JAYAPURA, KOMPAS - Pelaksanaan Festival Budaya Lembah Baliem 2026 di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, diwarnai teror penembakan. Dua warga menjadi korban luka tembak saat hendak memasuki area acara yang dibuka oleh Wakil Menteri Pariwisata ini. Kelompok bersenjata mengklaim terlibat dalam teror ini.
Festival Budaya Lembah Baliem ke-34 merupakan salah satu pergelaran tahunan tertua dan terbesar di Papua. Acara yang berlangsung pada 7-8 Agustus 2026 ini dibuka langsung oleh Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa serta dihadiri juga oleh Menteri Koperasi Ferry Juliantono di Distrik Walesi, Jumat (7/8/2026),
Kepala Bidang Humas Polda Papua Komisaris Besar Cahyo Sukarnito mengatakan, peristiwa ini dilaporkan terjadi pada Sabtu (8/8/2026), sekitar pukul 12.45 WIT. Insiden penembakan terjadi di kawasan gerbang masuk festival.
“Berdasarkan laporan awal, penembakan diduga dilakukan oleh orang tidak dikenal (OTK) yang kemudian melarikan diri dari lokasi kejadian,” kata Cahyo dalam keterangannya, Minggu (9/8/2026).
Dari laporan kepolisian, saat insiden terjadi, Menteri Ferry dan Wakil Menteri Ni Luh telah meninggalkan Kabupaten Jayawijaya. Keduanya bertolak melalui Bandar Udara Wamena pada Sabtu pagi.
Sementara itu, saat kejadian pada Sabtu siang, di lokasi festival diperkirakan ada ratusan pengunjung. Selain itu, ada puluhan wisatawan mancanegara yang juga menghadiri festival ini.
Adapun dua korban luka akibat tembakan senjata api dalam insiden ini adalah Laode Muhammad Kojo (43) dan Salbiah (50). Keduanya merupakan warga yang beralamat di Distrik Wamena, Kabupaten Jayawijaya.
Kojo mengalami luka di bagian lutut kanan. Adapun Salbiah terluka pada bagian paha kanan dan punggung tangan kanan.
Setelah kejadian, kedua korban langsung mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Wamena. Keduanya dilaporkan dalam kondisi sadar dan sedang menjalani perawatan medis.
Dari laporan kepolisian, saat insiden terjadi, Menteri Ferry dan Wamen Ni Luh telah meninggalkan Kabupaten Jayawijaya. Keduanya bertolak melalui Bandar Udara Wamena pada Sabtu pagi.
Untuk saat ini, lanjut Cahyo, aparat keamanan masih berupaya mengejar dan mengungkap pelaku teror ini. Setelah insiden penembakan tersebut, festival langsung dihentikan.
“Penghentian tersebut dilakukan untuk memberikan ruang kepada aparat keamanan dalam melakukan penanganan serta memastikan situasi di sekitar lokasi tetap aman dan kondusif,” ujarnya.
Saat dihubungi, juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM), Sebby Sambom, mengatakan, pihaknya masih mengumpulkan laporan lengkap terkait insiden ini. Namun, dia mengklaim serangan ini dari pihaknya.
Menurut Sebby, TPNPB-OPM menganggap Festival Lembah Baliem merupakan bagian dari rangkaian perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Oleh karena itu, harus dibubarkan dengan cara apapun.
“Itu (Festival Lembah Baliem) adalah bentuk perayaan kemerdekaan Indonesia, makanya kami tolak. Harus ditembak siapapun yang terlibat,” ucap Sebby.
Dalam arsip Kompas, festival yang diselenggarakan sejak 1988 ini rutin dilaksanakan setiap Agustus, menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Pada awalnya, festival ini hanya menampilkan pertunjukan tunggal, yakni atraksi perang.
Sejak tahun 1995, perhelatan festival terus berkembang. Pada pergelaran festival di tahun 2019, misalnya, Museum Rekor-Dunia Indonesia mencatat rekor noken atau tas kulit kayu terbesar. Tinggi noken mencapai 30 meter.
Adapun tahun sebelumnya, Festival Lembah Baliem dipusatkan di Distrik Usilimo, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, 7-9 Agustus 2025. Masih dalam rangkaian serupa, pada 11 Agustus 2025 diadakan karnaval budaya di Wamena, ibu kota Jayawijaya. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung kondusif.





