Peneliti Gunakan AI untuk Rancang Virus Pembunuh Bakteri E. coli

suarasurabaya.net
2 jam lalu
Cover Berita

Kecerdasan buatan (AI) berhasil digunakan peneliti di Amerika Serikat untuk merancang genom lengkap bakteriofag, virus yang secara khusus menginfeksi dan membunuh bakteri.

Terobosan ini disebut sebagai rancangan generatif pertama untuk genom bakteriofag lengkap dan membuka peluang pengembangan terapi fag berbasis AI.

Hasil penelitian itu dipublikasikan dalam jurnal Science dan dipimpin Brian Hie asisten profesor di Universitas Stanford sekaligus peneliti inovasi di Arc Institute.

Dalam penelitian itu, tim menggunakan dua model bahasa genom, Evo 1 dan Evo 2, untuk menghasilkan rancangan genom bakteriofag dengan struktur genetik yang dinilai realistis sekaligus memiliki spesifisitas terhadap bakteri Escherichia coli C (E. coli).

Bakteriofag atau fag merupakan virus yang menginfeksi bakteri, bukan manusia, hewan, atau tumbuhan.

Kemampuan fag untuk menyerang bakteri membuatnya menjadi salah satu kandidat dalam pengembangan terapi alternatif untuk menghadapi infeksi bakteri.

Dilansir dari Antara pada Sabtu (8/8/2026), tim peneliti awalnya menghasilkan dan menyaring ribuan rancangan urutan genetik. Dari proses tersebut, hampir 300 rancangan dipilih untuk diuji lebih lanjut.

Sebanyak 285 rancangan berhasil disintesis dan dirakit di dalam sel E. coli. Dari jumlah tersebut, 16 rancangan menghasilkan bakteriofag viabel yang mampu bereproduksi sekaligus membunuh bakteri dalam pengujian laboratorium.

Temuan tersebut menjadi bagian penting dari penelitian karena menunjukkan bahwa rancangan genom yang dihasilkan AI tidak berhenti pada simulasi komputasional.

Sebagian rancangan ternyata dapat diwujudkan menjadi fag yang hidup dan berfungsi dalam kondisi laboratorium.

Bahkan, beberapa fag hasil rancangan AI menunjukkan kemampuan membunuh E. coli yang lebih baik dibandingkan phiX174, bakteriofag alami yang digunakan sebagai pembanding dalam penelitian.

Peneliti juga menguji campuran fag hasil rancangan AI terhadap galur E. coli yang telah memiliki resistensi terhadap phiX174. Hasil pengujian menunjukkan campuran tersebut tetap efektif dalam melawan bakteri yang resisten.

Temuan ini mengindikasikan kemungkinan penggunaan AI untuk merancang bakteriofag secara lebih terarah sesuai bakteri sasaran.

Jika dikembangkan lebih lanjut, pendekatan tersebut berpotensi mendukung terapi fag untuk menangani infeksi bakteri yang sulit diobati.

Meski demikian, kemampuan AI merancang genom virus secara mandiri juga memunculkan pertanyaan serius mengenai keamanan hayati.

Dalam artikel Perspective yang diterbitkan bersama penelitian tersebut, Thomas Inglesby dan Moritz Hanke dari Universitas Johns Hopkins menyoroti risiko yang dapat muncul dari teknologi perancangan materi genetik menggunakan AI.

Keduanya menyerukan adanya kewajiban hukum untuk melakukan skrining terhadap pesanan materi genetik sintetis yang berpotensi berbahaya.

Menurut mereka, mekanisme pengamanan tidak seharusnya hanya bergantung pada skema perlindungan yang bersifat sukarela. (ant/saf/faz)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sentralisasi Guru Tak Menjamin Politisasi Berakhir
• 2 jam lalukompas.id
thumb
Kata Manajer Timnas Voli Putri Indonesia Usai Garuda Pertiwi Menang Dramatis dari Vietnam di Laga Pembuka SEA V CUp 2026
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
Presiden Ini Mendadak Dievakuasi Tengah Malam, Ada Apa?
• 21 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Ruben Onsu Tak Lagi Berdoa Minta Kesabaran, Kini Pilih Minta Diberi Kekuatan
• 30 menit lalugrid.id
thumb
Daftar 6 Pelatih Timnas Indonesia Terhenti di Babak Penyisihan Piala AFF, Garuda 30 Tahun Puasa Gelar
• 10 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.