Jakarta, tvOnenews.com – Gangguan penglihatan masih menjadi salah satu persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian di Indonesia. Tak hanya keluhan seperti mata minus, plus, atau silinder, sejumlah penyakit mata dan gangguan kesehatan kronis juga dapat berkaitan dengan kondisi retina.
Karena itu, pemeriksaan mata secara berkala dinilai penting untuk membantu mendeteksi gangguan kesehatan sejak dini, terutama sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
Data Survei Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) yang dilakukan pada 2014–2016 menunjukkan angka kebutaan pada penduduk berusia 50 tahun ke atas mencapai sekitar 3 persen. Katarak tercatat sebagai salah satu penyebab kebutaan tertinggi.
Di tengah kebutuhan tersebut, perkembangan teknologi turut membuka peluang untuk melakukan skrining kesehatan secara lebih praktis. Salah satunya melalui teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memanfaatkan citra retina untuk membantu mengidentifikasi sejumlah kondisi kesehatan.
General Manager Operation Optik Melawai James Hadisurjo mengatakan, perusahaan kini tidak hanya ingin berfokus pada layanan optik, tetapi juga memperluas perhatian terhadap kesehatan mata dan pendengaran.
"Kami ingin terus meningkatkan standar pelayanan di seluruh Indonesia, memperluas layanan kesehatan mata, agar setiap orang mendapatkan pelayanan yang lebih personal, akurat, dan sesuai dengan kebutuhannya," kata James saat konferensi pers Eye Wear Exhibition 45 Years Anniversary di Jakarta.
Salah satu teknologi yang diperkenalkan adalah Retina Scan AI. Pemeriksaan tersebut memanfaatkan gambar retina yang kemudian dianalisis menggunakan modul AI.
Retina merupakan lapisan tipis di bagian belakang mata yang berfungsi menangkap cahaya. Pembuluh darah dan saraf yang terdapat pada retina memiliki keterkaitan dengan sistem tubuh lainnya, sehingga citra retina dapat digunakan sebagai salah satu sumber informasi dalam proses skrining.
Melalui teknologi tersebut, pemeriksaan diklaim dapat membantu mendeteksi enam penyakit mata, yakni retinopati diabetik, retinopati hipertensi, glaukoma, degenerasi makula, miopia patologis, dan ablasio retina.
Selain itu, skrining juga mencakup sejumlah kondisi kronis, seperti hipertensi, diabetes melitus, stroke, penyakit jantung koroner, gagal jantung, anemia, tumor otak, dan penyakit paru.
Prosesnya dilakukan dengan mengambil gambar retina untuk kemudian dianalisis oleh sistem AI. Hasil pemeriksaan dapat diperoleh dalam waktu kurang dari lima menit dan tidak membutuhkan pengambilan darah.




