Wakil Presiden ke-13 RI Ma’ruf Amin angkat bicara soal usulan agar calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang tengah berkonflik tidak maju dalam Muktamar ke-35 NU. Ma’ruf menyerahkan keputusan tersebut kepada forum muktamar.
"Itu nanti muktamar yang menentukan. Menentukan nanti yang terbaik," kata Ma’ruf Amin seusai menghadiri Halaqah Kebangsaan dan Qanun Asasi di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu (8/8).
Ma’ruf tidak menyebut nama kandidat tertentu yang dinilainya paling layak memimpin NU. Menurutnya, keputusan mengenai siapa yang akan menjadi pemimpin merupakan kewenangan muktamar.
Saat ditanya mengenai kandidat yang berpotensi memimpin NU, Ma’ruf hanya memberikan kriteria yang menurutnya penting dimiliki calon pemimpin.
"Yang penting dia punya kemampuan melakukan perbaikan, mendamaikan kekuatan, melakukan perbaikan, mengembalikan pada jalur nya. Kalau tidak punya kemampuan tidak akan membawa perbaikan,” ujarnya.
Sebelumnya dalam acara tersebut, Ma’ruf juga menekankan bahwa pemimpin NU ke depan harus memiliki kemampuan melakukan al-ishlah wal ishlah. Kemampuan itu mencakup mendamaikan kelompok-kelompok yang bersengketa sekaligus melakukan perbaikan di internal organisasi.
"Ishlah pertama itu mendamaikan semua kelompok yang bersengketa karena tanpa persatuan tidak mungkin," jelas Ma’ruf.
Ia juga mengingatkan agar pemimpin NU mendahulukan kepentingan organisasi dibanding kepentingan pribadi maupun kelompok.
"Dan harus mendahulukan kepentingan organisasi dibanding kepentingan pribadi maupun kelompok. Itu baru misi NU bisa diemban," ujar dia.
Ma’ruf menilai kemampuan tersebut penting agar NU tetap berjalan sesuai dengan khittah dan Qanun Asasi. Menurutnya, gerakan NU dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, tetapi tetap harus berada dalam koridor panduan dasar organisasi.
"Ya walaupun tidak statis, tapi ada adjustment, penyesuaian, tapi tetap dalam koridor," tegas Ma’ruf.





