Harga dan produksi gula dunia tengah bergejolak akibat gelombang panas, El Nino, dan pengembangan energi terbarukan. Di Indonesia, petani tebu pesimistis target produksi gula nasional sebanyak 3,044 juta ton bisa tercapai.
Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) mencatat, Indeks Harga Gula dunia pada Juli 2026 ada di level 95, naik 5,6 persen dibandingkan dengan Juni 2026. Kendati demikian, angka tersebut masih sekitar 8 persen di bawah Indeks Harga Gula pada Juli 2025.
Merujuk data Harga Komoditas Bank Dunia (The Pink Sheet), harga rerata gula dunia per Juli 2026 senilai 0,34 dolar AS per kilogram (kg). Harga tersebut sama dengan Juli 2025 dan mendekati rerata harga gula dunia pada 2025 yang senilai 0,37 dolar AS per kg.
Kenaikan harga gula tersebut menjadi salah satu pemicu peningkatan Indeks Harga Pangan dunia. Pada Juli 2026, Indeks Harga Pangan dunia tercatat sebesar 131,1, naik 0,6 persen secara bulanan dan 1 persen secara tahunan.
Hal itu tertuang dalam laporan FAO bertajuk “Harga Pangan Dunia Naik Tipis di Tengah Kekhawatiran terhadap Cuaca, Energi, dan Geopolitik”. FAO merilis laporan tersebut di Roma, Italia, pada Jumat (7/8/2026) sore.
Komisi UE memperkirakan produksi gula UE pada 2026/2027 mencapai 14,1 juta ton, turun 2,5 juta ton dibandingkan dengan 2025/2026
FAO juga menjelaskan dua faktor penyebab kenaikan harga gula. Pertama, pelaku pasar khawatir akan dampak gelombang panas yang berkepanjangan di Eropa dan El Nino di Asia terhadap prospek produksi gula dunia. Kedua, ekspektasi akan meningkatnya permintaan etanol berbasis tetes tebu untuk campuran bensin di Brasil.
Sejak akhir Mei 2026 hingga Juli 2026, gelombang panas telah tiga kali melanda Uni Eropa (UE). Di sisi lain, biaya produksi pertanian membengkak akibat kenaikan harga energi dan pupuk, sehingga luas lahan tebu berkurang sekitar 8 persen.
Kombinasi cuaca ekstrem dan berkurangnya lahan tebu berpotensi menyebabkan produksi gula UE anjlok. Komisi UE memperkirakan produksi gula UE pada 2026/2027 mencapai 14,1 juta ton, turun 2,5 juta ton dibandingkan dengan 2025/2026 (Short-term Outlook for EU Agricultural Markets in 2026, Komisi UE, Juli 2026).
Di India, pasokan gula di negara produsen gula terbesar kedua dunia tersebut tengah mengetat dan dibayangi El Nino. Pada 2026/2027, produksi gula India diperkirakan hanya 27,9 juta ton. Produksi gula tersebut berada di bawah target dan rerata konsumsi tahunan yang masing-masing sebesar 30,95 juta ton dan 28,5 juta ton.
Oleh karena itu, sejak 13 Mei 2026, Pemerintah India memberlakukan larangan ekspor gula mentah dan gula olahan. Larangan ekspor gula tersebut berlaku hingga 30 September 2026.
Di tengah potensi penurunan produksi akibat El Nino, permintaan gula di India justru meningkat akibat faktor musiman. Setiap Agustus dan November, India merayakan berbagai festival besar, seperti Ganesh Chaturthi, Dussehra, dan Diwali.
"Permintaan meningkat menjelang musim festival. Namun, pabrik menahan pasokan dan melepas stok secara bertahap karena memperkirakan harga akan terus naik," kata Ashok Jain, Presiden Asosiasi Pedagang Gula Bombay (BSMA) di Mumbai, India (Reuters, 5/8/2025).
Sementara di Brasil, Pemerintah Brasil menaikkan campuran wajib etanol pada bensin dari 30 persen menjadi 32 persen 1 Agustus 2026. Kebijakan yang diberlakukan sementara waktu, yakni selama 180 hari, itu bertujuan menekan impor bensin dan sedikit menurunkan harga bensin di dalam negeri.
