KOMPAS.TV – Lima tahun setelah gaung pertama dibunyikan di Alpha Bravo, Cherrypop tiba di kaki Candi Prambanan dan dipersembahkan oleh Bank BRI, perhelatan kelimanya akan diselenggarakan pada 22 dan 23 Agustus 2026 dengan tema Repelita Musik, kependekan dari Rekreasi, Peristiwa, Lima Tahun Musik.
Istilah “Repelita” membawa gema masa lalu, ketika pembangunan disusun dalam rencana lima tahunan dan masa depan dipercaya dapat ditata melalui tabel, angka, serta pidato panjang. Cherrypop meminjam bunyinya untuk menyusun rencana lain: mengingat manusia, perjumpaan, dan pengalaman yang tumbuh selama lima tahun festival.
Sejak Panic Room, Swasembada Musik, Selamet Bermusik, hingga Gelanggang Musik, Cherrypop konsisten membaca sejarah sosial-politik melalui kebudayaan populer.
Kata-kata besar diturunkan dari mimbar, dibawa ke lapangan, lalu dipertemukan dengan orang-orang yang menonton konser sambil duduk di rumput. Di tangan Cherrypop, sejarah tak hanya tersimpan dalam buku pelajaran. Ia dapat berbunyi melalui gitar yang sumbang, poster yang ditempel miring, kaset yang kusut, dan ribuan pasang kaki yang berderap menuju panggung.
Rekreasi, sebab festival seharusnya terasa seperti liburan. Orang perlu berhenti sejenak dari rutinitas yang makin gaduh, duduk di rerumputan, berjalan tanpa tergesa, dan mendengarkan musik tanpa merasa sedang mengejar sesuatu.
Perpindahan ke kawasan Prambanan menjadi usaha memberi ruang yang lebih lapang bagi pengalaman tersebut. Orang boleh datang untuk band kesukaannya, lalu tersesat menuju pertunjukan yang tak dikenalnya dan pulang membawa kesukaan baru.
Peristiwa, sebab Cherrypop selalu menghendaki dirinya sebagai titik temu. Di sana, subkultur, komunitas, musisi, perupa, sineas, pedagang rilisan, pembuat kaus, penulis, pengarsip, keluarga, dan masyarakat umum saling berpapasan. Musik hanyalah alasan pertama untuk datang.
Setelah itu, segala kemungkinan dapat terjadi: kawan lama ditemukan, kerja sama dimulai, pertengkaran diselesaikan, band dibentuk, gagasan dicatat di belakang tiket, atau cinta tumbuh di dekat penjual makanan dan minuman.
Lima Tahun, sebab usia itu cukup panjang untuk menoleh tanpa kehilangan keberanian berjalan. Ada jejak yang ditinggalkan, kekeliruan yang perlu diakui, pelajaran yang dipungut, serta wajah-wajah yang pernah hadir dan tak lagi ditemukan. Perayaan ini mengingat lima tahun pertama sekaligus membayangkan lima tahun berikutnya.
Seniman kontemporer Andry “Boy” Kurniawan dipercaya mengerjakan wajah visual Repelita Musik. Karya-karyanya dihuni figur berkepala bundar, tubuh kenyal, warna menyala, serta dunia ganjil yang mempertemukan humor, kegelisahan, dan fantasi. Bahasa visual itu sejalan dengan Cherrypop yang gemar mengolah persoalan serius menjadi perayaan pop yang riuh dan mudah didekati.
Press Conference Narasumber Cherrypop 2026 (Sumber: Dok. Moks)Di atas panggung, salah satu peristiwa penting akan hadir melalui Objek Vital Nasional (OVN), proyek perdana yang mempertemukan FSTVLST dan Jenny. Dua riwayat musik dilebur dalam satu tubuh pertunjukan, ditemani puluhan penampil dari berbagai kota, generasi, dan aliran selama dua hari perayaan.
Pada hari pertama, Sabtu, 22 Agustus 2026, FSTVLST akan membawakan set khusus “Paradoks Diametral”, disusul Stars and Rabbit, Majelis Lidah Berduri, NDX AKA, Aftershine, Senyawa, Juicy Luicy, MALIQ & D’Essentials, Never Mind “The” (Kick Jeblogs Skit), ALI, Lipstik Lipsing, Idgitaf, Biru Baru, TheMilo, dan Murphy Radio.
Sejumlah penampil lainnya juga akan meramaikan hari pertama, di antaranya Polka Wars with Alahad, Skandal yang akan tampil beda dengan kolaborasi bersama Fog String Quartet, Dongker, The Panturas, Afterhours, Drizzly, Statelines, Untu, Moctar, Loomers, DARUMA Rollin’, Domikado, In Inertia, Basajan, Teknoshit, Enjoy Drink, dan Pharaoh Southeast Asia.
