Liputan6.com, Jakarta - Jarum jam menunjukkan pukul 19.00 WIB. Hari itu, Rabu (5/8/2026) di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita, Jakarta Barat. Angie menyambut kedatangan suami dan anaknya.
Mereka datang membawakan pakaian bersih, sekaligus mengambil pakaian kotor milik Angie. Sudah hampir sebulan, sejak 13 Juli 2026, Angie lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Menjalankan pekerjaannya sebagai caregiver.
Advertisement
Caregiver adalah seseorang yang menyediakan jasanya untuk menemani dan merawat pasien di Rumah Sakit. Perannya semakin dibutuhkan di tengah keluarga yang diliputi kesibukan dan terkurung dalam rutinitas pekerjaan. Sehingga tak bisa menjaga keluarganya di RS.
Angie, perempuan berusia 35 tahun itu tengah menjalani tugasnya menemani seorang pasien lanjut usia (lansia) selama 18 jam sehari. Jam kerjanya dimulai pukul 21.00 WIB dan berakhir pukul 15.00 WIB.
Meski tugasnya baru dimulai pukul 21.00 WIB, Angie memilih datang lebih awal. Sekitar pukul 19.00 WIB, sekedar untuk mendapatkan tempat di ruang tunggu HCU (High Care Unit) dan ICU (Intensive Care Unit) RS Harapan Kita yang dipadati anggota keluarga pasien lain.
“Kalau enggak nanti sudah enggak dapat tempat (untuk menunggu),” kata Angie kepada Liputan6.com.
Di ruang tunggu HCU dan ICU RSJPD, Angie meletakkan ransel dan barang-barangnya di kursi besi. Sebagian keluarga pasien lain memilih menggelar alas di lantai untuk beristirahat sambil menunggu kabar dari dalam ruang perawatan intensif.
Di sela menunggu, Angie berbagi cerita. Dia hampir tak pernah pulang selama menjaga pasiennya. Waktu jeda selepas jam kerja berakhir, sering kali hanya cukup digunakan untuk mandi, berganti pakaian, lalu kembali lagi ke rumah sakit.
“Makanya aku jarang pulang karena jam 7 harus standby di sini. Kadang sih pulang, bisa selonjoran kaki di rumah. Tapi setelah itu balik lagi, karena kalau telat ya enggak dapat tempat,” ujarnya.
Pasien yang saat ini didampingi Angie bukan orang baru. Lansia berusia sekitar 70 tahun itu pernah menggunakan jasanya saat dirawat di rumah sakit lain beberapa bulan sebelumnya. Ketika kondisinya kembali memburuk akibat penyakit jantung, keluarga kembali menghubungi Angie.
Di RSJPD, Angie dituntut peka dan teliti. Dia harus bersiap saat mendengar imbauan dari petugas. Petugas kesehatan biasanya rutin melakukan pendataan hingga meminta anggota keluarga untuk menebus obat.
Jika mendapat izin petugas, Angie diperbolehkan masuk menemani pasien. Biasanya, di dalam ruang ICU, Angie membantu menyuapi makanan, mengajak berbincang, sekaligus memperhatikan kondisi kesehatan pasien di layar monitor atau yang disebut patient monitor.
Dia mencatat tekanan darah, saturasi oksigen, suhu tubuh hingga kebutuhan perlengkapan seperti popok dan tisu basah. Semuanya itu disampaikan kepada keluarga.
“Aku sambil catat tensinya berapa, saturasinya berapa, terus lihat pampers atau tisu basahnya habis apa enggak. Nanti aku laporin ke keluarga supaya mereka datang sudah siap bawa kebutuhannya. Aku juga tanya ke suster hasil darahnya bagaimana, tindakan apa yang akan dilakukan. Jadi keluarga tinggal melanjutkan saja,” ucap Angie.