FAO menilai, kebijakan tersebut dapat mengalihkan sebagian besar tebu untuk produksi etanol dan mengurangi ketersediaan gula. Padahal, produksi gula Brasil pada 2026/2027 menurut Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) diperkirakan turun sebesar 3 persen secara tahunan menjadi 42,5 juta ton.
Tak hanya itu, USDA juga memproyeksikan produksi gula Thailand—negara produsen gula terbesar kelima dunia—turun dari 11,26 juta ton pada 2025/2026 menjadi 9,5 juta ton pada 2026/2027. Adapun secara global, produksi gula dunia pada 2026/2027 diperkirakan turun 1,2 juta ton secara tahunan menjadi 184,9 juta ton.
Bagaimana dengan Indonesia? Kementerian Pertanian (Kementan) RI menargetkan produksi gula nasional pada 2026 mencapai 3,044 juta ton. Target tersebut lebih tinggi dari realisasi produksi gula nasional pada 2025 yang sebanyak 2,67 juta ton. Namun, Asosiasi Petani Rakyat Indonesia (APTRI) justru meragukan target tersebut dapat tercapai.
Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional APTRI M Nur Khabsyin menuturkan, saat ini, musim giling tebu tengah berlangsung. Namun, akibat El Nino yang terjadi bersamaan dengan kemarau, rendemen yang dihasilkan tidak sesuai harapan.
Hingga awal Agustus 2026, rendemen di sejumlah pabrik gula masih berkisar 7 persen, bahkan ada yang berada di bawah angka tersebut. Mestinya rendemen minimal sudah mencapai 7,5-8 persen.
“Kami memperkirakan produksi tebu petani pada 2026 turun sekitar 10 hingga 15 persen dibandingkan dengan 2025,” tuturnya.
Kami memperkirakan produksi tebu petani pada 2026 turun sekitar 10 hingga 15 persen dibandingkan dengan 2025.
Menurut Khabsyin, penurunan produksi gula petani itu akan semakin menggerus pendapatan petani. Ini mengingat biaya produksi tebu meningkat sementara harga acuan pembelian gula di tingkat petani tidak pernah dinaikkan pemerintah sejak 2024, yakni Rp 14.500 per kg.
Padahal, APTRI sudah mengusulkan harga acuan tersebut dinaikkan menjadi Rp 16.875 per kg. Bahkan, hasil survei tim Badan Pangan Nasional, Kementan, dan sejumlah akademisi juga menunjukkan harga acuan itu minimal naik Rp 15.500 per kg.
Selain itu, lanjut Khabsyin, APTRI juga meminta pemerintah mengurungkan rencana impor 150.000 ton gula mentah untuk diolah menjadi gula konsumsi cadangan pangan pemerintah. Impor gula tersebut berpotensi menyebabkan harga lelang gula petani turun.
Serial Artikel
Target Produksi 3 Juta Ton Gula Bisa Tak Tercapai Gegara El Nino
Produksi gula nasional pada 2026 diperkirakan kurang lebih sama dengan 2025. Di sisi lain, pemerintah berencana mengimpor 150.000 ton gula mentah.
Pada 30 Juli 2026, pengamat pergulaan nasional Yadi Yusriadi menilai target produksi gula nasional sebanyak 3,044 juta ton pada 2026 tidak akan tercapai. Ini mengingat duet El Nino dan musim kemarau tengah melanda Indonesia. Ia memperkirakan produksi gula nasional pada 2026 minimal sama dengan atau bahkan bisa lebih rendah dibandingkan dengan 2025 (Kompas, 30/7/2026).
Adapun USDA memproyeksikan, produksi gula di Indonesia turun dari 2,7 juta ton pada 2025/2026 menjadi 2,5 juta ton pada 2026/2027. Dalam periode perbandingan yang sama, impor gula Indonesia diperkirakan meningkat dari 4,03 juta ton menjadi 4,2 juta ton.





