Wilsen Willim Kolab dengan Dian Sastrowardoyo, Hadirkan Kebaya Bersiluet Tegas

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Sejak memerankan tokoh perempuan ikonis seperti Kartini dan Dasiyah atau Jeng Yah, kebaya seakan tak bisa dipisahkan dari Dian Sastrowardoyo.

Ia pun mengamini hal ini. Menurutnya, kebaya bukan sekadar pakaian tradisional. Ada identitas, sejarah, dan nilai budaya yang melekat di dalamnya. Namun, agar tetap relevan bagi generasi hari ini, kebaya juga perlu menemukan cara baru untuk hadir dalam keseharian.

Gagasan tersebut menjadi salah satu titik temu Dian dengan desainer Wilsen Willim. Keduanya kini berkolaborasi menghadirkan koleksi kapsul busana siap pakai yang mengolah sejumlah siluet busana tradisional Indonesia ke dalam bentuk yang lebih kontemporer.

Kolaborasi ini diluncurkan bertepatan dengan Hari Kebaya Nasional pada 24 Juli 2026 dan menjadi bagian pertama dari koleksi yang akan dirilis dalam dua tahap. Bagian keduanya dijadwalkan hadir pada Hari Batik Nasional pada Oktober mendatang.

Pertemuan Wilsen dan Dian sebenarnya telah berlangsung melalui sejumlah karya sebelumnya. Salah satunya terlihat ketika Dian mengenakan jaket berkerah beskap dengan potongan samping tinggi rancangan Wilsen saat mempromosikan Gadis Kretek di Busan International Film Festival 2023.

Berikutnya, Dian kembali memerankan Jeng Yah ketika berjalan sebagai model penutup presentasi Wilsen Willim pada 2024. Dan kini, kedekatan tersebut berkembang menjadi kolaborasi yang lebih personal.

Babak Pertama: Kebaya Kartini hingga Surjan

Bagian pertama koleksi ini terdiri dari 13 artikel busana siap pakai, mulai dari kemeja, rok, korset, hingga luaran.

Wilsen Willim mengeksplorasi beragam siluet busana tradisional Indonesia, seperti Kebaya Kartini, Kebaya Kutubaru, atasan Janggan, Beskap, Sikepan Hussar khas prajurit Keraton Surakarta, serta Surjan.

Keduanya sepakat tak hanya mereproduksi bentuk kebaya tradisional secara literal. Namun siluet tersebut diterjemahkan kembali dengan pendekatan kontemporer. Palet warna yang dipilih pun cenderung netral, mencakup putih, hitam, merah hati, dan hijau gelap. Materialnya terdiri dari katun, suiting fabric, jacquard, serta batik tulis Cirebon berbahan dasar katun.

Pemilihan warna tersebut bukan tanpa alasan. Wilsen ingin koleksinya cukup fleksibel untuk dikenakan kembali dan dipadukan dengan berbagai wastra Nusantara yang memiliki motif maupun warna lebih dominan.

“Kami sengaja memilih warna-warna netral agar mudah dikenakan kembali atau dipadukan dengan wastra Nusantara yang seringkali bercorak cerah dengan motif dominan,” ujar Wilsen.

Menariknya lagi, kolaborasi ini juga tidak menempatkan Dian Sastrowwardoyo semata sebagai wajah koleksi. Menurut Wilsen, Dian bersama timnya ikut menuangkan ide serta mengkurasi rancangan yang dikerjakan oleh tim Wilsen Willim Studio. Proses tersebut turut melibatkan penata gaya Dian, Hagai Pakan.

"Saya banyak terlibata dalam prosesnya. Sempat datang juga ke studionya Wilsen untuk mencoba bahan, dicek mana yang works dan tidak. Lalu melihat juga styling-nya seperti apa," ungkap Dian saat acara resmi peluncuran koleksi ini di Ashta District 8 pada Kamis (6/8).

Bagi Dian, pendekatan tersebut penting untuk membawa kebaya keluar dari konteks yang terlalu formal. Ia ingin kebaya dapat dikenakan lebih luas oleh perempuan Indonesia tanpa kehilangan akar budayanya.

“Saya ingin mengajak perempuan untuk memikirkan ulang bagaimana caranya mengenakan kebaya dalam kehidupan sehari-hari. Bisa kita pakai dalam kegiatan profesional, seperti yang saya kenakan saat ini, kebaya janggan dipadukan dengan jeans tapi sepatunya, sepatu kantoran,” tambah Dian.

Dalam acara peluncuran ini pun, Dian memadukan kebaya tersebut dengan ripped jeans dan pump heels. Gaya yang cocok untuk menunjang aktivitasnya, salah satunya ketika mengajar di kampus.

Koleksi pertama Wilsen Willim dan Dian Sastrowardoyo ini diperkenalkan kepada publik melalui presentasi terbatas di Plataran Dharmawangsa pada 29 Juli 2026. Setelah itu, koleksi tersebut tersedia dalam acara Heritage Reimagined di Ashta District 8 pada 6–30 Agustus 2026.

Lewat kolaborasi ini, Wilsen dan Dian mempertemukan dua medium yang berbeda: seni peran dan mode. Keduanya berbagi perhatian yang sama terhadap warisan budaya Indonesia, sekaligus melihat kemungkinan untuk membuatnya terus bergerak mengikuti zaman.

Sebab, melestarikan tradisi tidak selalu berarti mempertahankannya dalam bentuk yang sama. Dalam koleksi ini, kebaya dan berbagai siluet busana tradisional lainnya justru diberi ruang untuk berevolusi dan bisa menjadi bagian dari lemari pakaian perempuan Indonesia masa kini.

"Di momen jelang kemerdekaan ini, ketika bicara soal kemerdekaan, kita juga harus memerdekakan perempuan. Lewat fashion, lewat kebaya, kami ingin perempuan Indonesia bisa tampil jauh lebih percaya diri. Saya yakin, dengan banyaknya perempuan yang mandiri dan bisa menunjukkan power, generasi yang mereka didik juga akan punya spirit yang sama," tutup Dian Sastrowardoyo.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kalah Telak dari Chelsea, Ruben Amorim Justru Terpukau dengan Fans AC Milan di Indonesia
• 16 jam laluviva.co.id
thumb
Laga Pembuka Eredivisie: Romeny Cetak Gol, Fortuna Sittard Tahan PSV 2-2
• 10 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pramono Alihkan Transportasi Kepulauan Seribu ke Transjakarta Mulai 2027
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Update Kebakaran Bromo: 3 Helikopter Guyur 4.800 Liter Air ke Titik Api
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Gempa Terkini Guncang Pacitan, Cek Kekuatan Magnitudonya!
• 10 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.