Probolinggo (beritajatim.com) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Gunung Bromo turut dirasakan wisatawan mancanegara. Dua turis asal Prancis, Axel Beriel (28) dan Mélanie Monnot (27), mengaku sempat ketakutan setelah melihat kobaran api dari perbukitan saat malam hari.
Keduanya tiba di kawasan Bromo pada Sabtu (8/8/2026) dan berencana menikmati sejumlah destinasi wisata. Namun, kondisi kebakaran membuat rencana perjalanan mereka berubah.
Axel mengatakan, dirinya bersama Mélanie sudah mengetahui adanya kebakaran di kawasan Bromo sebelum tiba. Informasi tersebut mereka dapatkan melalui internet, Google Maps, hingga media sosial seperti Instagram.
“Yes, but we saw the flames yesterday, actually. We also saw it on Google Maps and Instagram,” ujar Axel.
Meski demikian, keduanya mengaku belum mendapatkan informasi secara jelas mengenai lokasi kebakaran dan sejauh mana api telah meluas.
“We don’t really know what’s happening or where the fire is exactly,” kata Mélanie.
Kekhawatiran mereka semakin terasa ketika malam tiba. Dari kawasan tempat mereka menginap, kobaran api terlihat di perbukitan.
Mélanie mengaku sempat takut api bergerak mendekati permukiman di kawasan Cemoro Lawang.
“We could see the fire at night, and it was very aggressive. Which scared me when I went to sleep because I was like, maybe the fire is going to come to the city,” tuturnya.
Kekhawatiran serupa dirasakan Axel. Ia mengatakan, melihat kobaran api di perbukitan pada malam hari membuat dirinya khawatir kebakaran bergerak semakin dekat ke Cemoro Lawang.
“I was a bit scared because we saw the flames in the hills at night. We were a bit scared that maybe the fire was going to come to Cemoro Lawang,” ujarnya.
Meski sempat dilanda ketakutan, Axel menilai situasi di sekitar Cemoro Lawang masih terlihat terkendali. Ia juga melihat masyarakat dan wisatawan tidak menunjukkan kepanikan.
“But it seems that it’s under control and nobody is stressed here, so it’s a good sign,” katanya.
Keduanya sebenarnya memiliki rencana untuk menikmati kawasan Gunung Bromo lebih jauh, termasuk menuju kawasan Bromo pada Minggu (9/8/2026). Namun, adanya pembatasan akses akibat karhutla membuat rencana tersebut belum dapat dipastikan.
Axel mengatakan, mereka baru menikmati matahari terbit pada Minggu pagi. Untuk agenda selanjutnya, mereka masih mencari alternatif kegiatan karena kawasan savana terdampak kebakaran dan sejumlah akses wisata dibatasi.
“We wanted to go up Bromo this afternoon, but we don’t know yet. We’re going to look what we can do,” kata Axel.
Mélanie mengatakan, kebakaran tersebut memang membuatnya khawatir, tetapi tidak sampai membuatnya kecewa terhadap perjalanan mereka ke Bromo.
“It happens, and it’s life. So we’re just going to try to enjoy as much as we can here,” ujarnya.
Keduanya mengaku baru pertama kali berkunjung ke Bromo. Mereka dijadwalkan meninggalkan kawasan tersebut pada Senin (10/8/2026), sehingga Minggu menjadi hari terakhir perjalanan mereka.
Meski aktivitas wisata terdampak kebakaran, Mélanie tetap mengaku mendapatkan pengalaman berkesan saat menyaksikan matahari terbit dari kawasan Bromo. “We enjoyed the sunrise. It was really nice,” katanya.
Ia bahkan menyebut panorama matahari terbit yang mereka saksikan dari perbukitan sangat indah. “It was really beautiful,” pungkasnya. (rap/aje)




