Tantangan hidup in this economy terasa tak mudah bagi sebagian orang dalam beberapa waktu terakhir. Meski demikian, toh, kehidupan harus terus berlanjut. Dengan segala daya upaya, kodrat manusia menjadi bekal untuk bertahan menghadapi segala ujian hidup.
Hal ini dituangkan oleh seniman Ari Bayuaji dalam karyanya yang berjudul “The Storms that Unified Us”. Karya ini berupa instalasi diptik dua lembar kain yang dipamerkan dalam ajang kompetisi Indonesia Art Competition 2026. Ia menggunakan medium benang plastik atau nilon dan benang katun sebagai media utama, serta manik-manik batu alam, tembaga dan rajutan benang plastik tersebut.
Sejak pandemi di tahun 2020, lewat proyek “Weaving the Ocean”, Ari berupaya mengolah limbah tali plastik yang terdampar di pesisir Bali menjadi karya tekstil. Proyek ini dilakukan berkolaborasi dengan para perajin lokal. Proyek ini merayakan tradisi tekstil Indonesia sekaligus mendukung perajin dan komunitas setempat.
Karyanya berupa instalasi kain dan juga patung telah dikoleksi oleh berbagai institusi publik di Kanada dan dipamerkan secara internasional di Asia, Eropa, Amerika Utara, dan Australia.
Material dasar pembuatan karya Ari sebenarnya adalah benang plastik dan katun. Benang-benang plastik yang digunakan merupakan hasil uraian dari tali-tali tambang yang ditemukan di laut. Tali-tali tambang itu sebelumnya merupakan tali yang digunakan nelayan untuk mengikat kapal. Tali yang menjadi limbah di laut itu ditemukan saat membersihkan pantai. ”Kita kumpulkan dan diuraikan satu persatu. Setelah dibersihkan, kita ambil benang sampai yang paling halus sekali kemudian digulung,” ujar seniman patung, tekstil dan instalasi yang berdomisili di Bali dan Kanada ini.
Benang tali nilon itu ditenun dengan alat tenun bukan mesin (ATBM) bersama benang katun oleh ibu Desak, seorang warga lokal Bali. Benang katun yang disusun vertikal ditenun dengan tali plastik yang disusun horisontal menjadi sebuah kain berwarna dasar dominan biru laut yang dikombinasikan dengan ornamen koral dari tembaga, jahitan dan rajutan tangan. Ia menyiapkan bahan-bahan seperti benang-benangnya beraneka warna dan dibantu 20 asisten dari ibu-ibu penjaga toko dan penjual makanan untuk mengerjakan karyanya. Ada yang bekerja seharian dan ada pula yang paruh waktu di rumah.
Proyek ini dapat menghidupi anggota komunitasnya yang mendapatkan uang penghasilan tambahan. Saat ada pameran pun Ari tidak panik karena stok persediaan barang telah tersedia. Sebagian lagi pekerjanya adalah mantan staf hotel yang memilih terjun ke proyek Ari karena lebih fleksibel waktunya.
“Waktu pandemi proyek ini banyak bantuin orang-orang lokal yang kehilangan mata pencarian di bidang turisme karena semua tutup,” ujar Ari yang menjadi insinyur sebelum banting setir menjadi seniman setelah menempuh pendidikan seni di Kanada ini. Mereka mengambil material dari bengkel kerja Ari di kawasan Sanur kemudian bekerja di rumah dan menyetorkan barang tanpa tenggat waktu semampu mereka.
Karya Ari bercerita tentang impresi pengalamannya saat hobi menyelam. “Sebenarnya ini pemandangan kalau kita diving ada kaya gelembung-gelembung cahaya waktu matahari masuk. Ada pancaran sinar matahari pada air laut terus ada plankton-plankton. Ubur-ubur warnya bisa jadi kaya pelangi gitu kadang-kadang. Jadi sesuatu yang sebenarnya dari sampah di laut saya balikin menjadi pemandangan di dalam laut,” jelasnya.
Karya Ari Bayuaji menjadi peraih hadiah utama dalam kompetisi seni kontemporer yang diselenggarakan PT Daya Intiguna Yasa Tbk (MR.D.I.Y. Indonesia) itu dengan tema "Strength and Resilience." Tema ini mengangkat isu sosial tentang tantangan hidup yang dirasakan oleh sebagian besar orang dan sangat relevan dengan kondisi saat ini.
Kompetisi ini kembali berkolaborasi dengan IndoArtNow pada tahun kedua untuk memfasilitasi pengembangan seni dan kreativitas lokal.
Panita kompetisi menerima lebih dari 1.500 karya dari 32 provinsi Indonesia. Jangkauan yang lebih luas menunjukkan antusiasme masyarakat yang semakin besar terhadap kompetisi ini. Partisipasi terbanyak berasal dari Pulau Jawa, disusul Sumatra, Bali dan Nusa Tenggara, Kalimantan dan Sulawesi.
Kompetisi seni ini menjadi refleksi semangat berkarya masyarakat Indonesia terus tumbuh dari kota besar hingga daerah dengan jangkauan platform seni yang belum optimal.
