JAKARTA, KOMPAS.com - Selama 47 tahun, Yayasan Harapan Ibu Pondok Pinang (YHI-PP) berdiri dengan satu cita-cita, yakni memperluas dan meningkatkan mutu pendidikan bagi tunas-tunas bangsa.
Yayasan Harapan Ibu (YHI), yang kemudian berubah nama menjadi YHI-PP, didirikan pada 7 Juni 1979.
Lembaga ini menaungi jenjang pendidikan mulai dari taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga sekolah menengah atas (SMA) Islam.
Baca juga: 580 Siswa Sekolah Harapan Ibu PJJ Sepekan Usai Temuan 995 Senjata
Namun, perjalanan hampir lima dekade yayasan tersebut kini menghadapi persoalan serius.
Pihak yayasan menyebut tengah berupaya mengembalikan lembaga pendidikan tersebut kepada tujuan awal pendiriannya setelah muncul berbagai persoalan dalam pengelolaan yayasan, termasuk temuan 995 pucuk senjata di salah satu ruangan sekolah.
Berawal dari PengajianSalah satu pendiri awal YHI-PP, Yan Sofyan Syafe'i, masih mengingat bagaimana gagasan mendirikan sekolah tersebut bermula.
Pada 1979, Yan bersama sejumlah tokoh lainnya berguru kepada KH Mawardi Labay el-sulthani melalui kegiatan pengajian.
Dari pertemuan tersebut, muncul gagasan untuk membangun sekolah.
"Dahulu pada waktu tahun 79 saya yaitu kami berlima, saya sendiri, Pak Mahwardi Labae selaku ustaz kami, Pak Hari Dahlan Safri, dan Pak Oto Malik yaitu putra dari Pak Adam Malik," kata Yan dalam konferensi pers di Savannah Cafe & Resto, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (9/8/2026).
Para penggagas kemudian menemui Adam Malik yang saat itu menjabat Wakil Presiden Republik Indonesia.
Baca juga: Usai Temuan 995 Senjata, Yayasan Sekolah Harapan Ibu Minta Perlindungan KPAI hingga Kemendikdasmen
Yan mengatakan, Adam Malik kemudian mengarahkan mereka untuk memanfaatkan tanah miliknya di kawasan Pondok Pinang, Kebayoran, Jakarta Selatan.
"Awalnya itu dari pengajian. Jadi kami pada waktu itu berguru kepada Pak Ustad Mahwardi Labae kemudian beliau katakan bagaimana kalau kita bikin sekolah?" ujar dia.
Dari gagasan tersebut, YHI mulai dibangun.
Tujuan pendiriannya bukan sekadar menyediakan pendidikan formal, tetapi juga membentuk anak-anak bangsa yang memiliki pendidikan sekaligus nilai-nilai agama.
"Kita buat yayasan itu dengan visi dan misi untuk mencerdaskan anak-anak bangsa dan kita berkeinginan agar anak-anak bangsa kita itu dapat betul-betul menjadi manusia yang seutuhnya yaitu yang beragama yang berpendidikan dan juga mudah-mudahan dapat menjadi pemimpin bangsa di kemudian hari," kata Yan.
Sekolah kemudian berkembang. Jumlah siswa yang belajar di YHI bahkan pernah mencapai sekitar 2.500 orang.
Kini, jumlah siswa disebut sekitar 500 orang seiring semakin banyaknya sekolah lain yang berdiri.
Pendiri Ingin Sekolah Kembali ke KhittahEmpat puluh tujuh tahun setelah yayasan berdiri, Yan kini menjadi satu-satunya pendiri awal yang masih hidup.
Para pendiri lainnya, antara lain Adam Malik, Letjen TNI (Purn) KPH Soerjo Wirjohadipoetro atau Soerjo, serta KH Mawardi Labay el-sulthani, telah meninggal dunia.
Yan mengaku bersyukur masih dapat melihat sekolah yang dibangun bersama rekan-rekannya tetap berjalan.
Namun, ia juga mengaku sedih melihat berbagai persoalan yang kini muncul di lingkungan sekolah.
Baca juga: Temuan 995 Senjata di Sekolah Picu Sorotan soal Pengawasan dan Pelindungan Siswa





