Malang (beritajatim.com) – Matahari baru saja menanjak di kawasan Jalan Borobudur Nomor 27A, Mojolangu, Kota Malang, Selasa (4/8/2026). Pintu kaca Vosco Coffee baru saja dibuka, menghembuskan aroma sangrai biji kopi khas Lereng Arjuno ke udara pagi. Di salah satu sudut kedai, Hendi Suryo Leksono duduk santai menikmati secangkir kopi hangat.
Kedai kopi ini bukan sekadar tempat berbisnis bagi Hendi. Vosco Coffee telah berdiri selama 14 tahun, tepatnya sejak 2012, ketika ia masih berstatus sebagai mahasiswa semester empat di Universitas Ma Chung Malang. Dari kedai kopi sederhana ini, langkah bisnis pria kelahiran 1992 tersebut terus melebar hingga menggurita ke berbagai sektor, mulai dari layanan kesehatan hewan, otomotif, F&B, hingga pengelolaan sampah.
”Kalau ditanya kenapa dulu memilih coffee shop, waktu itu di daerah Sudimoro belum ada tempat kopi seperti sekarang. Kakek saya dulu punya warung sate dari tahun 1960 sampai 2006 bernama Warung Sate Marhen. Waktu kakek meninggal pada 2006, warungnya tutup. Saya memanfaatkan aset yang tersisa, seperti kursi dan meja kayu peninggalan warung kakek, supaya tidak mengeluarkan modal terlalu banyak,” kenang Hendi mengawali perbincangan.
Perjalanan 14 tahun membangun Vosco Coffee menjadi landasan bagi alumni Universitas Ma Chung angkatan 2010 tersebut. Kematangan kepemimpinan dan jejaring usahanya mengantarkan Hendi dikukuhkan sebagai Ketua Badan Pengurus Cabang (BPC) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Malang pada pertengahan 2025.
Di luar dunia usaha, Hendi juga mengemban amanat sebagai Bendahara DPD Partai Golkar Kota Malang. Keputusan mendirikan usaha di bangku kuliah lahir dari diskusi intensif Hendi dengan para dosennya di Universitas Ma Chung. Ia kerap mempertanyakan cara mengaplikasikan teori keilmuan secara nyata di lapangan.
”Dosen selalu menjawab bahwa keilmuan itu hanya bisa diaplikasikan ketika kita melakukannya secara praktik. Di Ma Chung saat itu, kita bisa lulus tanpa skripsi konvensional, melainkan melalui jalur proyek. Proyek inilah yang membawa saya hingga hari ini. Saya lulus dari apa yang saya kerjakan sehari-hari di Vosco,” tuturnya.
Demi memperdalam pemahaman teknis di industri kopi, Hendi bahkan menyempatkan diri mengambil studi singkat di Universita Del Caffe Jakarta pada 2012. Langkah ini diambil untuk memastikan produk yang disajikan memiliki standar kualitas yang presisi.
Prinsip dasar yang didapat selama menimba ilmu di kampus juga menjadi pegangan hidupnya. Bagi Hendi, 12 Karakter Ma Chung, termasuk nilai meritokratik, integritas, dan rasa saling percaya menjadi panduan navigasi dalam menghadapi pasang surut dunia usaha.
”Di Ma Chung itu sangat inklusif. Nilai-nilai dasar seperti 12 Karakter Ma Chung menjadi guideline yang membuat kita tetap konsisten. Dunia usaha itu naik turun, dan yang terpenting adalah rasa percaya serta keterikatan emosional antarmanusia. Saat saya membangun bisnis, sebagian pemasok saya adalah kawan-kawan dari Ma Chung sendiri. Ekosistem itu terbawa hingga sekarang,” kata lulusan tahun 2014 ini.
Gurita BisnisSektor F&B di Vosco Coffee menjadi pintu masuk bagi Hendi untuk merambah portofolio bisnis yang lebih luas. Ia menegaskan bahwa seluruh lini usahanya dibangun tidak secara tunggal, melainkan melalui kemitraan strategis guna menciptakan ekosistem yang saling menopang.
