Kebaya Adhikari Bawa Kisah Rawana dan Bundengan ke Panggung IFW 2026

tabloidbintang.com
1 jam lalu
Cover Berita

TABLOIDBINTANG.COM - Panggung Indonesia Fashion Week (IFW) 2026 tidak hanya menjadi ruang untuk memamerkan tren busana, tetapi juga dimanfaatkan Kebaya Adhikari untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga warisan budaya dan kelestarian alam.

Tampil di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Sabtu (1/8), Kebaya Adhikari memperkenalkan koleksi bertajuk “Resonara”. Koleksi tersebut menyatukan tiga elemen yang memiliki nilai penting bagi Indonesia, yakni kebaya, gajah Sumatra, dan Bundengan dari Wonosobo.

Ketiga unsur itu diterjemahkan ke dalam rancangan busana melalui permainan siluet, bordir, tekstur, hingga detail visual yang membawa cerita tentang hubungan manusia, budaya, dan alam.

Desainer Kebaya Adhikari, Kukuh Hariyawan, menjelaskan bahwa koleksi tersebut berangkat dari gagasan bahwa berbagai warisan Indonesia memiliki tanggung jawab yang sama untuk terus dijaga.

“Koleksi ini lahir dari gagasan bahwa Indonesia memiliki banyak warisan yang sama-sama perlu dijaga. Kami memadukan tiga elemen yang saling melengkapi, yaitu kebaya sebagai identitas budaya bangsa, gajah sebagai simbol kelestarian alam, dan Bundengan sebagai warisan seni khas Wonosobo. Ketiganya kami satukan dalam satu karya untuk menunjukkan bahwa budaya dan alam adalah identitas Indonesia yang harus terus hidup berdampingan," jelas Kukuh.

Salah satu sumber inspirasi utama dalam koleksi “Resonara” adalah Rawana, bayi gajah yang lahir di Kebun Binatang Lembah Hijau, Lampung. Bagi Kukuh, kehadiran Rawana tidak sekadar menjadi inspirasi visual. Kelahiran bayi gajah tersebut dianggap sebagai simbol harapan di tengah berbagai tantangan yang dihadapi habitat gajah Sumatra.

“Gajah bukan hanya satwa yang megah, tetapi juga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Saat mengetahui kisah Rawana (Bayi Gajah yang Lahir di Kebun Binatang Lembah Hijau Lampung), saya merasa ada harapan yang lahir di tengah tantangan besar yang dihadapi habitat gajah saat ini. Dari situ muncul keinginan untuk membawa isu konservasi ke panggung fashion, sehingga pesan pelestarian bisa menjangkau lebih banyak orang," ungkapnya.

Makna tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam karakter kebaya yang menonjolkan kesan lembut sekaligus kuat. Rawana diposisikan sebagai pengingat bahwa kehidupan dan harapan masih dapat tumbuh ketika manusia memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

“Rawana adalah simbol harapan. Di tengah berbagai ancaman terhadap habitat gajah, kelahirannya mengingatkan kita bahwa kehidupan selalu memberi kesempatan baru. Kami ingin menerjemahkan semangat itu ke dalam kebaya sebagai simbol kelembutan, kekuatan, dan harapan agar manusia semakin peduli terhadap alam," lanjut Kukuh.

Selain gajah, Kebaya Adhikari memasukkan unsur Bundengan dalam koleksi “Resonara”. Alat musik tradisional khas Wonosobo tersebut dikenal memiliki bentuk yang unik dan dibuat dari anyaman bambu. Secara historis, Bundengan berawal dari kowangan, peneduh yang digunakan penggembala, sebelum berkembang menjadi instrumen musik tradisional.

Dalam koleksi ini, karakter anyaman, pola, dan filosofi Bundengan diolah kembali ke dalam rancangan kebaya. Langkah tersebut menjadi cara Kebaya Adhikari memperkenalkan kembali kekayaan budaya daerah melalui medium yang dekat dengan masyarakat masa kini.

Bagi Kukuh, pelestarian tidak berhenti pada upaya mempertahankan bentuk asli sebuah warisan. Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan warisan tersebut tetap digunakan, dikenal, dan berkembang.

“Bagi saya, pelestarian bukan sekadar menjaga agar sesuatu tetap ada, tetapi memastikan warisan itu terus hidup, berkembang, dan dikenal oleh generasi berikutnya. Prinsip itu berlaku untuk alam maupun budaya. Gajah membutuhkan habitat yang lestari agar tetap hidup, sementara budaya seperti kebaya dan Bundengan membutuhkan ruang untuk terus digunakan, diapresiasi, dan dikembangkan," urainya.

Keikutsertaan di Indonesia Fashion Week 2026 menjadi momentum penting bagi Kebaya Adhikari. Kukuh menilai kesempatan tampil di salah satu panggung mode nasional tersebut menjadi bukti bahwa karya yang membawa identitas daerah juga memiliki kesempatan untuk mendapat perhatian lebih luas.

“IFW adalah salah satu panggung mode paling bergengsi di Indonesia, tempat para desainer dari berbagai daerah menampilkan karya terbaiknya. Kesempatan ini menjadi bukti bahwa karya yang lahir dari daerah juga mampu bersaing dan mendapat ruang di panggung nasional," pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Satu Orang Dievakuasi dari Gedung Bapenda DKI Jakarta
• 19 jam laludetik.com
thumb
Cara Mengenali Orang dengan Kompetensi Tinggi dari Kebiasaannya
• 5 jam lalubeautynesia.id
thumb
Standardisasi dan Perizinan Klinik Hewan Jadi Sorotan
• 17 jam lalujpnn.com
thumb
Damkar Belum Pastikan Ada Korban Kebakaran Gedung Bapenda DKI
• 19 jam lalukompas.com
thumb
Wajib Pajak DKI Masih Bisa Nikmati Pembebasan Sanksi PKB dan BBNKB
• 11 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.