Dalam proses kurasi dan penilaian karya seni, panitia kembali menghadirkan para juri profesional dan ahli di bidang seni seperti R.E. Hartanto, Mitha Budhyarto, Abigail Hakim, serta Edwin Cheah selaku Direktur Utama MR.D.I.Y. Indonesia. Penilaian kompetisi berlandaskan pada ide, kreativitas, komposisi dan teknik yang diciptakan pada setiap karya seni yang masuk.
Menurut Hartanto, tahun ini juri melihat perkembangan yang sangat menarik dari kualitas karya para peserta. Tema “Strength and Resilience” diterjemahkan melalui pendekatan yang sangat beragam, mulai dari pengalaman personal, isu sosial, hingga refleksi terhadap budaya dan lingkungan sekitar.
“Yang paling menonjol bukan hanya kemampuan teknis, tetapi bagaimana para peserta mampu membangun narasi yang kuat dan autentik melalui pilihan medium, visual, maupun konsep yang mereka hadirkan, serta hasil riset artistik yang mendalam. Hal ini menunjukkan bahwa praktik seni di Indonesia terus berkembang dengan perspektif yang semakin kaya," ujarnya.
Adapun predikat hadiah utama ketegori pelajar dan mahasiswa diraih oleh Muhammad Ragib Noer Khasyi dari Bogor, Jawa Barat. Karya Ragib berjudul “Yang Tersisa Sepulang Kerja (1)” menampilkan seni cetak dengan medium kertas dan sisa debu semen mentah yang tertempel pada rompi pekerja pabrik.
Melalui teknik cetak pada kertas, Ragib menyuguhkan seri karya cetak eksperimental yang memanfaatkan debu semen pada seragam pekerja pabrik sebagai medium pewarnaan. Material yang umumnya dianggap sebagai residu produksi dihadirkan kembali sebagai elemen utama untuk merekam kedekatan antara tubuh manusia dan lingkungan industri.
Melalui karya ini, Ragib mengajak audiens untuk merefleksikan keberadaan polusi udara yang perlahan melekat dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sekitar kawasan industri.
Ide karyanya muncul dari pengamatan dari fenomena polusi udara di rumahnya yang berdekatan dengan dua pabrik semen. ”Terus aku melihat fenomena teman-teman juga yang bekerja di sana setiap pulang tuh selalu kotor. Nah ini sisa-sisa (debu) yang aku cetak,” ujar seniman dan mahasiswa Seni Grafis di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini.
Adapun hadiah utama kategori umum diraih oleh Veronica Liana dengan karya instalasinya berjudul “Rupa Tan Mantra.” Melalui teknik soft sculpting dengan medium kain dan dakron, Veronica mengeksplorasi bagaimana pengalaman domestik dapat menjadi ruang artistik.
Ia bercerita pengalamannnya dari perubahan praktik berkarya seni lukis yang banyak menyita waktunya menjadi berfokus pada praktik seni instalasi berbasis kain setelah menjadi seorang ibu. Dengan menghadirkan instalasi mesin jahit berbahan kanvas, karya ini merefleksikan transformasi identitas serta kerja-kerja perawatan yang kerap tersembunyi di balik rutinitas sehari-hari. Karyanya telah dipamerkan dalam berbagai pameran nasional dan internasional.
Selain kategori hadiah utama, kompetisi ini juga memberikan sejumlah penghargaan pada karya untuk pilihan dari juri dan pilihan direksi PT D.I.Y.
Karya instalasi Angela Sunaryo berjudul “Xelotexan” peraih penghargaan "President Director's Award."
KOMPAS/RIZA FATHONI
Karya instalasi berjudul “Tjap Tanggoeh” karya M. Nashrul Rizqil Akbar salah satu peraih penghargaan pilihan juri.
KOMPAS/RIZA FATHONI
Karya mix media oleh Haidar Ammar berjudul “Holding the Self together” yang meriah penghargaan pilihan juri.
KOMPAS/RIZA FATHONI
Sebanyak 20 karya pemenang MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition 2026 dipamerkan secara publik melalui MR.D.I.Y. Indonesia Art Exhibition yang berlangsung pada 7 hingga 23 Agustus 2026 di MR.D.I.Y. Store, Lotte Mall Jakarta. Pameran ini terbuka untuk umum sehingga masyarakat dapat menikmati karya-karya terbaik hasil kompetisi tahun ini.
Tahun ini menjadi momen yang istimewa karena Indonesia berkesempatan menjadi tuan rumah kompetisi tingkat regional. Para pemenang kategori umum serta pelajar dan mahasiswa akan mewakili Indonesia untuk berkompetisi dengan para pemenang dari Malaysia dan Thailand dalam MR.D.I.Y. Art Competition.
Para pemenang akan mendapatkan kesempatan untuk memperluas eksposur karya melalui kompetisi regional tersebut. Momentum ini tidak hanya membuka panggung yang lebih luas bagi seniman Indonesia, tetapi juga semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat talenta seni di Asia Tenggara.





