Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria meminta perguruan tinggi agar tetap dapat menjaga sisi kritis dari para mahasiswa dalam proses berpikir menghadapi era kecerdasan artifisial generatif atau dikenal juga sebagai Generative AI (Gen AI).
Sisi kritis dari mahasiswa dinilai Nezar perlu dijaga di tengah maraknya pemanfaatan Gen AI agar mahasiswa tidak bergantung sepenuhnya pada teknologi itu dan justru menjadikannya sebagai alat bantu dalam proses berpikir dan menciptakan solusi.
"Perlu reorientasi pedagogi yang menjadikan Generative AI sebagai mitra dialektis dalam pembelajaran, bukan pengganti proses berpikir kritis mahasiswa,” kata Nezar dalam keterangannya yang diterima di Jakarta dan dikonfirmasi, Sabtu.
Pesan ini juga disampaikan Nezar kepada para pengajar perguruan tinggi dalam Seminar Nasional dan Bimbingan Teknis Dosen Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) baru-baru ini.
Nezar meminta para dosen agar dapat membimbing mahasiswa-mahasiswanya agar memiliki paradigma bahwa AI harus dimanfaatkan sebagai mitra pembelajaran dan tetap mengutamakan kemampuan berpikir kritis, etika, dan integritas akademik.
Perkembangan teknologi AI yang pesat meningkatkan perhatian di dunia akademik akan perlunya kebijakan tata kelola AI yang kontekstual dan berbasis nilai, terutama di tingkat perguruan tinggi.
Oleh karena itu, Nezar mengajak para dosen pengampu MKWK UPNVJ untuk menerapkan tiga langkah strategis dalam menghadapi perkembangan AI generatif yang terdiri dari reorientasi pedagogi, memperkuat literasi AI berbasis nilai, serta membangun kolaborasi lintas sektor.
Khusus penguatan literasi AI berbasis nilai, menurutnya harus dilakukan untuk memastikan para mahasiswa memahami karakteristik teknologi tersebut sekaligus menyadari dampaknya terhadap kedaulatan digital bangsa.
“Kita harus pastikan bahwa mahasiswa memahami cara kerja AI, bias dan keterbatasan AI, sekaligus menautkannya dengan wawasan kebangsaan dan kesadaran akan kedaulatan digital bangsa,” imbuhnya.
Untuk langkah kolaborasi lintas sektor, Nezar menilai kolaborasi tidak hanya dilakukan oleh antar perguruan tinggi tapi juga dengan pemerintahan agar para mahasiswa tidak sebatas menjadi objek transformasi digital, tetapi juga ikut berpartisipasi dalam membentuk kebijakan dan etika AI Indonesia.
Baca juga: Indonesia raih empat medali di olimpiade bidang AI IOAI 2026
Baca juga: Indonesia siap dukung ekosistem AI yang terbuka dan bermanfaat
Sisi kritis dari mahasiswa dinilai Nezar perlu dijaga di tengah maraknya pemanfaatan Gen AI agar mahasiswa tidak bergantung sepenuhnya pada teknologi itu dan justru menjadikannya sebagai alat bantu dalam proses berpikir dan menciptakan solusi.
"Perlu reorientasi pedagogi yang menjadikan Generative AI sebagai mitra dialektis dalam pembelajaran, bukan pengganti proses berpikir kritis mahasiswa,” kata Nezar dalam keterangannya yang diterima di Jakarta dan dikonfirmasi, Sabtu.
Pesan ini juga disampaikan Nezar kepada para pengajar perguruan tinggi dalam Seminar Nasional dan Bimbingan Teknis Dosen Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) baru-baru ini.
Nezar meminta para dosen agar dapat membimbing mahasiswa-mahasiswanya agar memiliki paradigma bahwa AI harus dimanfaatkan sebagai mitra pembelajaran dan tetap mengutamakan kemampuan berpikir kritis, etika, dan integritas akademik.
Perkembangan teknologi AI yang pesat meningkatkan perhatian di dunia akademik akan perlunya kebijakan tata kelola AI yang kontekstual dan berbasis nilai, terutama di tingkat perguruan tinggi.
Oleh karena itu, Nezar mengajak para dosen pengampu MKWK UPNVJ untuk menerapkan tiga langkah strategis dalam menghadapi perkembangan AI generatif yang terdiri dari reorientasi pedagogi, memperkuat literasi AI berbasis nilai, serta membangun kolaborasi lintas sektor.
Khusus penguatan literasi AI berbasis nilai, menurutnya harus dilakukan untuk memastikan para mahasiswa memahami karakteristik teknologi tersebut sekaligus menyadari dampaknya terhadap kedaulatan digital bangsa.
“Kita harus pastikan bahwa mahasiswa memahami cara kerja AI, bias dan keterbatasan AI, sekaligus menautkannya dengan wawasan kebangsaan dan kesadaran akan kedaulatan digital bangsa,” imbuhnya.
Untuk langkah kolaborasi lintas sektor, Nezar menilai kolaborasi tidak hanya dilakukan oleh antar perguruan tinggi tapi juga dengan pemerintahan agar para mahasiswa tidak sebatas menjadi objek transformasi digital, tetapi juga ikut berpartisipasi dalam membentuk kebijakan dan etika AI Indonesia.
Baca juga: Indonesia raih empat medali di olimpiade bidang AI IOAI 2026
Baca juga: Indonesia siap dukung ekosistem AI yang terbuka dan bermanfaat





