Mata uang rupiah mengawali perdagangan awal pekan dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Dikutip dari data Bloomberg, rupiah membuka perdagangan di level Rp 17.813 per dolar AS menguat 0,46% atau 84 poin.
Pantauan Katadata hingga pukul 09.03 rupiah kian menguat berada di level Rp 17.810 per dolar AS naik 0,87% atau 49 poin.
Adapun pada perdagangan sebelumnya rupiah ditutup di level Rp 17.897 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah menguat 0,15% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.923 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah diproyeksikan menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini. Potensi penguatan ditopang oleh melemahnya dolar AS setelah rilis data ketenagakerjaan AS menunjukkan kinerja yang lebih lemah dari ekspektasi.
Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan rupiah berpeluang bergerak menguat seiring tekanan terhadap dolar AS setelah data Non-Farm Payrolls (NFP) AS yang dirilis Jumat lalu berada jauh di bawah harapan pasar.
"Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS yang tertekan setelah data pekerjaan AS NFP pada hari Jumat yang jauh lebih lemah dari harapan memicu menurunnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed," kata Lukman. Menurut dia, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp 17.800-Rp 17.950 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Senada, Senior Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C Permana memperkirakan rupiah berpeluang mengalami penguatan. Fikri mengatakan salah satu sentimen utama yang menopang rupiah berasal dari memburuknya data tenaga kerja AS. Kondisi tersebut tercermin dari penurunan NFP dan participation rate.
"Semoga terapresiasi ke 17.880 per USD," ujar Fikri.
Selain data ketenagakerjaan AS, Fikri menyebut meredanya ketegangan di Timur Tengah turut menjadi katalis positif bagi rupiah.
Faktor lain yang menjadi perhatian pasar adalah penantian terhadap calon gubernur Bank Indonesia (BI). Pelaku pasar akan mencermati sosok yang nantinya memimpin bank sentral serta arah kebijakan yang akan ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah dan perekonomian.
Dari pasar domestik, sentimen positif juga datang dari arus modal asing di pasar saham. Fikri mencatat adanya net buy asing di IHSG pada akhir pekan lalu, yang berpotensi memberikan dukungan terhadap pergerakan rupiah.




