Bukan Cuma soal Gizi, Ini Alasan Menyusui Juga Bikin Ibu dan Bayi Lebih Dekat

kumparan.com
10 jam lalu
Cover Berita

Bagi banyak ibu baru, momen menyusui sering digambarkan sebagai sesuatu yang alami dan mudah. Padahal kenyataannya, tidak sedikit ibu yang harus berjuang keras di awal-awal masa menyusui, mulai dari puting lecet, ASI yang belum lancar, hingga rasa cemas apakah bayinya cukup kenyang. Di balik semua tantangan itu, ternyata menyusui menyimpan banyak manfaat yang jauh lebih besar dari sekadar memberi makan.

ASI (Air Susu Ibu) sering disebut sebagai makanan sempurna untuk bayi, dan itu bukan sekadar slogan. Kandungan ASI berubah secara dinamis mengikuti kebutuhan bayi, mulai dari kolostrum di hari-hari pertama yang kaya antibodi, hingga komposisi yang terus menyesuaikan seiring bayi tumbuh.

ASI mengandung antibodi, sel darah putih, dan berbagai zat bioaktif yang membantu melindungi bayi dari infeksi saluran pernapasan, diare, hingga alergi. Inilah sebabnya bayi yang mendapat ASI eksklusif cenderung lebih jarang sakit di bulan-bulan awal kehidupannya, saat sistem imun mereka belum berkembang sempurna.

Manfaat yang Dirasakan Ibu, Bukan Cuma Bayi

Banyak yang mengira menyusui hanya menguntungkan bayi. Padahal, ibu yang menyusui juga mendapat sederet manfaat kesehatan. Proses menyusui memicu pelepasan hormon oksitosin yang membantu rahim kembali ke ukuran semula lebih cepat setelah melahirkan, sekaligus menurunkan risiko perdarahan pascapersalinan.

Dalam jangka panjang, sejumlah penelitian juga mengaitkan riwayat menyusui dengan penurunan risiko kanker payudara dan kanker ovarium, serta risiko diabetes tipe 2 yang lebih rendah pada ibu.

Tak kalah penting, menyusui juga berkontribusi pada kesehatan mental ibu. Kontak kulit-ke-kulit dan pelepasan hormon oksitosin saat menyusui dapat membantu menciptakan perasaan tenang dan memperkuat ikatan emosional antara ibu dan bayi, meski penting dicatat, hal ini tidak berarti ibu yang tidak menyusui otomatis kehilangan ikatan tersebut. Bonding bisa dibangun lewat banyak cara lain, seperti kontak kulit, gendongan, dan komunikasi.

Momen "Skin to Skin" yang Sering Terlewat

Salah satu hal yang kerap lupa dari perhatian adalah pentingnya kontak kulit langsung antara ibu dan bayi segera setelah lahir, atau yang dikenal dengan istilah inisiasi menyusu dini (IMD). Praktik ini dipercaya membantu menstabilkan suhu tubuh bayi, detak jantung, dan pernapasannya, sekaligus merangsang produksi ASI lebih awal.

Sayangnya, tidak semua ibu mendapat kesempatan ini, terutama jika proses persalinan mengalami komplikasi. Kabar baiknya, IMD bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan menyusui, dukungan yang konsisten setelahnya jauh lebih menentukan.

Tantangan yang Wajar Dialami, Bukan Tanda Kegagalan

Penting untuk digarisbawahi yaitu kesulitan di awal menyusui bukan berarti seorang ibu gagal. Puting lecet, ASI yang belum banyak keluar di hari-hari pertama, hingga bayi yang rewel saat menyusu, adalah hal yang sangat umum terjadi dan biasanya bisa diatasi dengan pelekatan (attachment) yang tepat serta dukungan dari tenaga kesehatan, konselor laktasi, atau kelompok pendukung ASI.

Stres dan kurang percaya diri justru bisa menghambat produksi ASI melalui pengaruhnya terhadap hormon oksitosin. Karena itu, dukungan dari pasangan, keluarga, dan lingkungan sekitar menjadi kunci penting yang sering kali lebih berpengaruh daripada informasi teknis semata.

ASI Eksklusif 6 Bulan, Lalu Bagaimana?

Organisasi kesehatan dunia (WHO) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi, tanpa tambahan makanan atau minuman lain, termasuk air putih. Setelah usia enam bulan, ASI tetap bisa dilanjutkan berdampingan dengan makanan pendamping ASI (MPASI) hingga usia dua tahun atau lebih, sesuai kebutuhan ibu dan bayi.

Meski demikian, setiap ibu memiliki kondisi dan pilihan yang berbeda-beda. Ada ibu yang karena alasan medis, pekerjaan, atau kondisi lain tidak bisa memberikan ASI eksklusif, dan itu bukan sesuatu yang perlu membuat mereka merasa bersalah. Yang terpenting, bayi tumbuh sehat dan mendapat kasih sayang yang cukup dan itu bisa dicapai lewat berbagai cara.

Dukungan, Bukan Penghakiman

Di tengah derasnya informasi seputar parenting, perdebatan soal ASI vs susu formula kerap kali menjadi bahan perdebatan yang justru membebani para ibu. Padahal, yang paling dibutuhkan ibu baru bukanlah penghakiman, melainkan dukungan baik dari pasangan, keluarga, tempat kerja yang ramah menyusui, maupun tenaga kesehatan yang bisa diandalkan.

Pada akhirnya, menyusui adalah perjalanan yang unik bagi setiap ibu dan bayi. Memahami manfaatnya penting, tetapi memahami bahwa setiap ibu berjuang dengan caranya masing-masing, mungkin sama pentingnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jangan Lagi Terjebak Belajar ”Drilling”, Seriusi TKA untuk Perbaikan Mutu
• 10 jam lalukompas.id
thumb
Dwayne Johnson Tetap Bangga Meski Live-Action Moana Dihujani Kritik
• 3 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Chile, Venezuela pulihkan hubungan konsuler usai 2 tahun penangguhan
• 9 jam laluantaranews.com
thumb
GOKIL Indonesia Next Resmi Diluncurkan, Gerakan Baru Siapkan Anak Muda RI Tembus Panggung Dunia
• 5 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Tak hanya Febrie, Kejagung Juga Periksa NH dalam Perkara TPPU
• 21 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.