Sebagai pamungkas hari pertama, The Kick, The Jeblogs, dan The Skit akan meleburkan tiga watak dan tiga riwayat dalam satu pertunjukan bertajuk Never Mind “The”: Generasi Baru Terbakar di Cherrypop.
Pertemuan band asal Kotagede, Klaten, dan Surakarta ini turut melibatkan Ican Harem alias Future Loundry, seniman lintas medium yang selama ini mempertautkan fesyen, subkultur, dan seni pertunjukan melalui praktik busana eksperimental berbasis olah ulang.
Di tangannya, pakaian para musisi diperlakukan sebagai kulit kedua panggung, bergerak mengikuti tubuh dan bunyi, sementara tata visualnya merespons setiap distorsi, cahaya, serta perubahan suasana.
Ketiga band itu akan saling mengambil alih lagu, bertukar personel, dan membaurkan tabiat musikalnya, sedangkan Ican merajut seluruh kegaduhan tersebut menjadi pertunjukan yang dapat didengar, dipandang, sekaligus dikenakan. Pada penghujung malam, batas antara konser, peragaan busana, dan seni pertunjukan dibiarkan terbakar bersama nama-nama mereka.
Hari kedua, Minggu, 23 Agustus 2026, akan dibuka oleh peristiwa musikal OVN, lalu diteruskan oleh Nadin Amizah dan Reality Club yang akan membawakan set album “What Do You Really Know?”.
Selanjutnya, Pandai Besi, Goodnight Electric, Elephant Kind, Perunggu, Sal Priadi, The Adams, Sigmun, Swellow, Eleventwelfth, Kelompok Penerbang Roket, Orkes Pensil Alis, Bleeedrz, Jimi Multihazam dengan set debut album “Mollydenvm”, Alkateri, Domapine, Syrian, Notyourwife, Lostineden, 510, The Bunbury, Strummer Electro, Scantofia, Olski, Kaneyorimasaru, Passive Income, LAUSBUB, Szetroom, Rokaroke, DabWok, dan Noire juga akan tampil.
Nama-nama itu hadir dengan riwayatnya masing-masing. Ada yang tumbuh bersama kaset dan toko rilisan, ada yang lahir ketika lagu cukup dilempar ke internet untuk menemukan pendengarnya. Ada yang telah berjalan puluhan tahun, ada pula yang baru belajar menghadapi cahaya panggung. Selama dua hari, mereka ditempatkan dalam satu garis perjumpaan, tanpa kewajiban untuk terdengar seragam.
Kehadiran LAUSBUB, Kaneyorimasaru, dan DARUMA Rollin’ membawa tiga suara berbeda dari Jepang. LAUSBUB hadir dengan denyut new wave dan elektronik, Kaneyorimasaru memainkan rock yang berakar pada kehidupan anak muda, sementara DARUMA Rollin’ membawa semangat lintas budaya dari perjalanannya di Indonesia.
Cherrypop telah menjalin partnership komprehensif untuk tahun fiskal 2026 dengan Victor Entertainment, sebuah perusahaan yang telah menjadi pendorong kuat dalam skena musik Jepang selama hampir satu abad sejak didirikan.
Sesi Presentasi Cherrypop 2026 oleh Arsita Pindandita - Creative Director (Sumber: Dok. Moks)Partnership ini akan memfasilitasi berbagai inisiatif sepanjang tahun yang mendorong perpaduan antara musik dan budaya Jepang serta Indonesia, termasuk penampilan artis-artis yang bernaung di bawah Victor di Cherrypop. Agustus nanti, bunyi-bunyi baru itu akan tiba di hadapan batu-batu Prambanan, dan tentu saja masa kini berbicara, sementara sejarah diam-diam mendengarkan.
Selain suguhan musik di empat panggung Cherrypop, yaitu Cherry Stage, Nanaba Stage, Yayapa Stage, dan Chili Stage, pengunjung juga dapat menikmati berbagai program area selama festival berlangsung.
Di antaranya Cherry District yang menyediakan merchandise resmi Cherrypop serta merchandise kolaborasi eksklusif bersama sejumlah band penampil dari Cherrymerch. Ada pula Record Store yang menghadirkan berbagai rilisan fisik, mulai dari CD, kaset pita, hingga vinyl, lengkap dengan program Signing Session. Sementara itu, area Cherrykids disiapkan untuk anak-anak dengan beragam kegiatan menarik.
Lalu, ada area Community Corner, area teman-teman komunitas akan berkumpul dan berjejaring, tak hanya itu, akan ada Art Exhibition juga disana. Selanjutnya, ada area Cherry Market yang dipersembahkan oleh Indofood melalui Indomie, Pop Mie, dan Chitato, menghadirkan 50 tenant makanan dan minuman dari brand-brand FnB terkurasi.
