Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali meneror Sumatera Selatan seiring tibanya musim kemarau yang disertai fenomena El Nino. Rasa cemas rumah ikut terlalap api dan keluhan kesehatan pun menghantui warga di kawasan rawan. Hingga kini, Manggala Agni dan instansi terkait lainnya terus berjibaku memadamkan karhutla agar tidak berdampak lebih parah terhadap masyarakat.
Langit di Desa Arisan Jaya, Kecamatan Pemulutan Barat, Kabupaten Ogan Ilir, Sumsel, mendadak pekat pada Sabtu (8/8/2026) sore. Angin kencang yang berhembus sekitar pukul 15.30 WIB mengubah titik api kecil pada semak belukar di hamparan lahan tidur menjadi kobaran beringas yang terus merangsek menuju permukiman warga.
Melihat jarak api hanya tersisa sekitar 50 meter dari permukiman, warga setempat, Yanti (49), sontak meninggalkan aktivitas mencari pakan ternak untuk bergegas pulang ke rumah. Kepanikan meneror Yanti karena rumahnya dan hunian para tetangga berupa rumah panggung berstruktur kayu yang sangat rentan dilalap api.
”Saya takut sekali api makin mendekat dan ikut membakar rumah. Apalagi bara api itu terus berterbangan terbawa angin kencang. Kalau kena atap atau kolong rumah yang tanahnya sudah kering, bara api itu bisa langsung melalap rumah kami,” ujar Yanti saat ditemui Kompas.
Beruntung, parit pembatas antara lahan yang mengalami kebakaran dan permukiman warga masih berisi air. Itu menjadi benteng terakhir yang menahan rambatan api agar tidak langsung melompat ke sejumlah rumah. ”Kalau parit ini kering, mungkin api langsung merambat ke rumah-rumah kami,” ucap Yanti.
Bukan hanya kepanikan, masyarakat yang hidup berdekatan dengan area rawan karhutla pun harus bersiap menghadapi kepungan asap yang mengancam kesehatan. Wahina (66), lansia yang bermukim di Desa Arisan Jaya sejak 1977, mengaku sangat tersiksa dengan kondisi berulang tersebut.
”Kalau terjadi karhutla, kami di sini bukan hanya dikepung asap tetapi mau tidak mau ’makan asap’. Sebab, asap masuk sampai ke dalam rumah. Kalau asap semakin pekat, rasanya lebih menyiksa karena membuat mata selalu perih dan napas menjadi sesak,” keluh Wahina.
Roda kehidupan masyarakat pun sangat terganggu. Saat asap semakin pekat dan kesehatan terus menurun, warga harus mencari solusi sendiri dengan menyingkir dan mengungsi ke rumah kerabat di daerah yang kualitas udaranya masih lebih baik.
”Kalau sudah mengungsi, kami terpaksa meninggalkan semua pekerjaan harian kami sebagai petani dan buruh pertanian di sekitar tempat tinggal. Tanpa penghasilan dari kerja harian tersebut, kami harus hidup bergantung dengan kerabat di tempat mengungsi atau berhutang untuk memenuhi kebutuhan,” ujar Wahina.
Keresahan serupa dirasakan oleh Sarnubi (29), warga di Desa Ibul Besar III, Kecamatan Pemulutan, Ogan Ilir. Selama musim karhutla, malam hari yang seharusnya menjadi waktu istirahat berubah menjadi jadwal siaga penuh.
Salah satunya tampak saat karhutla melahap berhektar-hektar lahan tidur di sekitar permukiman di sana, Sabtu malam. Api yang menyala hebat itu membuat sejumlah warga mengurungkan niat istirahat atau tidur karena harus terus berjaga-jaga.
Walau kebakaran berhasil dijinakkan tim pemadam beberapa jam kemudian, warga tetap merasa was-was. ”Karhulta selalu terjadi di lahan tidur sekitar sini setiap musim kemarau. Tetapi, kebakaran kali ini sangat besar dan dekat dengan permukiman. Kalau sudah begini, kami tidak bisa tidur nyenyak di malam hari. Kami harus terus waspada karena karhutla bisa terjadi berulang tiba-tiba,” kata Sarnubi.
Kepanikan, keresahan, maupun keluhan yang dirasakan para warga itu menunjukkan, ancaman karhutla seolah menjadi lingkaran setan yang tak berujung, terutama di kawasan rawan setiap musim kemarau. Di samping gerak cepat tim pemadam, warga berharap ada solusi permanen yang bisa meminimalisir risiko karhutla terus berulang.
”Mungkin, lahan tidur sebaiknya dikelola saja oleh warga, perusahaan, atau pemerintah supaya ada yang selalu mengawasi dan langsung melakukan pemadaman saat muncul api. Selain itu, parit pembatas di sekitar lahan tidur perlu dibuat berlapis untuk mencegah api meluas ke permukiman warga,” tutur Sarnubi.
