Oleh: Ahmad Dumyathi Bashori, Dosen Senior Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Penggiat Forum for Strategic and Future Studies (FSFS) Depok
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketika fajar merayapi Kakbah pada 7 Agustus 2026, sebuah peristiwa bersejarah mencatatkan titik balik geopolitik abad ke-21. Di bawah naungan Kota Suci Makkah, Presiden Recep Tayyip Erdoğan, Putra Mahkota Mohammed bin Salman, dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif memeterai Mecca Joint Defence Agreement (MJDA) (Republika, 8/8/2026).
Dinyatakan lewat doktrin pertahanan kolektif yang tegas, bahwa serangan terhadap salah satu negara anggota dianggap sebagai serangan terbuka terhadap ketiganya, peristiwa ini bukan sekadar prosesi diplomatik seremonial. Ini adalah manifesto lahirnya arsitektur keamanan mandiri terbesar di Dunia Islam, sebuah respons strategis langsung atas guncangan hebat pasca-eskalasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang mengorbankan stabilitas Teluk, mengancam pelayaran di Selat Hormuz, serta merusak tatanan keamanan kawasan sejak awal tahun.
Baca Juga
AI Makin Cerdas, Manusia Jangan Kehilangan Peran
Untuk Mahasiswa S1 dari Kampus Negeri, Beasiswa Ini tak Sekadar Tawarkan Uang Kuliah
Tindak Lanjut Aduan Mahasiswa Mentan Langsung ke Alor
Secara teknologis dan keperkasaan militer, Poros Islamabad–Ankara–Riyadh menghadirkan sinergi segitiga emas yang amat menakutkan bagi lawan. Turki membawa superioritas industri pertahanan independen yang sedang berada di puncak kejayaannya. Sebagai kekuatan militer terbesar kedua di NATO dengan lebih dari 480 ribu prajurit aktif dan 350 ribu cadangan, Ankara menyumbang tingkat kemandirian alutsista yang menembus angka 80 persen. Kekuatan maritimnya diperkuat kapal induk helikopter TCG Anadolu serta korvet canggih proyek MILGEM.
Di udara, Turki memimpin era perang otonom melalui super-ekosistem drone Bayraktar TB3, Akinci, jet tempur nirawak siluman KIZILELMA, serta program jet tempur generasi kelima KAAN. Lebih dari itu, Turki memiliki ekosistem pertahanan udara mandiri seperti sistem rudal Hisar dan Siper yang membebaskan kawasan dari dikte embargo Barat.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Di sisi lain, Pakistan menyumbangkan bobot pengalaman/keahlian (veterancy), dan daya gentar (deterrence) kuantitatif yang masif. Mengomandoi lebih dari 650 ribu personel aktif dan 550 ribu pasukan cadangan—yang menjadikannya angkatan bersenjata berdiri terbesar keenam di dunia—posisi Islamabad sangat krusial.
Selain diperkuat ratusan jet tempur JF-17 Thunder Block III yang terintegrasi dengan avionik modern serta tank tempur utama VT-4, kekuatan terpenting Pakistan terletak pada kemampuan doktrin tempur yang teruji dan statusnya sebagai satu-satunya negara berpenduduk mayoritas Muslim yang menggenggam kekuatan Triad Nuklir.
Dengan doktrin pencegahan strategis yang ditopang rudal balistik Shaheen-III berdaya jangkau 2.750 kilometer serta rudal jelajah Babur, kehadiran Pakistan membayangi pakta ini dengan aspek deterensi psikologis tingkat tinggi yang serta-merta membentengi kawasan Teluk.
Lalu di mana posisi Arab Saudi dalam persamaan ini? Kerajaan tidak lagi hanya bertindak sebagai donor pasif, melainkan penggerak utama dan episentrum modal. Dengan anggaran pertahanan raksasa yang konsisten berkisar antara 70 hingga 85 miliar dolar AS per tahun—salah satu yang terbesar di dunia—Riyadh membawa keunggulan finansial tak terbatas serta armada udara kelas wahid.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.