Di bidang kesehatan dan perawatan hewan, Hendi mendirikan Klinik Hewan Okami yang bertempat di Sudimoro, Malang, serta mengembangkan cabangnya di kawasan Citraland, Surabaya. Kepekaannya terhadap peluang pasar hewan peliharaan juga mendorongnya berpartner mendirikan Pawvillion Dog Cafe di Jalan Langsep Malang, serta memproduksi es krim khusus anjing berlabel Geladogs.
Pada lini F&B lainnya, Hendi mengembangkan jenama Diavel yang beroperasi di Jalan Ciliwung dan Jalan Tidar, Kota Malang. Tak berhenti di situ, ia mengekspansikan jangkauan usahanya ke sektor otomotif dengan mengelola Bengkel Borobudur dan Bengkel Katarun di kawasan Sudimoro.
Sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan lingkungan, Hendi bersama para mitranya mendirikan yayasan pengelolaan sampah terpadu bernama iLiterless.
”Setiap melakukan sesuatu, saya tidak pernah sendirian. Fokus saya adalah membangun ekosistem. Itu yang menjadi passion saya: mempertemukan banyak hal dan mengkoneksikan banyak orang. Ketika ekosistemnya tumbuh, dampak yang diberikan jauh lebih luas daripada kita hanya fokus di satu bidang,” paparnya.
Ia menyadari sebagian pihak menilai pola bisnisnya tidak terfokus pada satu jalur. Namun, Hendi melihat hal tersebut dari sudut pandang helikopter. “Saya merasa nyaman karena dengan cara ini saya bisa berkontribusi kepada masyarakat secara lebih masif,” imbuhnya.
Keterlibatannya di panggung politik sebagai Bendahara Partai Golkar Kota Malang juga dipandang sebagai perpanjangan tangan untuk memperluas dampak sosial tersebut.
”Ketika kita berada di bawah dan bergelut dengan banyak orang, kita menyadari bahwa masalah yang dialami Kota Malang atau Indonesia pada umumnya harus ada yang menjembatani. Masalah itu bisa diselesaikan asal kita mau memiliki suara di dalam sistem,” tegasnya.
Filosofi Memanusiakan ManusiaMenjelaskan kunci bertahan di dunia bisnis, Hendi menekankan pentingnya konsistensi sikap dan mentalitas pantang menyerah.
”Salah satu kunci kesuksesan adalah konsisten. Tetap berangkat walau hujan, tetap berangkat walau sepi, tetap berangkat walau orang menilai ini jauh dari harapan. Konsistensi adalah kunci perubahan, dan yang bisa membuktikannya adalah waktu. Tidak ada kata instan,” ujar Hendi.
Meski demikian, ia tidak menampik adanya faktor keberuntungan (luck) atau hak istimewa (privilege) dalam perjalanan seorang wirausahawan. Menurutnya, keberuntungan berfungsi memangkas durasi waktu yang dibutuhkan dari proses konsistensi tersebut.
”Sangat mungkin keberuntungan itu memangkas waktu konsistensi. Privilege keberuntungan itu kita tidak tahu kapan datangnya. Namun jika digali lebih dalam, tidak ada hal yang kita lakukan secara sendiri. Semua pasti ada faktor bantuan dari pihak lain,” ungkapnya.
Selama 14 tahun mengoperasikan Vosco Coffee, Tantangan terbesar sempat dialami saat pandemi COVID-19 melanda, di mana operasional kedai harus dihentikan sementara (shutdown). Namun, pemahaman mendalam pada Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) yang dipelajarinya saat kuliah menjadi kunci pemulihan.
”Ilmu hard skill MSDM yang saya pelajari adalah tentang memanusiakan manusia. Ini kunci kesuksesan bisnis karena supplier kita manusia, karyawan kita manusia, dan pelanggan kita adalah manusia. Di Vosco hari ini, Anda akan menemukan orang yang sama, di jam yang sama, dengan pesanan yang sama. Mereka adalah kawan-kawan yang menjaga omzet Vosco tetap stabil untuk memenuhi operasional dan keuntungan,” jelasnya.
