Pembangunan Kilang dan Pekerjaan Rumah yang Tersisa

cnbcindonesia.com
4 jam lalu
Cover Berita
Foto: Kilang Pertamina Internasional RU V Balikpapan. (Dok. Pertamina)

Keberhasilan RDMP Balikpapan membawa angin segar bagi kita semua karena Indonesia kini memiliki kilang minyak modern yang mampu mengurangi devisa impor BBM, Namun di sisi lain, sejumlah proyek kilang yang sudah masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional berdasarkan Perpres 56/2018 masih belum terwujud karena berbagai hambatan. Lalu, apa yang bisa kita pelajari dari pengalaman ini, dan bagaimana kita bisa melakukan lebih baik ke depannya?

Baca: Balikpapan Jadi Pilar Ketahanan Energi Nasional



Belajar dari Pola yang Berulang
Capaian di Balikpapan memang patut diapresiasi, tetapi tidak bisa dimungkiri ada pola yang berulang dalam proyek-proyek kilang di Indonesia: banyak yang tertunda. Ini terjadi karena ada sejumlah faktor yang terus berulang dan perlu menjadi perhatian.


Proyek kilang adalah proyek jangka panjang dengan risiko tinggi sehingga dibutuhkan komitmen yang tidak hanya bertahan satu atau dua tahun, tetapi hingga satu dekade. Dalam praktiknya, menjaga konsistensi di tengah perubahan politik dan birokrasi adalah tantangan tersendiri.

Yang menarik, Balikpapan justru membuktikan bahwa proyek semacam ini bisa selesai dengan baik. Pertanyaannya: apa yang membuat Balikpapan berbeda dari proyek-proyek lain yang belum selesai? Jawabannya bukan terletak pada satu faktor tunggal, melainkan kombinasi dari dukungan yang konsisten, skema pendanaan yang matang, dan koordinasi yang solid antar pemangku kepentingan.

Dari Perbaikan Proyek ke Perbaikan Sistem
Kerangka (framework) kebijakan pembangunan kilang dan petrokimia dibangun di atas tiga pilar utama, yaitu kelayakan teknis, kelayakan komersial, dan keberterimaan politik. Berdasarkan ketiga kerangka tersebut maka pembangunan kilang dan petrokimia tersebut layak dan diperlukan.

Selain itu, proyek ini sudah termasuk dalam PSN (Proyek Strategis Nasional). Namun demikian, kelayakan dari tiga pilar tersebut tidak serta-merta cukup. Masih ada sejumlah pertimbangan lain yang perlu dipastikan sebelum pembangunan benar-benar dapat dimulai, meliputi aspek pasar, ketersediaan bahan baku, skema pendanaan dan kemitraan, kesiapan teknologi, ketersediaan sumber daya manusia, serta kelayakan ekonomi secara menyeluruh.

Apabila keenam aspek ini telah terpenuhi, maka proyek dapat segera dilakukan. Keberhasilan Balikpapan seharusnya menjadi momentum untuk melihat lebih jauh yaitu bagaimana menciptakan sistem yang memungkinkan proyek-proyek strategis ke depan berjalan lebih mulus.

Tanpa perbaikan di level sistem, keberhasilan satu proyek tidak akan otomatis mengulang di proyek berikutnya. Salah satu yang paling krusial adalah mekanisme yang membuat proyek strategis tidak bergantung pada individu tertentu. Pergantian pejabat jangan menjadi momen di mana proyek kehilangan pendorong. Padahal proyek kilang butuh waktu hingga satu dekade. Ini adalah tantangan yang perlu dijawab bersama.

Di sisi lain, skema pendanaan dan kemitraan juga perlu lebih terstruktur mengingat investasi kilang mencapai puluhan hingga ratusan triliun rupiah, sehingga tidak cukup hanya mengandalkan APBN atau internal BUMN. Diperlukan mitra strategis yang memiliki komitmen jangka panjang.

Negosiasi dengan mitra asing memang memakan waktu, tetapi dengan studi kelayakan yang matang dan skema bisnis yang jelas, kepercayaan bisa diperoleh. Selain itu, dukungan penuh dan koordinasi seluruh pemangku kepentingan juga menjadi faktor krusial.

Proyek kilang melibatkan banyak kementerian, BUMN, investor, pemerintah daerah, dan masyarakat. Jika masing-masing bergerak sendiri, proyek akan kehilangan arah dan Balikpapan membuktikan bahwa koordinasi yang baik adalah salah satu kunci keberhasilan. Hal lainnya adalah monitoring, tracking, dan kolaborasi secara ketat terkait dengan progress menjadi hal penting.

Perbaikan Sistem untuk Proyek ke Depan
Pemerintah telah menetapkan proyek-proyek kilang berikutnya dalam Perpres 12/2025 tentang RJPMN 2025-2029. Ada RDMP Balongan, RDMP Cilacap, Biorefinery Cilacap, dan Kilang Minyak Tuban. Proyek-proyek ini memiliki peluang besar jika pelajaran dari Balikpapan diterapkan.

Namun yang lebih penting dari sekadar menyelesaikan proyek adalah menciptakan ekosistem yang memungkinkan proyek-proyek strategis berjalan tanpa tersendat. Pengalaman proyek sebelumnya harus menjadi bahan pembelajaran, bukan untuk mencari siapa yang salah melainkan untuk memahami apa yang perlu diperbaiki. Karena tanpa perbaikan sistemik, keberhasilan Balikpapan hanya akan menjadi satu-satunya cerita sukses di antara daftar panjang proyek yang belum rampung.




(miq/miq)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Viral Para Balita di China Tidur Peluk Labu Musim Dingin sebagai Pengganti AC, Ahli Ingatkan Dampaknya
• 11 jam laludisway.id
thumb
Milisi Pro-Iran di Irak Tunda Rencana Serangan Balasan ke AS
• 22 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Lamine Yamal Bernilai Rp8,9 T, Kenapa Pemain Bola Muda Mahal?
• 12 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Lowongan Bank Indonesia PCPM Angkatan 41 Dibuka, Ini Link dan Cara Daftarnya
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
Video: Jurus Bank Jatim Agar Sinergi KUB Saling Menguntungkan BPD
• 10 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.