarat di Bulan, Torehkan Sejarah Eksplorasi oleh Swasta

Namun, saat peluncuran Blue Ghost dan Resilience, posisi roket tingkat kedua Falcon 9 itu terlalu tinggi. Roket harus mengantarkan kedua muatannya itu di orbit tinggi Bumi (high earth orbit) atau di atas orbit geostasioner satelit yang memiliki ketinggian 35.786 kilometer (km). Karena tidak mungkin menurunkannya kembali ke atmosfer Bumi, maka SpaceX dan NASA menempatkannya pada titik di orbit tinggi Bumi yang dianggap aman dan sesuai dengan hukum antariksa.

Di tempat pembuangannya itu, sampah antariksa ini memiliki orbit elips yang di satu titiknya akan memotong atau melintasi orbit Bulan. Namun, manuver yang dilakukan itu ternyata tidak stabil. Aktivitas Matahari dan gaya gravitasi akhirnya justru mengarahkan sampah antariksa seberat 4.000 kilogram itu ke Bulan hingga akhirnya menabrak Bulan.

Dari perhitungan Fernando dan tim, bekas roket itu menubruk Bulan dengan kecepatan 8.748 kilometer per jam atau 2,43 km per detik. Kawah yang terbentuk dari tubrukan itu memiliki lebar 27 meter dan kedalaman 5 meter. Tumbukan itu juga menyebabkan lontaran tanah Bulan ke luar angkasa yang diperkirakan bisa mencapai ketinggian 50 km dan tersebar hingga radius 180 km.

Data hasil pengamatan Danuri itu akan digabungkan dengan data pengamatan lanjutan yang dilakukan wahana pengorbit Bulan milik Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional AS (NASA), yaitu Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO).

Riset

Danuri adalah adalah wahana antariksa pertama Korea Selatan yang menjalankan misi di Bulan. Wahana ini diluncurkan pada 4 Agustus 2022 menggunakan roket Falcon 9 dan mulai mengorbit Bulan (moon) pada empat bulan (month) kemudian. Wahana ini membawa enam muatan instrumen ilmiah. Lima peralatan di antaranya dibuat oleh universitas dan lembaga penelitian di Korea Selatan dan satu muatan lainnya adalah ShadowCam milik NASA yang digunakan untuk mencari tanda-tanda keberadaan es berbentuk cair di daerah yang berada dalam bayang-bayang abadi di kutub selatan Bulan.

Sementara Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) adalah wahana pengorbit milik NASA yang diluncurkan pada 2009. Misi utama pengiriman LRO adalah untuk memetakan permukaan Bulan secara tiga dimensi selama dua tahun. LRO juga memiliki misi khusus untuk mencari es atau air yang diperkirakan ada di kutub selatan Bulan. Meski saat ini sudah berumur 17 tahun, wahana ini masih beroperasi dan berfungsi dengan baik.

Baca JugaLangkah Pertama Korsel Menuju Bulan

Selain kedua wahana pengorbit tersebut, sejumlah wahana pengorbit lain diyakini juga sedang berusaha mendapatkan citra dari lokasi tumbukan bekas roket Falcon 9 tersebut. Saat ini, seperti dilaporkan BBC, ada sekitar 10 wahana pengorbit yang sedang mengelilingi Bulan. Upaya ini menjadi tantangan karena wahana pengorbit umumnya memiliki lintasan masing-masing yang senantiasa bergeser atau berubah, tidak selalu melintasi lokasi tumbukan terjadi.

Tak hanya itu, sejumlah teleskop besar landas Bumi juga berusaha mengabadikan momen tumbukan bekas roket Falcon 9 itu dengan Bulan.

Salah satu yang sudah melaporkan berhasil mengamati tumbukan tersebut adalah astronom di Institut Astrofisika Andalusia, Spanyol, seperti yang dilaporkan oleh salah satu astronomnya, Jose Maria Madiedo, di akun X. Dalam unggahannya, mereka juga menambilan video pendek yang menunjukkan lontaran material dari tanah Bulan di sekitar lokasi kejadian sesuai waktu yang telah diprediksi.

Danuri adalah adalah wahana antariksa pertama Korea Selatan yang menjalankan misi di Bulan.

Berikutnya, seperti dikutip dari Livescience.com, ilmuwan di Teleskop Very Large yang ada di Observatorium Selatan Eropa (ESO) di Chile juga melaporkan melihat adanya gumpalan awan di dekat lokasi terjadinya tumbukan. Gumpalan awan itu sejatinya adalah tanah permukaan Bulan yang terangkat ke luar angkasa sesaat setelah tabrakan terjadi. Namun, mereka belum mempublikasikan apa pun terkait temuannya tersebut.

Beberapa observatorium lain juga diyakini memiliki bukti yang sama. Namun, pemrosesan gambar memang membutuhkan waktu. Karena itu, dalam beberapa hari ke depan, diharapkan sudah ada beberapa laporan komprehensif mengenai bekas roket Falcon 9 yang menubruk Bulan. Mungkin terasa lama, tetapi sains membutuhkan kehati-hatian sehingga tidak berakhir sebagai omongan yang seolah-olah meyakinkan tetapi tidak ada bukti yang mendukungnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mobil-Mobil yang Wajib Masuk Daftar Test Drive di GIIAS 2026
• 21 jam lalumedcom.id
thumb
Taman Harmoni Surabaya, Wisata Edukasi Gratis dengan Zona Benua Dunia
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Bahaya PHK, Selamatkan Hak Pekerja! | SAPA WARGA
• 14 jam lalukompas.tv
thumb
Kebakaran di Gunung Bromo Meluas Jadi 120 Hektare, Dua Helikopter Dikerahkan
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026, Luciano Leandro: Semangat Saja Tidak Cukup
• 2 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.