HARIAN.FAJAR.CO.ID, PINRANG – Kolaborasi antara Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) dan Universitas Hasanuddin (Unhas) melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Literasi Gelombang 116 menandai langkah strategis dalam membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan di Kabupaten Pinrang. Program ini tidak hanya menempatkan mahasiswa sebagai pelaksana kegiatan, melainkan sebagai penggerak budaya baca dan kecakapan literasi yang mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat desa.
Dosen Pendamping KKN (DPK) KKN Unhas, Burhan Kadir, melakukan kunjungan ke tiga lokasi pelaksanaan KKN di Kabupaten Pinrang, yaitu Desa Massewae, Kelurahan Lampa di Kecamatan Duampanua, dan Desa Lotang Salo di Kecamatan Suppa. Kunjungan ini bertujuan memastikan mahasiswa memiliki pemahaman yang sama mengenai tujuan program serta mampu mengembangkan kegiatan literasi sesuai kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat.
Burhan Kadir menegaskan bahwa mahasiswa perlu melakukan pemetaan kondisi literasi masyarakat, mengidentifikasi fasilitas yang tersedia, serta berdialog dengan pemerintah desa, pengelola perpustakaan atau Taman Bacaan Masyarakat (TBM), sekolah, tokoh masyarakat, orang tua, dan kelompok pemuda.
“Program kerja mahasiswa tidak dibuat secara seragam, melainkan disesuaikan dengan kondisi masing-masing lokasi sehingga 40 hari KKN tidak sekadar meninggalkan kegiatan, tetapi juga sistem dan kebiasaan literasi yang dapat terus berjalan setelah mahasiswa kembali ke kampus,” jelasnya.
Selama 40 hari di lokasi KKN, mahasiswa menjalankan berbagai program yang dirancang untuk meningkatkan kecakapan literasi, kreativitas, pengetahuan, dan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan informasi. Aktivitas yang dikembangkan meliputi gerakan membaca bersama anak-anak dan masyarakat, pendampingan perpustakaan desa dan TBM, kelas literasi anak dengan membaca, mendongeng, dan permainan edukatif, serta pelatihan menulis karya sederhana.
Selain itu, mahasiswa juga melakukan pendampingan literasi digital dan kecakapan memilah informasi, kegiatan literasi keluarga, pengelolaan pojok baca di ruang publik, pengembangan kegiatan kreatif berbasis buku, serta dokumentasi dan publikasi potensi desa melalui kegiatan literasi yang mengangkat budaya dan kearifan lokal masyarakat Pinrang.
Burhan Kadir menegaskan, “Mahasiswa diharapkan menjadi teladan sekaligus penggerak budaya baca, bukan hanya menjalankan kegiatan yang bersifat seremonial.”
Perpusnas mengubah paradigma perpustakaan dari sekadar tempat menyimpan atau meminjam buku menjadi ruang belajar, kreativitas, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat. Program KKN Tematik Literasi merupakan bagian dari upaya Perpusnas memperkuat budaya baca dan kecakapan literasi masyarakat sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia.
Pada tahun 2026, Perpusnas berkolaborasi dengan 23 perguruan tinggi mitra, melibatkan sekitar 11.752 mahasiswa di 1.000 desa untuk mengatasi kesenjangan budaya baca dan pembangunan literasi di berbagai daerah.
“Keberadaan mahasiswa KKN di desa sangat penting untuk menghidupkan ruang baca yang telah tersedia dan mendorong masyarakat memanfaatkan bahan bacaan sehingga membaca menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” beber Burhan Kadir.
Perpusnas menekankan bahwa penguatan literasi berdampak luas, tidak hanya meningkatkan aktivitas membaca tetapi juga berkontribusi pada produktivitas, kreativitas, kesejahteraan, dan peningkatan sosial ekonomi masyarakat. Mahasiswa KKN Tematik Literasi Unhas diharapkan mampu membawa literasi ke dalam kehidupan masyarakat melalui literasi ekonomi, digital, dan budaya.
Literasi ekonomi diarahkan untuk membantu masyarakat memahami pengelolaan keuangan dan peluang usaha, sementara literasi digital membantu memilah informasi dan menggunakan teknologi secara produktif. Literasi budaya menjadi sarana mengenalkan dan melestarikan identitas lokal.
“KKN Tematik Literasi memiliki makna strategis sebagai jembatan pengetahuan yang mendekatkan perguruan tinggi dengan masyarakat,” pungkas Burhan Kadir.
Kolaborasi Unhas dan Perpusnas melalui KKN Tematik Literasi diharapkan mampu membangun ekosistem literasi yang melibatkan pemerintah desa, sekolah, perpustakaan, TBM, masyarakat, komunitas, dan mahasiswa. Mahasiswa membawa ilmu dan energi perubahan, masyarakat memberikan pengalaman dan kebutuhan nyata, sedangkan perpustakaan menjadi ruang bertemunya keduanya.
Dengan pendekatan ini, Desa Massewae, Kelurahan Lampa, dan Desa Lotang Salo tidak hanya menjadi lokasi KKN, tetapi juga ruang tumbuhnya budaya baca dan masyarakat pembelajar.
“KKN Tematik Literasi Unhas Gelombang 116 hadir untuk menyalakan budaya baca dari desa sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat dalam tri darma perguruan tinggi,” jelas Burhan Kadir. (*)





