jpnn.com, JAKARTA - Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (FK UPH), Tiffney Tyara Setyoko, meraih Juara 1 Program Sarjana Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Tingkat Nasional 2026.
Kompetisi mahasiswa berprestasi tingkat nasional itu diselenggarakan di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.
BACA JUGA: UPH Torehkan Sejarah: Tiffney Tyara Setyoko Raih Juara 1 PILMAPRES Nasional
Prestasi itu memiliki arti khusus karena Tiffney menjadi mahasiswa pertama dari perguruan tinggi swasta (PTS) yang berhasil meraih Juara 1 Pilmapres Nasional sejak kompetisi tersebut diselenggarakan pada 2014.
Mahasiswi Pendidikan Dokter UPH angkatan 2023 tersebut mewakili UPH dan LLDIKTI Wilayah III setelah sebelumnya meraih Juara 1 Pilmapres Tingkat Wilayah.
BACA JUGA: Binus dan UPH Juara Campus League 2026 Regional Jakarta
Dari ratusan mahasiswa yang mengikuti proses seleksi di 17 wilayah LLDIKTI, 60 di antaranya melaju ke tingkat nasional dan akhirnya terpilih 19 finalis dari berbagai perguruan tinggi Indonesia.
Pada tahap final yang berlangsung pada 4–7 Agustus 2026, para peserta dinilai bukan hanya berdasarkan prestasi akademik, tetapi juga capaian unggulan, gagasan kreatif dan inovatif, kemampuan analitis, kepemimpinan, komunikasi, wawasan umum, presentasi, wawancara, serta kemampuan berbahasa Inggris.
BACA JUGA: Multipolar Technology-Tsinghua University-UPH Kolaborasi dalam Global Health AI
Dalam Pilmapres Nasional 2026, Tiffney membawa gagasan “Smart Febrile Patch”, wearable sensor non-invasif berbasis keringat yang dirancang untuk membantu skrining dini tingkat keparahan penyakit infeksi yang ditandai dengan demam.
"Gagasan ini dilatarbelakangi persoalan nyata di masyarakat: demam merupakan salah satu gejala awal berbagai penyakit infeksi, tetapi masyarakat sering kali tidak memiliki parameter obyektif yang sederhana untuk mengetahui kapan suatu kondisi memerlukan perhatian medis lebih lanjut," kata Tiffney dalam keterangan tertulisnya dikutip Senin (10/8).
Smart Febrile Patch dirancang untuk mengukur biomarker fisiologis yang dapat membantu memberikan informasi awal mengenai respons inflamasi dan kondisi fisiologis tubuh.
Tiffney berharap teknologi tersebut pada waktunya dapat membantu masyarakat mengambil keputusan lebih dini untuk mencari pertolongan medis sekaligus mengurangi risiko keterlambatan penanganan dan penggunaan antibiotik secara tidak rasional.
Sebelum meraih Pilmapres Nasional, Tiffney telah menunjukkan konsistensi dalam akademik, penelitian, kompetisi, dan organisasi.
Dia pernah meraih Most Outstanding Student FK UPH – Academic Category, Juara 1 AORTA Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin 2026 sekaligus Most Valuable Player, serta berbagai prestasi dalam kompetisi kedokteran dan sains.
Dalam bidang penelitian, Tiffney terlibat dalam publikasi ilmiah pada jurnal Scopus Q1 dalam bidang hipertensi dan kanker kolorektal. Ia juga pernah menjadi oral presenter dalam forum Asia Pacific bidang alergi dan imunologi serta mengikuti program pertukaran riset di National Defense Medical Center, Taiwan.
Di luar kegiatan akademik dan riset, Tiffney aktif dalam berbagai organisasi dan kegiatan kemahasiswaan di FK UPH.
Tiffney mengatakan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil dari perjalanan panjang dan dukungan banyak pihak.
“Puji Tuhan, saya sangat bersyukur. Saya percaya semua yang saya raih merupakan anugerah Tuhan dan tidak terlepas dari dukungan keluarga, para dosen, pembimbing, dan UPH yang terus mendampingi saya selama proses persiapan,” ujar Tiffney.
Baginya, menjadi mahasiswa pertama dari PTS yang meraih Juara 1 Pilmapres Nasional bukan hanya sebuah kebanggaan.
Ini juga merupakan tanggung jawab.
Pada kesempatan sama, Dekan Fakultas Kedokteran UPH, Prof. Dr. Dr. dr. Eka J. Wahjoepramono, Sp.BS., Ph.D., menyampaikan, pencapaian Tiffney patut disyukuri karena memperlihatkan arah pendidikan kedokteran semakin menghubungkan ilmu pengetahuan dengan riset, inovasi, dan kebutuhan nyata masyarakat.
“Kami sangat bersyukur dan bangga atas pencapaian Tiffney. Namun bagi kami, yang lebih penting daripada sebuah penghargaan adalah proses pembentukan seorang mahasiswa," ucapnya.
Dia melanjutkan, pendidikan kedokteran tidak cukup hanya menghasilkan mahasiswa yang menguasai ilmu kedokteran.
Universitas ingin membentuk calon dokter yang mampu berpikir kritis, melakukan riset, berinovasi, berkomunikasi, memimpin, memiliki integritas, dan menggunakan seluruh kemampuan tersebut untuk melayani masyarakat.
Menurutnya, keberhasilan Tiffney juga mencerminkan pentingnya lingkungan akademik yang memberi mahasiswa kesempatan untuk bertumbuh melampaui ruang kuliah.
“Gagasan Tiffney lahir dari pertemuan antara ilmu kedokteran, penelitian, teknologi, dan persoalan kesehatan yang benar-benar dihadapi masyarakat. Inilah yang ingin terus kami kembangkan di FK UPH: mahasiswa tidak hanya belajar mengenai penyakit dan pengobatan, tetapi belajar melihat masalah, bertanya, meneliti, dan mencari solusi," terangnya.
Fakultas Kedokteran merupakan salah satu dari tiga pilar akademik utama UPH, bersama dengan bidang Hukum dan Bisnis.
Sebagai universitas komprehensif, UPH saat ini memiliki lebih dari 70 program studi di 12 fakultas dengan sekitar 20 ribu mahasiswa.
“Kami percaya masa depan pendidikan kedokteran membutuhkan integrasi yang semakin kuat antara academic medicine, research, dan patient care,” kata Prof. Eka.
UPH Medical Sciences, tambahnya, dibangun sebagai sebuah ekosistem.
Mahasiswa belajar di universitas, berinteraksi dengan penelitian life sciences, dan pada saat yang sama berada dekat dengan dunia pelayanan pasien. Ketiga unsur tersebut harus saling memperkuat.
Pada tahun akademik ini, FK UPH menerima sekitar 250 mahasiswa baru Pendidikan Dokter dari lebih dari 1.000 pendaftar.
Pada jenjang pendidikan dokter spesialis, lebih dari 80 dokter juga diterima untuk mengikuti pendidikan pada berbagai program spesialisasi yang dikembangkan UPH. (esy/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Berbagi Ilmu, Daikin Terima Kunjungan Mahasiswa UPH
Redaktur : Dedi Sofian
Reporter : Mesyia Muhammad




