Isu ijazah palsu yang menyeret nama mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali memanas. Kali ini, sorotan datang dari mantan Sekretaris Kementerian BUMN Muhammad Said Didu yang menanggapi penjelasan Universitas Gadjah Mada (UGM) mengenai alasan skripsi Jokowi lebih dulu tersedia dalam bentuk digital dibandingkan skripsi rekan-rekan seangkatannya.
Said Didu memilih memberikan respons singkat melalui akun media sosial X pribadinya. Meski hanya beberapa kata, pernyataan tersebut seolah menambah bumbu baru dalam polemik yang selama ini berkembang.
“Hahaha - semuanya akan terbuka,” tulis Said Didu di akun X.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah UGM sebelumnya menjelaskan alasan skripsi Jokowi tersedia dalam format digital. Klarifikasi tersebut tayang melalui akun YouTube UGM pada 22 Agustus 2025.
Baca Juga: Kini Ogah Urus Kasus Ijazah, Dokter Tifa Ngaku Pernah Ditawari Uang Damai Rp50 Miliar
Dalam penjelasan tersebut, Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Ir. Sigit Sunarta, mengakui bahwa skripsi Joko Widodo memang menjadi salah satu yang didigitalkan lebih dahulu dibandingkan skripsi lulusan lain dari angkatan yang sama.
Sigit menjelaskan bahwa digitalisasi skripsi di UGM pada dasarnya dilakukan secara bertahap dan berurutan. Prosesnya dimulai dari angkatan yang lebih baru karena dokumen skripsi mereka telah tersedia dalam bentuk digital atau soft file.
Namun, skripsi Jokowi mendapatkan perlakuan berbeda. Digitalisasi dilakukan lebih awal ketika Jokowi telah menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia dan dijadwalkan melakukan kunjungan ke Fakultas Kehutanan UGM.
Baca Juga: Disebut Pengecut Usai Hijrah dari Kasus Ijazah, Dokter Tifa: 1.910 Hari Saya Meneliti, Kalian Bantu Apa?
"Kita sebagai sebuah institusi pendidikan yang kebetulan alumninya itu menjadi orang nomor satu di Indonesia tentu punya rasa kebanggaan," kata Sigit.
Menurut Sigit, rasa bangga terhadap salah satu alumninya yang menjadi orang nomor satu di Indonesia menjadi salah satu alasan fakultas kemudian mengunggah skripsi Jokowi ke Electronic Theses and Dissertations (ETD).
"Pada saat Pak Jokowi menjadi presiden dan kebetulan mau berkunjung ke fakultas waktu itu, kami mewujudkan kebanggaan itu dengan cara meng-upload skripsinya Pak Jokowi itu di ETD. Jadi itu betul-betul merupakan wujud kebanggaan," jelasnya.





