CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Di balik bentang alam Sulawesi Selatan yang dikenal dengan pegunungan, hutan, dan kawasan karstnya, tersimpan satwa yang keberadaannya tidak ditemukan di wilayah lain. Salah satunya adalah burung Kacamata Makassar (Zosterops anomalus).
Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan menyebut Kacamata Makassar sebagai burung endemik yang hanya bisa dijumpai di Sulawesi Selatan.
Burung berukuran kecil ini juga dikenal masyarakat Makassar dan sekitarnya dengan nama lokal cui-cui.
Kacamata Makassar termasuk kelompok burung kacamata atau white-eye. Namun, ada satu ciri yang membuatnya mudah dibedakan dari kerabatnya.
Jika sebagian besar burung kacamata memiliki lingkaran putih di sekitar mata, Kacamata Makassar justru memiliki lingkar mata berwarna hitam.
Tubuhnya relatif mungil dengan ukuran sekitar 8-15 sentimeter. Burung ini memiliki tenggorokan kuning, perut putih, serta bagian bawah ekor berwarna putih. Kacamata Makassar juga dikenal sebagai burung pemakan serangga.
Habitatnya cukup spesifik. KSDAE mencatat burung ini hidup berkelompok di semak-semak perbukitan, hutan sekunder, dan tepian hutan hingga ketinggian sekitar 1.370 meter di atas permukaan laut.
Salah satu lokasi untuk menjumpainya adalah Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, terutama kawasan hutan Karaenta di Kabupaten Maros. Kawasan tersebut memang menjadi salah satu habitat penting bagi beragam burung endemik Sulawesi Selatan.
Keberadaan Kacamata Makassar juga memperlihatkan betapa uniknya ekosistem Sulawesi Selatan.
Isolasi geografis kawasan Sulawesi selama proses evolusi membuat kelompok burung kacamata berkembang menjadi berbagai jenis dengan perbedaan bentuk, suara, dan karakteristik lainnya.
KSDAE menyebut sedikitnya terdapat 9-10 jenis burung kacamata (Zosterops spp.) di kawasan Sulawesi, termasuk jenis yang hidup di pulau-pulau terisolasi.
Menariknya, Kacamata Makassar bukan burung yang mudah dikenali masyarakat awam. Padahal, suara kicauannya yang khas dan habitatnya yang berada tidak jauh dari kawasan wisata alam membuatnya menjadi salah satu daya tarik bagi pengamat burung.
KSDAE bahkan mencatat seorang penulis buku panduan burung Wallacea, K. David Bishop, pernah datang ke Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung khusus untuk mengamati burung endemik tersebut. Di kawasan Karaenta, Kacamata Makassar akhirnya terlihat dan mengeluarkan kicauan khasnya.
Dalam basis data kawasan karst Sulawesi Selatan yang dikelola KSDAE, Zosterops anomalus juga tercatat sebagai endemik Sulawesi dengan status konservasi Least Concern (LC) berdasarkan data yang dicantumkan dalam dokumen tersebut.
Namun, status tersebut tidak berarti habitatnya boleh diabaikan. Satwa endemik memiliki wilayah persebaran yang terbatas sehingga perubahan lingkungan di habitatnya dapat memberikan dampak besar.
Kacamata Makassar akhirnya menjadi pengingat bahwa kekayaan hayati Sulawesi Selatan tidak selalu hadir dalam bentuk satwa besar yang mudah mencuri perhatian.
Di antara pepohonan dan semak hutan Karaenta, ada burung mungil dengan lingkar mata hitam yang hanya bisa ditemukan di wilayah ini.




