REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wisata kebugaran atau wellness tourism berpotensi menjadi salah satu andalan baru pariwisata Indonesia seiring meningkatnya tren wisata yang tidak hanya menawarkan rekreasi, tetapi juga pengalaman untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup.
Peluang tersebut semakin terbuka karena Indonesia memiliki kekayaan alam, budaya, serta tradisi kebugaran yang dapat dikembangkan menjadi produk wisata bernilai tambah. Pemerintah juga mulai memperkuat pengembangan ekosistem wellness tourism, dengan Jakarta dan Bali ditetapkan sebagai lokus awal pengembangan wisata kebugaran pada 2026–2027.
Secara global, potensi ekonomi sektor wellness tourism juga terus berkembang. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Pariwisata memperkirakan nilai ekonomi wellness tourism global mencapai 1,08 triliun dolar AS pada 2026 dan diproyeksikan meningkat menjadi 2,4 triliun dolar AS pada 2035.
Indonesia dinilai memiliki modal untuk mengambil bagian dalam pertumbuhan tersebut. Selain destinasi alam, Indonesia memiliki kekayaan tradisi kebugaran, spa dan pijat berbasis budaya, pengobatan tradisional, serta berbagai pengalaman berbasis alam yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari produk wellness tourism. Kajian Kementerian Pariwisata juga menempatkan kekuatan tersebut sebagai peluang Indonesia dalam persaingan sektor wisata kebugaran global.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Salah satu upaya memperkuat ekosistem tersebut ditandai dengan berdirinya Perkumpulan Penggiat Wisata Kebugaran Indonesia (PERWAKIN). Organisasi tersebut resmi dibentuk melalui Kongres Pendirian yang digelar di Park Hyatt Jakarta, Sabtu (8/8/2026).
Ketua Organizing Committee Kongres Pendirian PERWAKIN, Fikri Aziz, mengatakan Indonesia memiliki modal sosial, budaya, dan kekayaan alam yang besar untuk menjadi salah satu destinasi wellness tourism unggulan di Asia.
“PERWAKIN hadir bukan hanya sebagai perkumpulan, melainkan sebagai penggerak ekosistem. Fokus utama kami adalah mengangkat kearifan lokal kebugaran Nusantara agar memiliki standar kualitas tinggi, bersertifikasi, dan mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara secara berkelanjutan,” ujar Fikri.
Menurut dia, pengembangan wisata kebugaran membutuhkan kolaborasi antara berbagai sektor, termasuk kesehatan, olahraga, pariwisata, akademisi, dan dunia usaha. Karena itu, PERWAKIN diharapkan dapat menjadi ruang kolaborasi sekaligus mendorong pelaku usaha untuk meningkatkan kualitas produk dan layanan.
Pengembangan wellness tourism tidak sebatas menghadirkan fasilitas kebugaran. Konsep tersebut mencakup pengalaman wisata yang mendukung kesehatan fisik dan mental, mulai dari aktivitas olahraga, relaksasi, kuliner sehat, pemanfaatan alam, hingga praktik kesehatan dan kebugaran yang bersumber dari kearifan lokal.
Indonesia memiliki peluang untuk mengemas berbagai potensi tersebut menjadi pengalaman wisata yang lebih terintegrasi. Kekayaan alam seperti kawasan pegunungan, pantai, hutan, dan sumber air panas dapat dikombinasikan dengan tradisi budaya serta layanan kebugaran untuk menciptakan produk wisata yang memiliki karakter khas Indonesia.
Namun, pengembangan sektor tersebut membutuhkan peningkatan kualitas sumber daya manusia, layanan, standardisasi, sertifikasi, serta inovasi produk. Aspek tersebut penting agar kekayaan lokal dapat dikembangkan menjadi produk wisata yang aman, berkualitas, dan mampu memenuhi kebutuhan wisatawan internasional.
Fikri mengatakan standardisasi menjadi salah satu bagian penting dalam membawa kearifan lokal kebugaran Indonesia ke pasar yang lebih luas.
“Indonesia memiliki kekayaan tradisi kebugaran yang beragam. Jika dikembangkan secara terintegrasi dengan standar pelayanan dan kualitas internasional, kekayaan tersebut dapat menjadi daya tarik baru bagi wisatawan domestik maupun mancanegara,” katanya.