jpnn.com, JAKARTA - Perkembangan teknologi membuat konsep smart city kian sering diterapkan dalam pembangunan kawasan. Namun, kota pintar tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi dan infrastruktur.
Aspek sosial dan lingkungan juga menjadi bagian yang harus diperhitungkan agar perkembangan sebuah kawasan tetap berkelanjutan.
BACA JUGA: BPK Ungkap Pekerjaan Rumah Kementerian ESDM di Balik Raihan WTP 2025
Hal itulah yang tak luput dari proyek-proyek Agung Sedayu Group (ASG).
Estate Management Director ASG Restu Mahesa mengatakan prinsip tersebut menjadi bagian dari pengembangan konsep Sustainable Smart City di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK).
BACA JUGA: Pertamina: Pengeboran Masif dan Kolaborasi Teknologi Jadi Kunci Kemandirian Energi RI
Restu membagikan pengalaman soal itu kepada peserta SBM ITB Short Program for International 2026 melalui sesi pembelajaran secara daring.
Menurut Restu, pembangunan kota modern harus berjalan beriringan dengan perhatian terhadap masyarakat dan lingkungan.
BACA JUGA: 5 Startup Binaan Menara Syariah Teken MoU dengan CFX untuk Bangun Ekosistem Bersama
“Kami hari ini mewakili private sector memberikan masukan kepada akademia bagaimana perkembangan mengenai suatu kota yang dibangun dengan sangat modern, tetapi tidak melupakan aspek sosial dan juga aspek lingkungan,” ujar Restu.
Dalam sesi tersebut, peserta diperkenalkan dengan pendekatan pengelolaan kawasan yang menggabungkan teknologi, keberlanjutan lingkungan, dan manajemen kawasan.
Integrasi ketiga unsur tersebut menjadi penting karena pembangunan kawasan tidak berhenti ketika infrastruktur selesai dibangun. Pengelolaan dalam jangka panjang turut menentukan kualitas kehidupan masyarakat yang beraktivitas di dalamnya.
Restu juga memperkenalkan pendekatan community-based tourism dalam pengembangan Sustainable Smart City.
Konsep tersebut menempatkan komunitas sebagai salah satu elemen penting dalam ekosistem kawasan.
Dengan demikian, perkembangan destinasi dan aktivitas ekonomi diharapkan dapat berjalan beriringan dengan kepentingan masyarakat.
Menurut Restu, keberlanjutan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Dunia usaha, pemerintah, akademisi, dan sektor pendidikan memiliki peran masing-masing dalam menghasilkan solusi terhadap tantangan perkotaan.
Oleh karena itu, keterlibatan Agung Sedayu Group dalam program SBM ITB menjadi ruang pertukaran pengalaman antara dunia industri dan akademik.
Pengalaman pengelolaan kawasan dapat menjadi studi praktis bagi peserta. Sebaliknya, dunia akademik dapat memberikan perspektif berbasis riset untuk mendorong inovasi pengembangan kota.
Pertukaran pengetahuan tersebut diharapkan dapat memperkuat pengembangan kawasan yang tidak hanya modern secara fisik, tetapi juga memiliki orientasi keberlanjutan dalam jangka panjang.(ikl/jpnn.com)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Tian Fu Gong PIK, Jaga Warisan Budaya Tak Lekang oleh Zaman dan Keramaian
Redaktur : Friederich Batari
Reporter : Tim Redaksi




