Pantau - Pemerintah Kabupaten Pati, Jawa Tengah, berupaya mengoptimalkan penyerapan garam rakyat melalui industri, gudang penyimpanan, dan koperasi setelah harga garam di tingkat petani turun dari Rp1.100 menjadi sekitar Rp700 per kilogram di tengah musim panen raya.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati Hadi Santosa mengatakan pemerintah daerah akan memanfaatkan fasilitas yang tersedia untuk menampung hasil produksi petani.
"Pemkab Pati tentu akan mengoptimalkan keberadaan industri dan gudang penyimpanan garam rakyat untuk membantu menyerap hasil produksi petani," kata Hadi di Pati, Minggu (9/8/2026).
Salah satu fasilitas yang dinilai dapat membantu penyerapan adalah PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (SPJT), pabrik pengolahan garam industri yang berada di Desa Raci, Kecamatan Batangan.
Kabupaten Pati juga memiliki tiga gudang rakyat ditambah lima gudang yang sudah tersedia untuk mendukung penyerapan garam lokal.
Koperasi Didorong Ikut Menyerap GaramPemkab Pati juga akan mengoptimalkan keberadaan satu koperasi garam serta membuka peluang kolaborasi dengan koperasi desa untuk membantu petani.
"Keberadaan koperasi desa juga bisa dikolaborasikan, sehingga bisa membantu tingkat kesejahteraan para petani garam," ujar Hadi.
Di tengah melimpahnya garam saat musim panen, produktivitas petani pada musim kemarau tahun ini justru tercatat menurun dibandingkan musim kemarau sebelumnya.
Hadi menjelaskan kondisi tersebut dipengaruhi tanah di areal produksi yang masih cenderung basah setelah musim hujan berlangsung cukup panjang.
Tanah yang masih basah menyebabkan proses produksi membutuhkan waktu lebih lama sehingga hasil panen petani ikut menurun.
Harga Garam Turun Jadi Rp700 per KilogramPetani garam asal Desa Ketitang Wetan, Kecamatan Batangan, Ali Muntoha mengatakan proses panen yang sebelumnya membutuhkan waktu tiga hari kini memerlukan sekitar empat hari.
"Jika sebelumnya dalam waktu tiga hari bisa panen, kini butuh waktu hingga empat hari karena uap panas dari tanah tidak maksimal karena selain tawar juga tanahnya cenderung basah. Sedangkan, hasil panennya juga turun menjadi 1 kuintal dari sebelumnya bisa 1,5 kuintal," ujar Ali.
Menurut Ali, panas dari tanah pada pukul 10.00 hingga 11.00 WIB saat ini juga belum maksimal seperti pada musim kemarau tahun-tahun sebelumnya.
Petani menghadapi persoalan lain berupa rendahnya penyerapan karena perusahaan pembuat garam konsumsi disebut belum menerima pasokan bahan baku dari petani.
Kondisi tersebut membuat harga garam yang sebelumnya mencapai Rp1.100 per kilogram turun menjadi sekitar Rp700 per kilogram, meski petani disebut masih memperoleh keuntungan.
Ali berharap pemerintah tidak melakukan impor sehingga produksi garam rakyat tetap memiliki peluang untuk terserap oleh industri dalam negeri.
Kabupaten Pati memiliki lahan produksi garam seluas 2.901,63 hektare yang tersebar di empat kecamatan, sedangkan produksi sepanjang 2025 tercatat mencapai 93.482,23 ton.