Sementara itu, di lapangan, bukan perkara mudah bagi para petugas untuk memadamkan karhutla. Deni Ismanto, Ketua Tim Manggala Agni Daerah Operasi (Daops) Sumatera XII/Muara Tebo, Jambi, yang diturunkan membantu di Desa Palemraya, Kecamatan Indralaya Utara, Ogan Ilir, mengatakan, angin kencang menjadi tantangan berat proses pemadaman saat ini.
Kebakaran di lahan semi-gambut seluas kurang lebih 20 hektar di Desa Palemraya misalnya. Api yang sudah dipadamkan bisa mendadak menyala kembali karena ditiup angin kencang. ”Arah angin juga terus berubah-ubah. Kadang, angin berbalik dan meniupkan api ke arah petugas yang sedang menyemprotkan air,” kata Deni.
Personel Manggala Agni Daops Banyuasin, Sumsel, Agus Supriyadi, mengatakan, intensitas dan frekuensi karhutla di Sumsel meningkat drastis sebulan terakhir seiring masuknya musim kemarau. Karena faktor cuaca yang panas terik, banyak lahan yang mengering sehingga bahan bakaran atau material yang mudah terbakar berlimpah.
Keadaan lebih kritis terjadi di wilayah gambut yang tersebar luas di Ogan Ilir dan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Ditambah faktor angin kencang, karhutla pun semakin mudah terjadi, membesar, meluas, dan berulang di lokasi yang sama.
Akan tetapi, tantangan kian pelik dengan mulai menyusutnya sumber air untuk pemadaman. Bahkan, di sejumlah lokasi, tidak ada sumber air yang tersisa sehingga petugas harus memadamkan manual dengan menimbun api menggunakan tanah atau minta bantuan pemadaman udara oleh helikopter water bombing.
”Musim kemarau kali ini lebih panas dan lebih panjang dari biasanya karena pengaruh fenomena El Nino. Itu turut berdampak terhadap mengeringnya sumber air untuk pemadaman. Ketiadaan air adalah tantangan paling berat untuk petugas di lapangan,” terang Agus.
Meski sangat dipengaruhi oleh cuaca ekstrem atau alam, menurut Kepala Balai Pengendalian Karhutla Wilayah Sumatera Ferdian Krisnanto, potensi lahan terbakar dengan sendirinya sangatlah kecil. Pemicu utamanya tetap ulah manusia, baik yang tidak sengaja maupun disengaja.
Tak jarang, karhulta dipicu oleh orang-orang yang membuang benda terbakar, seperti puntung rokok sembarangan di area kering yang rawan. Sebaliknya, tidak menutup kemungkinan, karhutla disebabkan oleh oknum yang sengaja membuka lahan dengan cara membakar demi kepraktisan dan hemat biaya.
Sosialisasi larangan membuang puntung rokok sembarangan dan membuka lahan dengan membakar terus dilakukan oleh petugas. Akan tetapi, praktik tidak bertanggung jawab itu masih sering terjadi, termasuk membuka lahan dengan membakar yang sejatinya ada sanksi pidana. ”Butuh penegakan hukum tegas kepada pihak yang menyebabkan karhutla agar menimbulkan efek jera,” ujar Ferdian.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan, melalui arahan Presiden Prabowo Subianto, koordinasi lintas sektor antara kementerian/lembaga terkait dan pemerintah daerah telah diperketat sejak Juni untuk menghadapi kerawanan karhutla. Salah satunya dengan disiapkan helikopter water bombing untuk membantu proses pemadaman, antara lain lima unit di Sumsel.
”Kalau melihat tren dan angka kejadian karhutla, pengaruh El Nino biasanya terjadi empat tahun sekali, seperti 2015, 2019, dan 2023. Kali ini, El Nino yang harusnya muncul pada 2027 justru terjadi lebih cepat. Tetapi, dengan koordinasi yang baik dari semua pihak, kita optimis bisa menangani karhutla tahun ini agar angka kejadiannya tidak sebesar dampak El Nino pada 2023,” kata Raja Juli.
Selain itu, Raja Juli memperingatkan seluruh pihak yang masih membakar lahan demi efisiensi biaya, khususnya oleh korporasi. Pihaknya sepakat dengan kepolisian dan kejaksaan untuk menindak tegas perusahaan yang menggunakan cara murah meriah berdampak fatal tersebut. ”Apabila ada perusahaan yang melakukan praktik yang memicu dampak buruk untuk lingkungan dan kesehatan masyarakat tersebut, saya minta jangan segan-segan untuk ditindak tegas,” tuturnya.
Di tengah pancaran matahari yang kian menyengat dan lahan-lahan yang mengering, sinergi antara kesadaran masyarakat, ketangguhan Manggala Agni, serta ketegasan aparat hukum menjadi kunci utama mencegah karhutla. Tanpa itu, jerit sesak napas warga di sekitar lokasi rawan karhutla akan terus menjadi tragedi berulang di setiap musim kemarau.