Candi Prambanan akan berdiri sebagai saksi. Batu-batunya telah melihat kerajaan tumbuh, cinta dikutuk, kekuasaan berganti, dan manusia terus datang untuk mengabadikan dirinya dalam foto.
Pada Agustus 2026, bangunan itu akan menyaksikan ribuan orang berkumpul karena musik. Sebagian membawa kenangan empat edisi sebelumnya, sebagian baru pertama kali. Mereka berjalan di bawah langit yang sama, mendengarkan lagu yang berbeda-beda, lalu pulang dengan cerita yang tak seluruhnya sanggup dijelaskan.
Lima tahun Cherrypop dapat dibaca sebagai perjalanan mencari bentuk. Dari ruang kecil yang lahir setelah pandemi, ia tumbuh menjadi gelanggang tempat musik, seni, arsip, fesyen, dan persahabatan saling menemukan.
Setiap edisi meninggalkan jejak, kekeliruan, serta pengetahuan yang menjadi bekal untuk melangkah. Usia lima tahun akhirnya bukanlah garis penutup, melainkan sebuah jeda untuk menoleh sebelum membayangkan tahun-tahun berikutnya dengan keberanian yang lebih besar.
Publik kemudian memberi Cherrypop sebuah julukan yang tak pernah kami rancang sebelumnya, yaitu “Lebaran Skena.” Seperti hari raya, orang-orang datang dari berbagai kota untuk bertemu kembali, mengenakan kaus terbaiknya, bertukar kabar, bersalaman dengan kawan lama, dan memaafkan jarak yang selama setahun memisahkan mereka. Musik menjadi alasan berkumpul, sedangkan perjumpaan menjadi sesuatu yang diam-diam paling dirindukan.
Di balik panggung, Cherrypop diam-diam ikut mengubah jalan hidup banyak orang. Ada beberapa mahasiswa yang menamatkan kuliah melalui skripsi tentang festival ini, penonton yang pulang lalu membentuk band, musisi yang kembali mengangkat gitar setelah bertahun-tahun menyerah, serta sukarelawan yang memperoleh pekerjaan dari percakapan singkat di belakang panggung.
Ada yang berfoto pranikah di Cherrypop, ada juga yang berkenalan di tengah kerumunan, berpacaran, lalu menikah dengan tiket festival sebagai mas kawin.
Ada kolektif dari kota kecil yang datang dengan uang bensin hasil patungan, kemudian pulang membawa undangan tur; penjual kaus yang tumbuh menjadi jenama; fotografer amatir yang satu jepretannya membuka jalan menuju pekerjaan; pembuat film yang menyelamatkan sejarah musik kotanya dari kelupaan; serta seorang anak yang akhirnya ditonton orang tuanya di atas panggung setelah bertahun-tahun dianggap hanya bermain-main dengan musik.
Ada pula lagu yang pertama kali dimainkan di Cherrypop lalu direkam menjadi album atau musisi yang nyaris menyerah memperoleh keberanian hanya karena beberapa orang di barisan depan hafal seluruh liriknya. Kisah-kisah itu tak tercetak di poster, tetapi di sanalah Cherrypop menemukan nadinya, yaitu manusia saling menyelamatkan melalui perkara-perkara yang tampak sederhana.
Sebab sejarah musik tak hanya disusun dari daftar album dan nama penampil. Ia ditulis oleh antrean panjang, debu lapangan, pakaian yang basah oleh keringat, obrolan di dekat pagar, serta lagu yang tiba-tiba terdengar ketika seseorang sedang patah hati. Panggung dapat dibongkar, lampu dipadamkan, dan spanduk disimpan di gudang, tetapi peristiwa akan menetap dalam diri mereka yang pernah berada di sana.
Repelita Musik menjadi perayaan sekaligus penanda perjalanan, yaitu cara Cherrypop mengingat lima tahun pertamanya dan mengirim harapan menuju lima tahun berikutnya. Selama orang-orang masih datang untuk saling menemukan, musik akan selalu mempunyai rumah, dan Cherrypop akan terus menjadi hari raya bagi mereka yang sepanjang tahun hidup dari bunyi, pertemanan, dan ingatan.
Karcis Cherrypop 2026 “Repelita Musik” bisa didapatkan melalui www.cherrypop.id atau fasticket.id dan untuk segala informasi terkini bisa dipantau melalui akun Instagram resmi @cherrypopfest.
Penulis : Oviana
Sumber : Kompas TV
- Cherrypop 2026
- Repelita Musik
- Prambanan
- festival musik
- Swasembada Kreasi
- kolaborasi





