Keluarga mempertanyakan ponsel dan sejumlah barang pribadi milik Sutrimo (42) yang hingga kini tak kunjung dikembalikan setelah ia meninggal dunia. Kondisi tersebut membuat kecurigaan keluarga terhadap kematian Sutrimo semakin bertambah.
Sutrimo disebut bekerja sebagai kepala rumah tangga di kediaman mantan Jampidsus Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah. Ia ditemukan meninggal dunia di depan Klinik Kecantikan Mordent, kawasan Pulo, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Kamis (23/7/2026).
Pengacara keluarga Sutrimo, Aan Rohaeni, mengatakan pada awalnya keluarga tidak menaruh kecurigaan terhadap penyebab kematian Sutrimo. Saat itu, keluarga mendapat informasi bahwa Sutrimo meninggal karena sakit.
"Pertama memang pada saat mereka terima mayat, memang mayat sudah dikafani, sudah bersih dan tidak ada yang mencurigakan. Katanya meninggal karena sakit gula, gulanya sampai 600," ujar Aan, Senin (10/8).
Jenazah Sutrimo kemudian dimakamkan pada Kamis (23/7/2026) di Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
"Jadi langsung dikuburkan di hari yang sama begitu. Maka datang jam 10 malam itu ya langsung dikubur," jelasnya.
Namun, kejanggalan mulai dirasakan keluarga setelah ponsel, dompet, dan sejumlah barang pribadi Sutrimo tak kunjung dikembalikan. Padahal, pengantar jenazah sempat mengatakan barang-barang tersebut akan dikirimkan ke keluarga keesokan harinya.
"Ada empat orang yang nganter, yang dua ngakunya dari ambulans, yang dua dari keamanan. Katanya HP, dompet dan lain-lainnya akan disusulkan, dikirimkan besok. Jadi, pada saat itu tidak ada kecurigaan apa pun," imbuhnya.
Kecurigaan keluarga semakin bertambah setelah pengantar jenazah yang sebelumnya masih dapat dihubungi tiba-tiba tidak bisa dikontak.
"Lalu orang yang nganter jenazah yang HP-nya dulunya kemarin bisa dihubungi, terus ternyata mati. Itu kan janggal," jelas Aan.
Sempat Kirim Foto MakananSelain persoalan barang pribadi, keluarga juga mempertanyakan kondisi Sutrimo sebelum meninggal dunia. Beberapa jam sebelum ditemukan meninggal, Sutrimo masih berkomunikasi dengan keluarganya.
Aan mengatakan, berdasarkan komunikasi yang masih dapat diakses, Sutrimo tidak mengeluhkan kondisi kesehatannya. Saat itu, Sutrimo juga sempat mengirimkan foto makanan kepada keluarga.
"Tidak ada keluhan sakit. Happy-happy saja. Kamis 23 Juli saat jam 03.00 pagi masih kirim foto makanan, ada ayam goreng lalapan, seperti itu ke keluarga. Jam 06.00 adik iparnya kirim pesan, itu terkirim, dibaca, tapi tidak dibalas," ungkapnya.
Namun, sekitar pukul 08.00 WIB, keluarga justru menerima panggilan dari nomor telepon milik Sutrimo. Panggilan tersebut beberapa kali masuk sebelum akhirnya diangkat sekitar pukul 08.30 WIB.
"Eh, tahu-tahu jam 08.00 ada telepon dari nomor HP Sutrimo. Berkali-kali, baru diangkat jam 08.30. Ternyata itu temannya, mengabarkan Pak Sutrimo sudah tidak ada," ungkap Aan.
Berbagai kejanggalan tersebut kemudian mendorong keluarga melaporkan perkara kematian Sutrimo ke Polresta Banyumas. Keluarga berharap penyebab kematian Sutrimo dapat diungkap secara tuntas.
"Berharapnya ini bisa clear ya," kata Aan.





