Kehilangan anak tentu menjadi pengalaman yang tidak mudah dilupakan seorang ibu. Terlebih ketika waktu bersama si kecil begitu singkat. Hal itu dialami seorang ibu bernama Okse Farinanda yang harus kehilangan anak pertamanya, Sagara Gunadipta. Bayinya lahir pada 15 September 2023 dan meninggal dunia dua hari kemudian, tepatnya pada 17 September 2023.
Okse membagikan kisah pilunya itu melalui akun Threads miliknya @oksefarinandaa_. Kepada kumparanMOM, ia juga mengungkapkan peristiwa yang dialaminya itu.
Rutin Kontrol Kehamilan dan Konsumsi VitaminSelama hamil, Okse dan suami rutin melakukan pemeriksaan kehamilan di salah satu dokter yang lokasinya dekat dengan tempat tinggal mereka di sebuah kabupaten di Lampung. Ia juga rutin mengonsumsi vitamin dan susu untuk ibu hamil.
Namun, sejak awal kehamilan, Okse mengalami sakit gigi yang cukup parah. Karena khawatir mengonsumsi obat selama hamil, ia memilih menahan rasa sakit tersebut.
Memasuki usia kehamilan sekitar 7-8 bulan, sakit giginya semakin tidak tertahankan. Saat sedang berada di Bandar Lampung, ia dan suami akhirnya memutuskan memeriksakan kandungannya ke dokter lain.
“Akhirnya kami memutuskan ke dokter kandungan di bandar lampung (beda dengan dokter kami yang biasanya ya). Konon katanya. Dokter ini salah satu dokter paling bagus di kota ini,” tulis Okse.
Di sana, ia menjalani pemeriksaan USG. Hasil pemeriksaan tersebut membuatnya dan suami terkejut. Dokter menyampaikan bahwa berat janinnya masih jauh di bawah ukuran yang diharapkan untuk usia kehamilan dan menyebut janin mengalami kekurangan nutrisi.
“Sakit gigiku ilang seketika. Suamiku pucet,” kenangnya.
Ia kemudian diminta mengejar kenaikan berat badan janin dengan memperhatikan asupan makanan, mengonsumsi susu tinggi protein, serta mendapatkan tambahan kalsium.
Sepulang dari dokter, ia mengaku menangis dan bingung. Di satu sisi, rasa sakit pada giginya masih terasa, sementara di sisi lain ia mulai khawatir dengan kondisi janin yang dikandungnya.
Berusaha Mengejar Berat Badan JaninSelama satu bulan berikutnya, ia dan suami berusaha mengikuti saran yang diberikan. Ia memperbanyak makanan berprotein, mengonsumsi susu, hingga lebih banyak beristirahat.
Ia juga berusaha mengonsumsi es krim sebagai bagian dari upayanya menambah asupan makanan. Bulan berikutnya, ia kembali memeriksakan kandungan. Kali ini, ia memilih dokter lain untuk mendapatkan opini tambahan.
Hasil pemeriksaan kembali menunjukkan bahwa berat janinnya masih rendah. Saat itu, ia mulai menyadari bahwa selama kehamilan, gerakan janinnya memang tidak terlalu sering. Namun, sebagai ibu yang baru pertama kali hamil, ia mengaku belum memahami apakah kondisi tersebut perlu dikhawatirkan.
Ia dan suami kemudian memutuskan mencari pemeriksaan lebih lanjut ke sebuah rumah sakit di Bandar Lampung.
Plasenta Mengalami Pengapuran, Persalinan Harus Segera DilakukanDi rumah sakit tersebut, ia bertemu dengan dokter yang kemudian menangani persalinannya. Dari pemeriksaan, dokter menjelaskan bahwa plasentanya mengalami pengapuran dan jumlah air ketubannya sudah sedikit.
“dr. Azman bilang, ketubanku tinggal dikit. Jadi mau tidak mau harus segera dilahirkan,” ujar Okse.
Menurut penjelasan dokter yang ia terima, kondisi tersebut dapat menghambat aliran nutrisi dan oksigen dari ibu kepada janin. Saat itu usia kehamilannya sudah memasuki sekitar 36 minggu.
Dokter kemudian menyarankan agar bayi segera dilahirkan. Ia dan suami diberi pilihan metode persalinan, tetapi akhirnya memutuskan menjalani operasi caesar.
Hari itu menjadi semakin berat ketika sang suami yang pulang untuk mengambil perlengkapan persalinan dan perlengkapan bayi mengalami kecelakaan di perjalanan. Beruntung, suaminya tidak mengalami luka serius. Mobil mereka hanya mengalami kerusakan di bagian depan.
“Dijalan dia (suamiku) kecelakaan. Tabrakan beruntun. Mungkin dia juga shock dan khawatir. Ditambah, suamiku pemikir berat orangnya. Aku tambah nangis,” ungkapnya.
Malam sebelum persalinan, keluarga pun mulai berkumpul untuk memberikan dukungan. Sang ibu mengaku diliputi rasa takut dan cemas, tetapi berusaha menyerahkan apa yang akan terjadi kepada Tuhan.
Sagara Hanya Bersama Ibu Selama Dua HariPada 15 September 2023, ia menjalani operasi caesar. Sekitar pukul 09.00 pagi, Sagara Gunadipta lahir dengan berat badan 2,2 kilogram dan panjang 47 sentimeter. Ia masih mengingat jelas bagaimana rupa anak pertamanya ketika pertama kali melihatnya.
“Duh masyaAllah, anakku ganteng, bersih, putih. Tapi sayangnya, paru-parunya belum siap,” kenang Okse.
Namun, kebahagiaan itu bercampur dengan kekhawatiran. Sagara lahir pada usia kehamilan 36 minggu dan kondisi paru-parunya belum siap sepenuhnya, sehingga harus mendapatkan perawatan di NICU dengan bantuan sejumlah alat.
Sebelum masuk ruang operasi, sang suami sempat meminta mereka berfoto untuk menjadi kenang-kenangan. Tak pernah terbayangkan oleh keduanya bahwa foto tersebut kelak menjadi salah satu kenangan yang begitu berharga.
Sagara hanya bertahan selama dua hari. Pada 17 September 2023, sang ibu harus menghadapi kehilangan terbesar dalam hidupnya. Meski waktu bersama Sagara begitu singkat, ia memilih untuk mengingat kehadiran anak pertamanya sebagai bagian penting dari perjalanan hidupnya sebagai seorang ibu.
Kisah tersebut juga menjadi pengingat bagi orang tua bahwa pemeriksaan kehamilan, pemantauan pertumbuhan janin, serta komunikasi terbuka dengan tenaga kesehatan merupakan bagian penting selama kehamilan, Moms.