Transformasi DigitalPandemi COVID-19 menjadi titik balik besar perubahan perilaku konsumen. Hendi mencatat, sebelum pandemi, transaksi makan di tempat (dine-in) menjadi penyokong utama pendapatan. Namun, pascapandemi, peta penjualan bergeser secara signifikan ke platform digital.
Hendi Suryo Leksono terlihat berdiskusi dengan kolega di Vosco Coffee, mencerminkan nilai kolaborasi bisnis. (Foto: Dani Alifian)Saat ini, platform layanan pesan-antar makanan daring seperti ShopeeFood dan sejenisnya menyumbang hingga 60 persen dari total penjualan di grup usaha F&B milik Hendi.
”Perubahan omzet ini didukung oleh perubahan kebiasaan masyarakat secara masif. Dulu orang malas keluar rumah, sekarang sudah terbiasa memesan kopi atau camilan secara online lewat ponsel. Jika platform online ini bermasalah, dampaknya sangat terasa pada penjualan. Karena itu, platform digital sudah layak disebut sebagai wajah baru perekonomian Indonesia,” ungkap Hendi.
Guna menjaga performa di pasar digital yang dibuktikan dengan perolehan rating tinggi 4,8 di platform digital Hendi menerapkan manajemen dapur dan bar yang presisi. Menurutnya, bisnis F&B modern membutuhkan kecakapan matematis, perhitungan biaya platform yang cermat, serta efisiensi waktu penyajian.
”Kelemahan utama transaksi online adalah tidak adanya waktu tunggu yang longgar. Waktu memasak dan menyiapkan pesanan harus sangat singkat. Jika ada keterlambatan, pengemudi (driver) dan pembeli (user) bisa langsung memberikan ulasan bintang satu. Karena itu, driver adalah mitra krusial yang wajib kita layani dengan sangat baik,” tambahnya.
Mengingat besarnya kontribusi transaksi daring yang melebihi 50 persen di industri F&B, Hendi mendorong pemerintah bersama para pelaku usaha untuk merumuskan regulasi ekosistem digital yang sehat dan berimbang.
”Angka 60 persen ini sangat penting. Jika tidak diatur secara detail, dampaknya bisa sistemik bagi mitra pengemudi, karyawan F&B, hingga konsumen. Hal paling penting untuk didiskusikan bersama pemerintah pusat adalah standardisasi potongan komisi dan transparansi biaya iklan agar menciptakan ekosistem bisnis yang berkelanjutan,” urainya.
Makna KebahagiaanKomitmen Vosco Coffee terhadap mutu tidak hanya tecermin dari manajemen operasional, tetapi juga dari rantai pasok bahan baku. Sejak 6 hingga 8 tahun terakhir, Vosco Coffee bermitra langsung dengan koperasi petani kopi di Desa Bocek, Lereng Gunung Arjuno.
Sebagai bentuk apresiasi kepada pelanggan setia, Vosco Coffee secara berkala menggelar program perjalanan edukasi (trip) menuju perkebunan kopi di Desa Bocek menggunakan armada jip.
”Kami mengajak pelanggan loyal untuk melihat langsung tempat di mana biji kopi mereka ditanam. Ini bentuk terima kasih kami sekaligus upaya mengenalkan ekosistem hulu hingga hilir industri kopi lokal,” tutur Hendi.
Di akhir perbincangan, Hendi membagikan pandangan pribadinya mengenai arti kebahagiaan sebuah pertanyaan reflektif yang menurutnya jarang ia dapatkan.
”Kebahagiaan adalah ketika kita bisa memanfaatkan kesempatan yang ada sebaik mungkin. Ketika dikasih ujian dan kita bisa mengerjakannya dengan baik hingga hasilnya bagus, itu bahagia. Ketika dikasih keluangan waktu lalu kita bisa beristirahat, itu juga bahagia,”pungkasnya sembari tersenyum ramah. [dan/suf]




