Tangerang, VIVA – Suzuki masih mengandalkan teknologi mild hybrid pada sejumlah mobilnya di Indonesia, tetapi bukan berarti peluang menggunakan sistem yang lebih tinggi tertutup. Perusahaan mulai mempertimbangkan teknologi strong hybrid dengan melihat kebutuhan konsumen dan perkembangan pasar otomotif nasional.
Marketing & Value Chain 4W Department Head PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), Randy Murdoko mengatakan bahwa penggunaan teknologi elektrifikasi ke depan akan disesuaikan dengan karakter konsumen. Menurutnya, keputusan tersebut tidak bisa hanya melihat perkembangan teknologi, tetapi juga harus mempertimbangkan kondisi pasar dan kebutuhan pengguna.
"Sebetulnya lebih ke karakter konsumen. Kalau kita bicara kota besar memang strong hybrid jadi pilihan yang menarik, apalagi dari sisi penjualan," ujarnya, dikutip VIVA Otomotif Senin 10 Agustus 2026.
Meski demikian, kondisi di kota besar tidak bisa dijadikan satu-satunya pertimbangan. Suzuki memiliki jaringan penjualan dan layanan purnajual yang tersebar luas di Indonesia, termasuk wilayah di luar kota-kota besar.
"Ketika saya keliling pulau terujung dan terujung, akan jauh berbeda dari kota besar. Dan di situ Suzuki masih hadir," katanya.
Karena itu, Suzuki menilai teknologi mild hybrid yang saat ini digunakan masih sesuai dengan kebutuhan konsumen mereka. Sistem tersebut dianggap dapat memberikan efisiensi bahan bakar tanpa membuat biaya kepemilikan dan perawatan menjadi terlalu tinggi.
Randy menjelaskan Suzuki tidak hanya mempertimbangkan harga ketika menentukan teknologi kendaraan. Ketersediaan fasilitas purnajual dan kemampuan jaringan untuk menangani teknologi tersebut juga menjadi bagian dari pertimbangan.
"Biaya kepemilikan juga kami pertimbangkan. Coverage untuk bisa memperbaiki itu juga mesti mumpuni di seluruh wilayah," tuturnya.
Menurut Randy, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Suzuki belum terburu-buru mengganti teknologi mild hybrid dengan strong hybrid. Apalagi, konsumen Suzuki tersebar dari kota besar hingga daerah yang akses terhadap fasilitas purnajualnya berbeda-beda.
Meski begitu, bukan berarti pengembangan teknologi strong hybrid tidak dilakukan. Suzuki terus melakukan survei dan evaluasi untuk mengetahui kebutuhan konsumen, termasuk melalui tim riset yang diturunkan di berbagai kesempatan.
"Belum bisa dibikin secara jelas dan detail, tapi pasti kita consider. Bisa macam-macam, segmentasinya apa, volumenya berapa," kata Randy.





