Dokter Ungkap Lemak Perut Berlebih Bisa Tingkatkan Risiko Diabetes Tipe 2

suarasurabaya.net
3 jam lalu
Cover Berita

Lemak berlebih yang menumpuk di area perut tidak hanya berkaitan dengan bentuk tubuh, tetapi juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami diabetes melitus tipe 2.

Penumpukan lemak tersebut dapat memicu resistensi insulin, salah satu mekanisme penting dalam perkembangan penyakit metabolik tersebut.

Prof. Sidartawan Soegondo Konsultan Endokrin Metabolik dan Diabetes mengatakan, obesitas perlu dipandang sebagai masalah kesehatan yang dapat memicu berbagai penyakit metabolik, bukan sekadar persoalan berat badan.

“Obesitas jangan dianggap hanya sebagai masalah berat badan atau bentuk tubuh. Kondisi ini dapat menjadi pemicu berbagai penyakit serius, salah satunya diabetes melitus tipe 2,” kata Sidartawan di Tangerang Selatan, Sabtu (8/8/2026).

Menurut Sidartawan, risiko tersebut terutama perlu diperhatikan pada orang dengan obesitas yang mengalami penumpukan lemak di sekitar perut.

Kondisi itu dapat membuat jaringan tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin atau disebut resistensi insulin.

Insulin merupakan hormon yang diproduksi pankreas dan berfungsi membantu sel tubuh menyerap serta menggunakan glukosa dalam darah sebagai sumber energi.

Ketika tubuh mengalami resistensi insulin, pankreas harus bekerja lebih keras dengan memproduksi lebih banyak insulin agar kadar gula darah tetap terkendali.

“Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, kemampuan pankreas untuk memenuhi kebutuhan insulin dapat menurun. Pada saat yang sama, efektivitas insulin dalam mengendalikan gula darah juga berkurang sehingga kadar glukosa dapat terus meningkat dan berkembang menjadi diabetes melitus tipe 2,” jelasnya dilansir dari Antara.

Karena itu, Sidartawan menilai pengendalian berat badan menjadi bagian penting dalam upaya menurunkan risiko diabetes tipe 2.

Penanganan obesitas, kata dia, tetap perlu diawali dengan perubahan gaya hidup, terutama melalui pengaturan pola makan dan peningkatan aktivitas fisik.

Namun, tidak semua pasien mendapatkan hasil optimal hanya melalui perubahan gaya hidup. Dalam kondisi tertentu, dokter dapat mempertimbangkan terapi obat, terutama bagi pasien obesitas yang juga memiliki penyakit penyerta seperti diabetes tipe 2, hipertensi, atau gangguan kadar kolesterol.

“Penggunaan obat harus berdasarkan indikasi medis dan berada di bawah pengawasan dokter. Obat bukan pengganti pola hidup sehat, tetapi dapat menjadi bagian dari terapi yang komprehensif,” ujarnya.

Perkembangan terapi diabetes juga menghadirkan pilihan pengobatan yang tidak hanya ditujukan untuk mengendalikan kadar gula darah, tetapi dapat membantu pengelolaan berat badan. Salah satunya adalah kelompok obat GLP-1 receptor agonist dan terapi dual incretin.

Terapi tersebut antara lain bekerja dengan meningkatkan rasa kenyang, memperlambat pengosongan lambung, mengurangi nafsu makan, serta membantu mengendalikan kadar gula darah.

Terapi ini dapat menjadi salah satu pilihan bagi pasien diabetes tipe 2 yang mengalami obesitas atau kelebihan berat badan, khususnya ketika target pengendalian gula darah belum tercapai dengan terapi sebelumnya.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan terapi tersebut dapat membantu menurunkan berat badan sekaligus memperbaiki kadar HbA1c, salah satu parameter untuk menilai pengendalian gula darah dalam jangka panjang.

Pada pasien tertentu, terapi tersebut juga dapat memberikan manfaat tambahan terhadap risiko penyakit kardiovaskular dan kualitas hidup.

Meski demikian, Sidartawan menegaskan terapi diabetes dan obesitas tidak dapat diterapkan dengan pendekatan yang sama kepada seluruh pasien.

“Setiap penyandang diabetes memiliki kondisi fisik dan respons metabolik yang berbeda. Karena itu, terapi harus direncanakan secara personal berdasarkan evaluasi dan kondisi masing-masing pasien,” katanya.

Ia menambahkan, pengendalian berat badan pada pasien diabetes bukan semata-mata bertujuan memperbaiki penampilan.

Upaya tersebut merupakan bagian penting untuk membantu mengurangi risiko komplikasi metabolik sekaligus menjaga kualitas hidup.

Masyarakat dengan berat badan berlebih, terutama yang memiliki faktor risiko seperti riwayat keluarga diabetes, tekanan darah tinggi, atau gangguan kolesterol, dianjurkan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala dan berkonsultasi dengan tenaga medis untuk menentukan langkah penanganan yang sesuai. (saf/faz)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026, Luciano Leandro: Semangat Saja Tidak Cukup
• 10 jam lalubola.com
thumb
5 Tanda Pasangan Mulai Kehilangan Cinta, Kenali Sebelum Hubungan Terlambat Diselamatkan
• 23 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Pimpin Pembagian Bendera, Bupati Landak Tegaskan Efisiensi Anggaran Tak Kurangi Pelayanan
• 7 jam lalurctiplus.com
thumb
Dishub DKI Jakarta Siap Hadirkan 3 Terobosan Baru untuk Warga Jakarta
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Ketua Komite III DPD RI: Daerah dengan Tingkat Kemiskinan Tertinggi Harus Jadi Prioritas Kebijakan Pendidikan Nasional
• 4 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.